Kampus di Singapura Konfirmasi Gibran Pernah Kuliah Disana

Published:

Buat yang masih ragu sama ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dengerin nih penjelasan Management Development Institute of Singapore (MDIS), tempat kuliahnya Mas Wapres. MDIS konfirmasi status diploma lanjutan dan gelar Gibran Rakabuming Raka. Langkah ini dilakukan untuk meluruskan riwayat pendidikan Gibran yang diragukan di media sosial.

Pernyataan ini disampaikan oleh Manager PR & Communications MDIS, Gabriel J Tan. “Bapak Gibran Rakabuming Raka adalah mahasiswa penuh waktu di MDIS dari tahun 2007 hingga 2010,” tulisnya. Selama periode itu, Gibran menyelesaikan Diploma Lanjutan. Pendidikan kemudian dilanjutkan untuk memperoleh Bachelor of Science (Honours). “Gelar Sarjana Sains (Honours) di bidang Marketing diberikan oleh mitra universitas kami saat itu, University of Bradford, Inggris,” terang MDIS.

MDIS menegaskan mereka salah satu lembaga profesional nirlaba tertua di Singapura. Mereka berkomitmen membekali mahasiswa dengan keterampilan mutakhir di era dinamis saat ini. “Kami menawarkan pendidikan tinggi yang tangguh dalam lingkungan kondusif. Mahasiswa kami disiapkan menghadapi tantangan ekonomi global.” “Lulusan memiliki keahlian sesuai tuntutan dunia profesional,” lanjut pernyataan itu. MDIS menjelaskan bahwa institusi swasta di Singapura menyelenggarakan pendidikan tinggi melalui kolaborasi dengan universitas luar negeri. Semua diploma dan gelar dari mitra universitas diklaim mengikuti standar akademik ketat. “Kami bangga memberikan pendidikan berkualitas tinggi kepada semua siswa,” tegas MDIS.

Meski begitu, masih ada yang meragukan pernyataan tersebut. Salah satunya Roy Suryo. Roy menyebut MDIS memang kampus lama yang berdiri sejak 1956. Awalnya bernama SAMTAS (Singapore Association of Management and Training for Advanced Studies) lalu berganti MDIS pada 1984. Namun, menurut Roy, kualitas akademiknya tidak bergengsi. “Sekarang MDIS hanya menduduki peringkat ke-46 dari 55 kampus swasta di Singapura. Bahkan tidak muncul di peringkat universitas dunia utama (QS/THE),” ucapnya. Ia menambahkan kampus yang beralamat di 501 Stirling Road itu sering jadi bahan olok-olokan di media sosial. “Kalau dibandingkan dengan Universitas Papua di peringkat 11.814, MDIS lebih rendah, terseok di urutan 17.436,” imbuhnya. Roy menilai klaim MDIS seperti surat kaleng yang tidak jelas sumbernya. Alih-alih menambah kejelasan, hal itu justru memperbesar kecurigaan publik.

Pernyataan Roy soal MDIS perlu dianalisis lebih ilmiah. Benar, MDIS adalah institusi swasta, bukan universitas riset publik besar. Namun klaim bahwa MDIS berada di posisi ke-46 dari 55 kampus swasta di Singapura tidak dapat diverifikasi. Tidak ada lembaga resmi yang merilis daftar semacam itu, sehingga angka tersebut bersifat spekulatif. Klaim lain bahwa MDIS lebih rendah dari Universitas Papua juga menyesatkan. Peringkat global memakai indikator riset yang hanya relevan untuk universitas publik riset. Padahal MDIS sejak awal bukan ditujukan untuk riset, melainkan pendidikan profesional berbasis keterampilan industri.

Keunggulan MDIS ada pada jaringan kerjasama akademik dengan universitas ternama di Inggris, Australia, dan Amerika Serikat. MDIS juga dikenal memberikan akses global bagi mahasiswanya. Jadi ketiadaan MDIS di QS atau THE tidak otomatis menunjukkan rendahnya mutu. Itu lebih pada konsekuensi metodologi ranking yang tidak menilai kekuatan pengajaran vokasional. Fakta ini menegaskan tuduhan Roy rapuh secara ilmiah. Ia menggunakan data tidak valid, membandingkan kategori institusi berbeda, dan mengabaikan mutu non-riset. Dengan demikian, pendidikan Gibran di MDIS sah, terakreditasi, dan tidak bisa dijatuhkan hanya dengan narasi salah kaprah soal ranking. Yuk, bijak dalam bersikap!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img