Kang Dedi Mulyadi Bantu Gereja di Jabar yang Terancam Disita

Published:

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi alias Kang Dedi nih keren banget. Dia janji akan membantu gereja yang rencananya bakal disita Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Permasalahan ini disampein di akun Instagram Kang Dedi @dedimulyadi71 pada Minggu, 10 Agustus lalu.

Sang gembala gereja bernama Paripurna Situmorang cerita tanah gereja itu dijadiin jaminan ke BPR demi dapet pinjaman sebesar 6 miliar rupiah. Cuma sayangnya utang sebesar 6 miliar ga bisa dilunasin. Akhirnya tanah gereja itu terpaksa akan disita pihak Pengadilan Negeri Cianjur pada 20 Agustus mendatang.

Menurut KDM, solusi paling bijak dan efisien adalah melunasi tunggakan hutang. Karena menurut Kang Dedi kalo gereja itu disita, proses pembangunannya pasti jauh lebih rumit dan mahal. Belom beli tanahnya, urus perizinan, dan nggak jarang ada kelompok masyarakat yang ga setuju sehingga berpotensi menimbulkan konflik.

Kang Dedi berjanji nggak akan tinggal diam. Dia akan mengambil peran sebagai fasilitator demi mencari jalan keluarnya. Langkah pertama yang bakal dia lakukan yaitu menggalang dukungan dari para pengusaha dan jemaat Kristen lainnya. Kang Dedi juga berencana mengajak mereka bergotong royong membantu pelunasan gereja.

Sehingga pihak peminjam alias pihak gereja akan mendapatkan haknya dan gereja bisa tetap berdiri sebagai pusat ibadah. Nggak Cuma penggalangan dana, Kang Dedi rencananya akan berkomunikasi dengan pihak pengadilan. Tujuannya buat ajuin permohonan biar proses penyitaan aset gereja bisa ditunda buat sementara waktu. Kang Dedi pun berpesan kepada para jemaat buat tetep lanjut ibadah kayak biasa tanpa mikirin masalah ini.

Kang Dedi tegasin komitmennya buat selamatkan gereja agar terus bisa jadi tempat ibadah bagi para jemaat. Aksi Kang Dedi dalam memelihara toleransi di Jawa Barat bukan Cuma kali ini aja. Saat terjadi perusakan villa yang dipake untuk retreat agama oleh sekelompok orang, Kang Dedi turun tangan.

Ia menyikapi kasus ini dengan tegas dan bijak. Kang Dedi menekankan bahwa perusakan tersebut adalah tindak pidana (melanggar KUHP) dan harus diproses secara hukum. Kang Dedi memastikan proses hukum berjalan cepat dan transparan oleh aparat penegak hukum. Dia kasih ganti rugi sebesar 100 juta dari dana pribadi untuk membantu proses perbaikan villa.

Selain itu, Kang Dedi juga menyalurkan bantuan psikologis (trauma healing) kepada keluarga korban agar mereka bisa pulih secara mental. Pun pas masih menjabat sebagai Bupati Purwakarta, Kang Dedi membentuk Satgas Toleransi Agama/Kepercayaan. Dia juga menerbitkan surat edaran jaminan beribadah. Kang Dedi juga memastikan setiap sekolah menyediakan ruang ibadah sesuai keyakinan masing-masing siswa.

Gacuma Kang Dedi, ada satu pejabat yang juga baru-baru ini memperjuangkan hak umat Kristen untuk beribadah. Dia adalah Bupati Kubu Raya, Kalimantan Barat bernama Sujiwo. Sujiwo menindak tegas para oknum RT, Kepala Desa Kapur, dan Camat Sungai Raya yang udah tandatangan surat penolakan pendirian Gereja Katolik Paroki Santo Agustinus.

Pak Sujiwo bersama forum komunikasi pimpinan daerah (forkopimda) dan DPRD Kubu Raya berjanji akan mengawal berjalannya pembangunan gereja ini. Ketika banyak kepala daerah memilih main aman dengan mengalah pada desakan massa intoleran. Ada segelintir yang justru berdiri tegak membela hak warganya tanpa pandang agama.

Sikap inilah yang ditunjukkan oleh Kang Dedi dan Sujiwo. Tentu saja ini perlu keberanian, untuk berdiri tegak di atas konstitusi. Semoga semakin banyak para kepala daerah toleran yang berani pasang badan buat kaum minoritas ya. Yuk rawat terus toleransi di Indonesia!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img