Kenapa Ada Umat Kristen Menolak Persembahan Natal Disumbangkan buat Palestina?

Published:

Ini ada cerita memprihatinkan dari sebagian umat Kristen di Indonesia. Masak mereka ogah dan protes uang persembahan Natal mereka disumbang buat Palestina? Gimana ceritanya?

Ini semua berawal dari pernyataan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait. Ara yang tahun ini menjadi Ketua Panitia Natal Nasional 2025 menyatakan mereka berencana menyumbangkan persembahan buat rakyat Palestina. Perayaan Natal Nasional itu sendiri melibatkan Persatuan Gereja Indonesia dan Konferensi Wali Gereja Indonesia. Rencananya akan diadakan pada 5 Januari 2026 di Stadion Tenis Indoor Senayan. Ara bilang rencana ini sudah diketahui Presiden Prabowo dan kegiatannya mengikuti arahan presiden. Ara bilang, sebagian persembahan Natal pada acara itu akan disalurkan sebagai dukungan misi perdamaian Palestina. Di acara itu sendiri Duta Besar Palestina akan diundang.

Ini sebenarnya keren banget sih. Bayangkan kalau umat Islam sampai melihat bahwa umat Kristen bersedia menyumbangkan donasi Natal buat orang Palestina yang memang mayoritas beragama Islam. Ini kan bisa membantah sebagian umat Islam yang nyinyir bilang, Kristen adalah musuh Islam. Ini kan menunjukkan kemuliaan ajaran Kristen. Ara sendiri menegaskan, ini soal kemanusiaan, bukan agama. “Palestina adalah soal kemanusiaan,” ujarnya. Indonesia ingin menunjukkan dukungan kemanusiaan internasional.

Tapi sayangnya, banyak umat Kristen yang tidak setuju. Postingan Tiktok @kompas.one tentang rencana ini dikasih judul: “Sebagian umat kristiani ogah menyumbang ke Palestina: Negara sendiri saja belum beres.” Dikabarkan, banyak Netizen Kristen protes. “Gereja kami dibakar, ibadah takut, sekarang uang persembahan mau diambil buat Palestina?” kata seorang netizen. “Itu hak gereja, bukan hak pemerintah. Papua bagaimana? NTT bagaimana?” Tulis yang lain. Ada juga komentar: “Natal haram, duitnya nggak haram?” Tiktoker @gustavpaatdua juga sampaikan protesnya: “Kenapa nggak ke rakyat Indonesia?” Ia menyebut banyak daerah timur sulit air, listrik, layanan kesehatan.

Respons semacam ini bisa dipahami, tapi juga memprihatinkan. Bahwa di Indonesia, ada orang-orang Islam yang memusuhi Kristen, sih benar belaka. Tapi itu kan tidak bisa digeneralisasi ke semua umat Islam, apalagi yang di Palestina? Rencana persembahan ini lahir dari niat kemanusiaan. Agama Kristen kan mengajarkan rasa kasih, nilai-nilai kemanusiaan bukan saja untuk sesama umat Kristen, tapi juga pada umat beragama lain, termasuk Islam. Tuhan adalah Tuhan semua umat manusia, bukan hanya untuk segolongan orang saja.

Apa yang terjadi di Palestina adalah tragedi luar biasa bagi umat manusia. Selama dua tahun terakhir, lebih dari 60 ribu orang tewas, ratusan ribu luka-luka, dan kehilangan tempat tinggal, rumah sakit, sekolah yang habis digempur Israel. Bahkan umat Kristen di Palestina turut menjadi korban. Penderitaan Palestina jauh lebih besar dari penderitaan orang-orang Indonesia. Karena itu, wajar bila Ara merasa sebaiknya umat Kristen di Indonesia menyebarkan solidaritas kepada orang-orang Palestina.

Keputusan di Perayaan Natal Nasional ini juga bukan instruksi wajib ke semua gereja lokal. Panitia hanya mengajak, bukan memaksa. Gereja lokal tetap punya otonomi mengelola persembahan dan kolekte masing-masing. Kepedulian untuk memprioritaskan masalah dalam negeri itu memang sah. Tapi tanggung jawab lokal dan nasional itu tidak mesti meniadakan solidaritas global. Keduanya bisa berjalan beriringan. Dialog terbuka antara gereja lokal, PGI, KWI, panitia, dan jemaat perlu dilakukan.

Kami di Gerakan PIS percaya bahwa kemanusiaan tidak punya pagar. Membela sesama, baik di Palestina, Papua atau Nigeria, adalah bagian dari nurani utuh. Wajar jika umat Kristen bertanya: “Kenapa persembahan Natal harus disebarkan jauh ke Palestina, padahal di sini masih banyak gereja rusak dan rakyat kecil yang butuh?” Pertanyaan itu cermin rasa kemanusiaan yang tinggi. Tapi Palestina bukan isu agama. Ada Muslim, umat Kristen, atau juga warga Yahudi yang menderita. Semua menjadi korban, bukan karena agamanya, tapi karena mereka berada di wilayah yang berusaha dirampas karena ketamakan kekuasaan.

Menolong Palestina dan menolong Indonesia perlu dilakukan karena Tuhan mengajarkan umat untuk selalu punya rasa kasih dalam solidaritas kemanusiaan. Solidaritas tidak mengenal jarak, tetapi mengenal kasih dan keadilan. Jika bisa membantu yang jauh dan yang dekat, mengapa harus memilih salah satu? Yuk nyatakan solidaritas kita kepada mereka yang membutuhkan!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img