Gusdurian Mojokerto ini keren banget deh. Dalam rangka peringatan Hari Toleransi Internasional, mereka adakan acara di gereja, tepatnya di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Mojokerto. Tak hanya itu, mereka juga menampilkan lantunan sholawatan di acara itu. Acara diadakan pada 16 November 2025 lalu. Kegiatan ini menjadi contoh nyata bahwa toleransi bisa dirayakan dengan damai. Peserta dari berbagai agama datang ke gereja dan disambut hangat oleh panitia serta jemaat GKI Mojokerto.
Tema acara “Agama untuk Alam” menegaskan bahwa spiritualitas dan kelestarian bumi saling terkait. Generasi muda diajak menyadari bahwa iman juga mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan. Gereja menjadi ruang perjumpaan tanpa sekat bagi seluruh peserta. Perwakilan berbagai agama duduk berdampingan dengan nyaman. Suasana ramah, hangat, dan saling menghormati langsung terasa sejak acara dimulai. Kegiatan dibuka dengan refleksi bersama yang dipandu tokoh lintas agama.
Acara ini membuktikan bahwa toleransi dapat dihidupkan, bukan hanya diucapkan. Tradisi lintas agama hadir berdampingan tanpa gesekan. Jemaat Kristen menerima kehadiran umat Islam dengan kedewasaan yang menghangatkan hati. Perbedaan keyakinan tidak menghalangi terbangunnya kebersamaan yang tulus. Seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan antusias dan keterbukaan. Tokoh lintas agama menyampaikan pandangan menyejukkan tentang alam sebagai amanah Tuhan. Gereja menjadi ruang aman untuk dialog kemanusiaan dan lingkungan. Dialog berlangsung setara tanpa dominasi satu agama. Peserta saling mendengarkan dengan rendah hati dan penuh penghormatan.
Semangat moderasi beragama terasa kuat sepanjang acara. Musik dan ekspresi spiritual lintas tradisi memperindah suasana. Pemuda lintas agama hadir dengan penuh semangat menjaga kerukunan. Pertemuan ini membantu mengikis stigma antaragama yang masih ada. Gusdurian melanjutkan ajaran Gus Dur tentang kemanusiaan dan pluralisme. Nilai “memanusiakan manusia” tampak dalam sikap para peserta. Pesan Gus Dur tentang keberagaman sebagai kekuatan makin terasa nyata.
Tempat ibadah seperti gereja, masjid, vihara, dipahami sebagai ruang suci yang harus dijaga bersama. Prinsip bahwa keberagaman adalah anugerah Tuhan kembali ditegaskan. Acara ini mengingatkan bahwa Indonesia berdiri di atas persatuan dalam perbedaan. Menjelang akhir, digelar tasyakuran atas gelar Pahlawan Nasional bagi Gus Dur. Suasana tasyakuran berlangsung khidmat dan penuh rasa syukur. Gus Dur dipandang sebagai simbol kerukunan yang menginspirasi semua peserta. Kegiatan ini membuktikan bahwa ajaran Gus Dur tetap hidup dalam gerakan Gusdurian.
Generasi muda mendapatkan pengalaman toleransi secara langsung. Peserta menyadari bahwa menjaga bumi adalah bagian dari ibadah universal. Dialog lintas agama menjadi investasi moral bagi masa depan Indonesia. Perjumpaan yang adem dan hangat menunjukkan bahwa kerukunan dapat dibangun dari interaksi sederhana. Acara ini menegaskan bahwa keberagaman dapat menjadi anugerah bila dirawat bersama.
Banyak peserta berharap kegiatan seperti ini digelar di lebih banyak tempat ibadah. Semoga semangat Gusdurian menginspirasi masyarakat untuk menjaga toleransi. Jaga terus toleransi di Indonesia!


