Sikap intoleran bapak ini sudah kelewat batas banget! Dia sholat di teras Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Pintu Elok Nanga Pinoh, Kalimantan Barat. Kejadian ini disebut terjadi pada 27 Desember. Momen ini bisa dilihat di akun tiktok @stevieweringkukly, 30 Desember lalu.
Dalam rekaman itu, si bapak terlihat sholat tepat di teras gereja. Bukan sholat pelan-pelan, tapi dengan takbir keras, seolah-olah lagi jadi imam sholat berjamaah. Bahkan sebelum mulai, dia juga mengumandangkan iqamah dengan suara lantang. Seakan-akan ngajak umat Islam lain buat sholat di situ.
Pemilik akun TikTok yang nge-post video itu mengaku awalnya berusaha berpikir positif. “Mungkin masjidnya penuh, jadi bapak ini nggak kebagian tempat,” katanya. Tapi dia juga bilang, secara umum, orang Islam berdoa di mana saja jarang dipermasalahkan. Ironisnya, lanjut dia, orang Kristen doa di rumah sendiri aja kadang masih dibubarin. “Apa sebenarnya yang harus kita katakan? Kalau dibiarkan makin menjadi, tapi kalau ditegur justru nanti jadi masalah” katanya frustrasi.
Netizen pun ramai-ramai berkomentar. “Apa beliau tidak yakin dengan agamanya sendiri?” tulis seorang netizen. “Sebenarnya dia mau ikut ibadah Natal tapi gengsi” tulis netizen lain. “Kemarin liat postingan yg depan candi, sekarang depan gereja hahaha” tulis yang lain.
Apa yang dilakukan laki-laki tersebut dengan sengaja sholat di teras gereja jelas tidak bisa dibenarkan. Ini bukan soal ibadahnya, tapi tempat dan niat di balik tindakannya. Gereja adalah rumah ibadah umat Kristiani, sama seperti masjid bagi umat Islam. Setiap agama punya ruang sakral yang wajib dihormati. Kalau tujuannya benar-benar mau ibadah, masjid banyak, mushola ada di mana-mana. Nggak ada alasan logis harus sholat di teras gereja, kecuali mau cari perhatian, provokasi, atau pamer sikap. Ibadah itu harusnya bikin tenang dan damai, bukan jadi alat buat nantang atau nyulut konflik.
Sebelumnya, juga ada sekelompok orang melakukan dzikir dan doa bersama di kawasan Candi Prambanan, Yogyakarta. Bukan dzikir pelan atau dalam hati, tapi pakai suara keras. Sekitar 11–12 orang duduk berjajar di pelataran Candi Prambanan buat dzikir “la ilaha ilallah” Pertanyaannya: ngapain dzikir di candi umat Hindu? Selain mengganggu wisatawan, ini juga tidak menghormati ruang sakral agama lain. Candi Prambanan adalah situs bersejarah dan tempat suci umat Hindu.
Secara historis, candi ini dibangun untuk pemujaan Dewa Siwa, Brahma, dan Wisnu (Trimurti). Jadi jelas, ini bukan ruang ibadah lintas agama. Bahkan dilihat dari etika publik saja, tindakan ini sudah keliru. Wisatawan datang ke sana buat belajar sejarah dan menikmati budaya. Bukan buat denger ritual agama lain dengan suara mencolok.
Jadi sebenernya, oknum-oknum ini lagi ngapain sih? Tindakan kayak gini justru mencederai nilai Islam itu sendiri yang mengajarkan adab dan saling menghormati. Mengganggu atau merendahkan ruang ibadah agama lain bukan sikap beriman, tapi sikap arogan. Jelas itu adalah contoh yang buruk bagi generasi Islam berikutnya. Jika umat Islam ingin jadi pemimpin dunia, sudah seharusnya umat Islam bertindak lebih toleran terhadap umat lain. Yukk jadi umat Islam yang berakal sehat!


