Konten Anomali Bahaya Buat Perkembangan Otak Anak?

Published:

Pernah denger atau lihat konten “tung-tung-tung sahur”? Itu tuh karakter aneh buatan AI yang bentuknya kayak kentongan, tapi bisa hidup dan gerak-gerak kayak manusia. “tung-tung-tung sahur” itu salah satu konten anomali. Kenapa disebut begitu, ya karena absurd. Mulai dari bentuknya, jalan cerita, dan logikanya yang nggak nyambung. Awalnya sih keliatan lucu dan viral di media sosial. Tapi, ternyata konten kayak gini dianggap berbahaya banget buat anak-anak.

Ini disampaikan akun Instagram @nadyanayas, tanggal 20 Mei lalu. Kata Nadya, konten anomali kayak “tung-tung sahur”, “terala-lero”, atau “terala-lala” itu bisa bikin anak-anak atau remaja ngalamain brain rot. Brain rot itu istilah buat kondisi di mana fungsi otak jadi melemah gara-gara kebanyakan nonton konten yang nggak ada faedahnya, berulang-ulang, dan nggak bermakna. Biasanya sih berupa video pendek absurd, meme aneh, atau animasi random yang rame banget di TikTok dan YouTube Shorts. “Anak yang tadinya udah paham kalau cappuccino itu minuman kopi, terus sekarang dia lihat konten ini dan jadi bingung,” kata Nadya. Kok cappuccino bisa balet, bisa punya anak, bisa nikah, dan lain-lain?” lanjutnya. Nah, dari situ anak-anak bisa kehilangan logika dasar tentang dunia nyata.

Kegelisahan yang sama juga disampaikan konten kreator @ikmahr di Tiktok pada 7 Mei lalu. Ikma bilang, kalau anak terus-terusan nonton hal kayak gini, dampaknya akan serius. Kemampuan berpikir kritis anak akan turun. Anak-anak jadi nggak paham lagi mana yang wajar untuk dilihat dan mana yang nggak wajar. Tontonan itu juga bisa mengendap di alam bawah sadar mereka dan terus teringat. Bahkan bikin anak ngerasa dunia ini penuh dengan hal-hal seperti itu.

Buat yang belum tau, karakter anomali di Tiktok dibuat sama akun TikTok bernama Noxa. Total sudah 29 juta kali yang like semua konten yang diposting akun ini. Konten yang dibikin akun ini bentuk aneh-aneh. Gabungan dari dua entitas. Ada gabungan makanan atau minuman dengan hewan. Ada juga gabungan hewan dengan kendaraan. Dan ada juga gabungan benda dengan benda. Misalnya, buaya dengan pesawat, monyet dengan pisang, manusia dengan gelas berisikan kopi, dan lainnya.

Terus ada juga tren yang namanya Brainrot Italian. Konten ini juga dibikin pake AI. Produknya gambar hewan gabungan sama tumbuhan, barang, atau bahkan bagian tubuh manusia. Salah satu yang terkenal tuh: Bombardiro Crocodilo, gabungan antara buaya sama pesawat tempur. Konten anomali juga menyasar tokoh terkenal di Indonesia seperti yang dilakuin akun Instagram Kementerian Kegelapan. Akun itu yang bikin karakter anomali seperti “Prabowono Subiantono” dan “Lil lil Bahlil” tanpa menjelaskan konteks siapa yang dimaksud dalam konten anomali itu. Video konten anomali akun itu udah ditonton 3,1 juta kali.

Menurut psikolog anak dan remaja, Mutia Aprilia, konten anomali sekarang gampang banget ditemuin di berbagai platform, dari kartun sampai games. Anak-anak SD banyak yang suka karena dianggap lucu. Tapi, buat orang dewasa keliatan aneh dan nggak masuk akal. Mutia tekanin ke orangtua buat selalu kasih pendampingan ke anak biar nggak terpapar bahaya dari konten anomali atau hal lain serupa saat pakai gadget. Tapi Mutia nggak melarang kalau orangtua mau mengenalkan konten anomali itu ke anak. “Jadi orangtua menyeleksi dulu mana yang dirasa bisa untuk ditonton,” katanya. Kalo dirasa nggak sesuai dengan value, boleh untuk dilarang.

Ini jadi PR besar buat para orangtua. Orangtua harus mengawasi dengan ketat tontonan anak-anak di media sosial dan platform digital. Juga mendampingi anak saat menonton untuk kasih penjelasan yang tepat. Yuk, awasi dan damping tumbuh kembang anak!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img