Luar Biasa, Umat Gereja Katolik Salatiga bagi-bagi Takjil, Bukti Toleransi emang Hidup

Published:

Melihat antarumat beragama saling toleransi, apalagi saat bulan Ramadhan, rasanya adem banget yaa. Februari tahun ini tuh kerasa spesial banget, soalnya momen lintas agama numpuk jadi satu. Ada Tahun Baru Imlek, awal Ramadan, sampai masa Prapaskah (Rabu Abu). Vibes-nya berasa damai kalau lihat banyak yang saling respect. Kalau masih ada yang bilang beda agama bikin jarak, coba deh lihat Ramadan tahun ini.

Salah satu contoh toleransi yang bikin adem tahun ini datang dari Salatiga, Jawa Tengah. Selama bulan suci Ramadan, umat Gereja Katolik Santo Paulus Miki rutin bagi-bagi 100 paket takjil gratis tiap hari buat pengguna jalan jelang buka puasa. Momen ini bisa dilihat di akun instagram @kompastv, 23 Februari lalu. Dalam video itu terlihat para pemuda gereja turun langsung ke jalan buat bagiin takjil. Kegiatan ini ternyata bukan baru kemarin sore, lho. Mereka udah konsisten ngelakuin ini sejak 2015. Takjil yang dibagiin itu hasil sumbangan Orang Muda Katolik Salatiga. Dan yang turun ke lapangan kebanyakan pemuda gereja serta komunitas mahasiswa Katolik. Jadi ini bukan cuma aksi sosial biasa, tapi juga bentuk nyata toleransi dan rasa hormat ke umat Muslim yang lagi puasa. Harapannya simpel: hubungan antaragama di Salatiga makin erat.

Emang sih, Salatiga udah lama dikenal sebagai salah satu kota dengan tingkat toleransi yang oke banget di Indonesia. Masyarakat melihat ini sebagai salah satu bentuk nyata toleransi beragama di kehidupan sehari-hari di Salatiga. Netizen pun ramai-ramai berkomentar. “Semarang, Solo, Salatiga mah jangan ditanya toleransinya” tulis seorang netizen. “Inilah Indonesia yang sesungguhnya begitu indah… Aku bangga menjadi warga negara Indonesia” tulis netizen lain. “Malu banget sih muslim yang ga punya toleransi terhadap agama lain” tulis yang lain.

Tapii.. ternyata kegiatan seperti ini nggak cuma ada di Salatiga lhoo. Di Surabaya, komunitas warga India juga ikut bagi-bagi takjil di kawasan GOR Hayam Wuruk. Padahal banyak dari mereka bukan Muslim. Mereka ngelakuin itu sebagai bentuk kepedulian sosial dan rasa hormat ke Ramadan. Di Surakarta (Solo), Panitia Imlek Bersama bareng Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Solo Raya juga ngadain pembagian takjil yang digabung sama perayaan Imlek. Jadi perayaan budaya Tionghoa bisa jalan bareng sama momen ibadah Ramadan. Harmonis banget nggak sih?

Di tengah suasana yang sering kali mudah dipanaskan oleh perbedaan, justru kita melihat banyak sekali contoh nyata bagaimana masyarakat memilih untuk saling menghormati. Bukan cuma sekadar ucapan, tapi diwujudkan lewat aksi. Yang bikin adem, ini bukan dilakukan oleh satu kelompok saja. Mereka mungkin nggak berpuasa, tapi mereka paham bahwa Ramadan adalah momen sakral. Itu yang bikin Ramadan terasa bukan hanya milik satu golongan, tapi jadi momen kebersamaan sebagai bangsa.

Keberagaman di Indonesia memang bukan hal baru, tapi melihatnya terus dirawat seperti ini rasanya tetap membanggakan. Di saat sebagian orang sibuk memperbesar perbedaan, banyak masyarakat justru memilih memperluas ruang persaudaraan. Mereka menunjukkan bahwa toleransi itu bukan teori, tapi praktik sehari-hari di jalanan, di rumah ibadah, di lingkungan sekitar kita. Momen-momen seperti ini bikin kita sadar bahwa Indonesia itu indah justru karena warnanya banyak. Perbedaan keyakinan tidak menghalangi orang untuk berbuat baik. Justru dari perbedaan itulah muncul kesempatan untuk saling memahami lebih dalam.

Yuk jaga terus keberagaman di Indonesia!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img