Lurah Manggarai Selatan Jadi Korban Amuk Massa Pendemo DPR

Published:

Disangka anggota DPR, Lurah Manggarai Selatan, Muhammad Sidik dan sopirnya jadi sasaran amuk massa pendemo DPR. Mobilnya dibakar, Sidik dan sopirnyapun babak belur dipukuli massa. Kejadian bermula saat Muhammad Sidik dan supirnya melintas di jalan S. Parman sepulang dari kantornya. Saat berada di bundaran Slipi, sejumlah massa teriak-teriak kalau mobil yang dibawa Sidik adalah mobil anggota DPR. Sidikpun panik, tapi sempat ditenangkan oleh supirnya. Sidik kemudian menurunkan kaca mobilnya, sambil menjelaskan kalau dirinya adalah seorang lurah. Tapi di saat bersamaan, massa justru mulai memecahkan kaca mobil. Sidik akhirnya keluar mobil untuk menjelaskan identitasnya, namun tetap diserang massa. Sopirnya juga jadi sasaran amukan. Keduanya akhirnya lari ke gang untuk menyelamatkan diri. Sementara mobilnya jadi hancur, semua kacanya pecah, bodinya pun ringsek. Tak sebatas itu, HP Sidik dijarah, dompet dan barang pribadi lainnya lenyap.

Tindakan anarkis para pendemo adalah tindakan yang tidak bisa ditolerir. Bahkan sudah menjurus pada tindakan pidana. Dan ini jelas, tindakan itu sudah keluar dari prinsip-prinsip demokrasi. Demo di DPR pada 25 Agustus 2025 lalu emang berujung rusuh. Demontrasi mulai memanas saat melewati siang hari. Massa dan aparat saling dorong, sejumlah massa yang lainnya bahkan melakukan pelemparan kepada para petugas. Polisipun kemudian berupaya memukul mundur para pendemo, dengan menembakkan gas air mata. Tapi massa tidak menyerah, justru mereka menyebar ke beberpa sisi gedung DPR, termasuk ke Derbang Pancasila di bagian belakang gedung. Saat diguyur hujan, mereka pun tidak menyerah. Tetap berkumpul mengelilingi gedung DPR sambil meneriakkan aspirasi mereka untuk membubarkan DPR. Massa baru membubarkan diri menjelang tengah malam.

Demo ini digelar sejumlah elemen masyarakat sipil, mahasiswa, sampai buruh. Mereka menolak tunjangan fantastis anggota DPR, sampai kritik ke DPR yang dianggap nggak becus ngurus rakyat. Massa merasa DPR lebih sibuk mikirin kepentingan sendiri ketimbang rakyat. Di saat rakyat kesulitan ekonomi, mereka justru mendapat tambahan tunjangan rumah sebesar 50 juta perbulan. Yang bikin miris, mereka berjoged-joged menyambut pengumuman itu di Sidang Tahunan DPR/MPR. Jelas saja perilaku itu mengundang kecaman banyak masyarakat dan netizen. Sampai akhirnya banyak elemen masyarakat massa memutuskan melakukan demo pada 25 Aguutus tersebut.

Sebagai sebuah penyaluiran aspirasi, demontrasi tentu saja sah dilakukan. Bahkan penting banget buat ngingetin wakil rakyat supaya nggak kebablasan. Tapi demontrasi yang disertai tindakan anarkis, jelas tidak benar. Bahkan tindakan itu bisa mengaburkan pesan aspirasi yang mereka sampaikan. Orang jadi mikir, “Ini beneran aksi rakyat atau cuma mau bikin kerusuhan?” Simpati publik yang tadinya mendukung pun jadi menguap. Karena nggak ada yang bisa terima kekerasan. Demo itu harusnya cerdas, terukur, dan beradab. Biar pesan nyampe, bukan malah bikin repot orang lain. Marah ke DPR itu hak rakyat, tapi melakukan tindakan anarkis apalagi salah sasaran, sama sekali nggak bisa dibenarkan. Yukk salurkan aspirasi dengan cara beradab!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img