Malaysia Klaim Pacu Jalur, Kebiasaan Lama Kambuh Lagi

Published:

Ya ampun, Malaysia ngaku-ngaku budaya kita lagi nih… Terbaru, netizen Malaysia ngaku-ngaku Pacu Jalur sebagai budaya mereka! Padahal, Pacu Jalur itu budaya yang udah berlangsung turun-temurun di Kuantan Singingi, Riau. Untungnya, netizen Indonesia langsung pasang badan nggak terima budaya kita diaku-akuin. Klaim netizen Malaysia soal Pacu Jalur berawal dari video Pacu Jalur yang viral banget di media sosial.

Dalam video itu, tampak anak belasan tahun dengan pakaian adat yang khas berdiri di ujung perahu sambil menari-nari. Nah, anak itu bikin netizen pada kagum, termasuk netizen luar negeri. Tapi di tengah kekaguman itu, ada aja netizen Malaysia yang komen Pacu Jalur milik Malaysia. “Pacu Jalur berasal dari Malaysia sejak tahun 50 an sudah berjaya,” komen netizen Malaysia. “Hmmm… Malaysia punye tuh Pacu Jalur,” komen yang lain. “pacu jalur form Malaysia,” komen lainnya. “it’s called pacu jalur originated from Malaysia,” timpal yang lain.

Kepala Dinas Pariwisata Riau, Roni Rakhmat, langsung kasih klarifikasi soal klaim netizen Malaysia itu. Dia bilang Pacu Jalur itu berasal dari Kuantan Singingi, Riau. “Pacu Jalur juga sudah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda sejak 2014,” katanya. Memang sih, budaya Riau dan budaya Malaysia mirip-mirip karena sesama rumpun Melayu. Tapi masa iya tiap yang mirip langsung diakuin? Ya nggak gitu juga lah!

Gubernur Riau, Abdul Wahid, juga ikutan buka suara. Katanya Pacu Jalur itu udah ada dari abad ke-17, bukan budaya yang viral kemarin sore. “Pada zaman Belanda, tradisi ini udah dipakai buat perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina tahun 1890,” katanya. Jadi, ini bukan tradisi bikinan generasi TikTok ya, bestie. Buat yang belum tahu, Pacu Jalur adalah lomba perahu panjang yang digelar tiap tahun di Sungai Kuantan.

Panjang perahunya bisa sampai 40 meter, isinya puluhan pendayung. Di bagian depan ada satu anak belasan tahun yang berdiri sambil menari. Bukan asal nari, loh. Itu bagian dari ritual yang disebut Togak Luan. Anak ini semacam maskot dan penyemangat tim, jadi harus punya aura khusus. Salah satu anak yang menari itu bernama Rayyan Arkan Dikha. Dia diangkat jadi Duta Pariwisata Riau 2025 karena viralnya tariannya.

Perahunya juga dihias meriah banget, kayak kapal festival. Nggak cuma lomba, tapi juga ajang silaturahmi antar kampung. Bahkan katanya kalau ada perselisihan antar warga, bisa diselesaikan lewat Pacu Jalur. Filosofinya kuat: kerjasama, kekompakan, kehormatan. Pacu jalur biasa dilombakan ketika hari besar Islam. Tapi belakangan, pacu jalur jadi event nasional menjelang Hari Kemerdekaan RI.

Pacu Jalur lagi diperjuangkan buat masuk UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia. Tahun 2022 Pacu Jalur sempat jadi Google Doodle pas HUT RI. Google aja tahu itu budaya Indonesia, masa Malaysia ngotot bilang punya mereka? Kalo ditarik mundur, ini bukan kali pertama budaya Indonesia yang diklaim Malaysia. Sebelumnya, Malaysia pernah klaim batik itu budaya mereka. Padahal UNESCO udah sahkan itu bagian dari budaya Indonesia.

Angklung juga sempat diakui, walau akhirnya tetap kita yang diakui. Lalu reog Ponorogo yang sempat heboh juga diklaim Malaysia. Dan paling sering disebut: rendang. Menurut Malaysia, rendang mirip kuliner mereka. Kalo mirip, ya pasti mirip lah. Tapi kan bukan berarti langsung nge-klaim itu milik mereka.

Netizen Indonesia pun gerah. “Malaysia hobi banget ya ngeklaim?” komen netizen. Untungnya, ada juga netizen Malaysia yang waras. Dia bilang, kalau bukan budaya kita, ya jangan ngaku-ngaku. Jadi plis, sebelum netizen Malaysia asal klaim, mending mereka belajar sejarah dulu, ya. Karena jelas banget: Pacu Jalur itu berasal dari Kuantan Singingi.

Tradisi ratusan tahun, bukan konten dadakan. Bukan juga budaya copy-paste dari negeri sebelah. Kita dan Malaysia memang serumpun. Tapi bukan berarti mereka bebas mengklaim budaya kita seenaknya. Pacu Jalur punya Indonesia. Titik, no debate!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img