Kali ini kita harus belajar toleransi beragama dari Papua. Umat Islam di Papua telah menunjukkan bagaimana toleransi beragama dijalankan. Mereka tidak melakukannya hanya dengan kata-kata, tapi dengan tindakan nyata. Pada malam Natal, 24 Desember 2025, Masjid Agung Al-Aqsha Sentani menunjukkan teladan toleransi. Aksi toleransi itu dibagikan melalui sebuah video di akun Instagram resmi Dewan Kemakmuran Masjid, Masjid Al-Aqsha Sentani.
Masjid tersebut menyediakan lahan parkir bagi jemaat gereja yang beribadah Natal. Air minum juga disiapkan bagi umat Kristen yang datang beribadah. Inisiatif ini dilakukan oleh DKM Masjid Agung Al-Aqsha Sentani, sebagai bentuk penghormatan antarumat beragama. Fasilitas parkir membantu mengurai kepadatan kendaraan di sekitar gereja. Masyarakat di sekitar gereja bisa melakukan aktivitas tanpa kendala.
Apa yang terjadi di Papua itu menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk saling membantu. Muslim di Sentani Papua telah mengamalkan toleransi melalui tindakan, bukan hanya slogan. Tindakan yang terlihat sederhana itu sungguh sangat berarti. Mengingat masih ada saja sekelompok orang yang melakukan tindakan intoleran.
Mereka melarang ucapan dan perayaan Natal dilakukan oleh umat Islam. Bahkan sampai ada yang tega menyebarkan hoax larangan ucapan Natal, yang diklaim sebagai fatwa MUI tahun 1981. Padahal yang dilarang di sana adalah perayaan bersama yang berisi peribadatan di dalamnya. Karena itulah, toleransi yang ditunjukkan oleh masyarakat Muslim di Sentani Papua itu sangat penting. Menghormati umat beragama lain tidak berarti mencampuradukkan akidah. Toleransi justru menjaga ruang aman bagi semua pihak.
Tayangan video itu menuai respons positif dari netizen. Misalnya akun Dncyt98, dia menulis, “Indahnya toleransi.” Pernyataan ini adalah bentuk pujian terhadap kerukunan yang terjalin di Sentani Papua itu. Realvhan_91 menulis, “Keren luar biasa.” Komentar dengan nada serupa merupakan mayoritas dalam postingan tersebut. Sementara Nazriemz berkomentar, “Tidak harus mengucapkan selamat dan merayakan, ini bentuk toleransi paling tepat.”
Komentar ini menggarisbawahi, bahwa tindakan nyata jauh lebih berarti daripada sekadar basa-basi. Karena harus diakui, sebagian orang masih ingin berhati-hati dalam menyikapi perayaan Natal. Mereka tidak ingin ucapan atau merayakan Natal malah dikategorikan merusak akidah. Di sisi lain, mereka juga turut berbahagia dan ingin tetap bersikap toleran. Secara umum, respons netizen sangat positif dan memberikan apresiasi.
Warganet melihat toleransi di Papua itu sebagai aksi nyata, bukan simbol kosong. Papua kembali memberi contoh tentang kerukunan antar-umat beragama. Pelajaran penting yang bisa kita ambil adalah toleransi tidak mengurangi keimanan siapa pun. Justru toleransi memperkuat nilai persaudaraan. Rumah ibadah sudah semestinya dapat menjadi jembatan sosial, bukan penghambat kerukunan.
Teladan seperti ini perlu diperbanyak di seluruh Indonesia. Terutama di wilayah yang dinobatkan sebagai daerah paling intoleran di Indonesia oleh Setara Institute. Data 2024 menunjukkan, Parepare, Sulawesi Selatan, dinobatkan sebagai kota paling intoleran. Kemudian diikuti oleh Makassar, Pagar Alam, Sabang, dan Ternate. Aksi Masjid Agung Al-Aqsha Sentani adalah bukti konkret, toleransi berjalan ketika kemanusiaan diutamakan. Dari Papua, kita mesti belajar lagi arti damai yang sesungguhnya.


