Pernah dengar istilah childfree, kan? Istilah ini jadi pembicaraan lagi setelah pernyataan Nadya Hutagalung, model dan mantan VJ MTV, viral di media sosial. Jadi, Nadya menyarankan anak-anaknya untuk childfree dalam acara “Kumar vs The World” di hadapan panelis lain.
Pernyataan ini muncul ketika diskusi mengangkat topik tentang menurunnya angka kelahiran di Singapura dan di banyak negara maju. Btw, childfree adalah istilah yang merujuk pada keputusan seseorang atau pasangan untuk nggak punya anak selama masa hidup mereka. Keputusan itu dibuat secara sadar dengan berbagai pertimbangan.
“Saya punya tiga anak, dan saya telah menyampaikan kepada mereka agar tidak memiliki anak,” kata Nadya. Dia beralasan bumi sudah terlalu penuh. Kelebihan populasi, overcrowded. Nadya bilang begitu bukan tanpa dasar. Dia itu aktivis lingkungan, Goodwill Ambassador for the United Nations Environment Programme. Dia melihat sendiri perubahan di bumi.
Sebelum anak pertamanya lahir, dia menyelami laut dan melihat laut masih nampak indah. Dipenuhi karang dengan berbagai macam bentuk, warna, dan ukuran. Ikan-ikan dengan berbagai macam bentuk, warna, dan ukuran bebas berenang. Tapi ketika dia menyelam setelah anaknya lahir, kondisi laut jauh berbeda. “Ikan-ikan sudah masuk perangkap, karangnya sudah pecah, dan plastik-plastik sudah mengapung di permukaan laut,” ujarnya. “Dalam waktu sesingkat itu, dunia ini telah berubah begitu banyak. Bayangkan dalam hidup dia?” lanjutnya.
Nadya punya 3 anak: Tyrone 30 tahun, Fynn 22 tahun, dan Alex (sebelumnya bernama Nyla) 17 tahun. Tapi, apakah ini berarti semua orang harus childfree? Ya, nggak juga. Nadya sendiri bilang itu pilihan pribadinya, bukan doktrin. Dengan kata lain, dia nggak lagi paksain pilihannya ke semua orang.
Tapi yang menarik, pilihan Nadya itu nyambung sama gerakan global yang disebut Childfree Movement. Gerakan ini muncul karena banyak orang merasa dunia makin kacau, ekonomi makin sulit, dan lingkungan hidup makin rusak. Mereka nggak ingin ‘menyumbang’ manusia baru dalam situasi bumi yang nggak baik-baik aja. Sebagian lagi merasa jadi orangtua itu privilege dan bukan kewajiban. Mereka nggak ingin anak mereka nanti hidup di dunia yang penuh krisis.
Tapi tenang, childfree bukan berarti anti‑anak. Banyak penganut childfree yang tetap sayang anak, kerja di dunia pendidikan, atau punya keponakan kesayangan. Mereka cuma memilih nggak punya anak biologis sendiri.
Pendapat Nadya ini dan para penganut childfree lainnya sudah pasti mengundang perdebatan. Apalagi buat masyarakat yang menganggap punya anak itu level up. Karena itu, pasangan atau perempuan yang sudah menikah, tapi belum punya anak, bakal selalu dihujani berbagai pertanyaan. “Kapan punya anak?” “Kok belum isi juga?”
Tapi buat orang dan masyarakat yang progresif, pendapat Nadya itu justru jadi bahan reflektif. Mengajak kita mikir lebih jauh soal alasan di balik punya anak. Apakah karena cinta? Apakah karena siap mendidik manusia baru? Atau cuma karena takut tekanan sosial?
Jadi orangtua itu tanggung jawab seumur hidup. Memang banyak pasangan yang merasa hidupnya bakal lengkap kalo jadi orangtua. Tapi yang nggak kalah penting untuk diingat, jadi orangtua itu harus siap mental, emosional, finansial, dan spiritual. Jangan sampai amanah dari Tuhan itu disia-siakan hanya karena sekedar pengen punya anak.
Dan kalau Nadya bilang ke anak-anaknya nggak masalah kalau mereka nggak mau punya anak, itu juga bentuk cinta yang lain dari seorang ibu. Dia nggak mau seperti ibu pada umumnya yang menuntut anak-anaknya segera nikah dan punya anak karena pengen nimang cucu. Nadya justru memberi ruang bagi anak-anaknya memilih jalannya sendiri. Itu bukan cuma toleransi, tapi bentuk cinta yang nggak sering kita lihat dari seorang ibu.
Gimana menurut bestie PIS soal childfree?


