Netizen Dunia Bela Indonesia yang Dijatuhi Sanksi akibat Tolak Atlet Israel

Published:

Sikap Indonesia yang menolak atlet Israel bertanding di Indonesia justru menuai dukungan global! Banyak netizen dari berbagai negara malah “pasang badan” untuk Indonesia dan ramai-ramai mengecam Komite Olimpiade Internasional (IOC). Keputusan IOC yang menutup peluang Indonesia jadi tuan rumah Olimpiade 2036 memang menggemparkan. Tapi reaksi dunia justru malah mendukung Indonesia.

Media sosial pun penuh dengan komentar-komentar pembelaan terhadap pemerintah Indonesia. Di antara mereka, salah satu yang vokal adalah Alon Mizrahi, seorang aktivis Yahudi yang pro-Palestina. Dia dengan tegas menyatakan bahwa Indonesia dikenai sanksi sebelum Israel mendapat sanksi apapun. Menurutnya, ini menunjukkan betapa timpangnya standar yang diterapkan dalam dunia olahraga internasional. Alon bahkan menyerukan perlunya ‘’dekolonisasi’’ olahraga secara mendesak. Banyak netizen lain juga ikut berkomentar dengan nada serupa. Ada yang bilang mereka akan memboikot Olimpiade dan berdiri bersama Indonesia dalam mendukung pembebasan Palestina.

FYI, masalah ini bermula dari penolakan visa enam atlet Israel yang hendak ikut Kejuaraan Dunia Senam Artistik ke-53, ajang kualifikasi Olimpiade di Jakarta. Mereka adalah Artem Dolgopyat, Eyal Indig, Ron Payatov, Lihie Raz, Yali Shoshani, dan Roni Shamay. Federasi Senam Israel (IGF) sempet banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Tapi upayanya gagal total, karena CAS nolak permohonan banding IGF. Pemerintah Indonesia tetap pada keputusannya dengan alasan keamanan, ketertiban umum, dan politik luar negeri.

Tapi bukannya berdialog, IOC malah menjatuhkan tiga langkah keras terhadap Indonesia… Pertama, menghentikan dialog resmi dengan Komite Olimpiade Indonesia (KOI). Kedua, merekomendasikan agar tak ada event olahraga internasional di Indonesia. Ketiga, memanggil KOI serta Federasi Senam Internasional (FIG) ke markas IOC di Lausanne, Swiss, untuk klarifikasi. IOC bahkan juga menyarankan semua federasi olahraga dunia menunda turnamen di Indonesia dan menambahkan klausul “akses bebas bagi peserta” dikontrak kualifikasi Olimpiade.

Menpora Erick Thohir buka suara dalam menanggapi kehebohan ini. Dia negasin bahwa langkah Indonesia sudah sesuai hukum internasional dan konstitusi. “Langkah ini diambil sesuai hukum internasional dan amanat UUD 1945,” ujarnya. Erick juga menyebut pemerintah sadar konsekuensinya, tapi tetap menjaga kedaulatan dan keamanan nasional. Keputusan ini sejalan dengan posisi diplomatik Indonesia yang memang tidak memiliki hubungan resmi dengan Israel.

Sebagai info, sejak lama, Indonesia berpegang pada prinsip bebas aktif dan menolak penjajahan dalam bentuk apa pun. Dukungan terhadap Palestina bahkan tertulis jelas dalam Pembukaan UUD 1945. Jadi, ini bukan soal kebencian terhadap atlet tertentu. Tapi ini soal prinsip dan komitmen moral bangsa. Mungkin IOC emang mengklaim menjunjung tinggi prinsip non-diskriminasi dan netralitas olahraga. Tapi kenyataannya mereka jelas nampak “pilih kasih.” Contohnya ketika Rusia menyerang Ukraina, IOC dan FIFA cepat menangguhkan Rusia atas dasar moral. Tapi ketika giliran Indonesia menolak atlet dari Israel, malah Indonesia yang diberi sanksi.

Di sinilah standar ganda IOC terlihat jelas. Netralitas yang mereka banggakan ternyata tidak sepenuhnya “netral.” Dan Ironisnya juga nih, IOC kerap menggaungkan slogan “sport unites the world”. Tapi kok tindakan mereka terhadap Indonesia justru membuktikan sebaliknya ya? Reaksi netizen dunia ini membuktikan banyak orang paham konteks sebenarnya. Bahwa apa yang dilakukan Indonesia bukan diskriminasi, tapi sikap politik dan kemanusiaan yang sah. Dan keputusan ini simbol bahwa Indonesia tidak akan menormalisasi penjajahan dalam bentuk apa pun. Solidaritas kita untuk Palestina!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img