SMA Negeri 4 Kota Serang lagi jadi sorotan nih. Setelah akun Instagram @savesmanfourkotser blak-blakan “ngebongkar” skandal di sekolah itu. Postingan itupun viral di kalangan siswa, alumni, sampai masyarakat setelah posting pada 6 Juli lalu. Skandal yang diungkap mulai dari pelecehan seksual, intoleransi, sampe dugaan pungli. Dipostingannya dia bikin gerakan #SaveSMANFour dengan tagline Don’t Stay Silent.
Akun tersebut klaim kalau pelanggaran-pelanggaran itu terjadi sistematis dan tanpa tindakan serius dari pihak sekolah. Kasus pertama, pelecehan seksual oleh oknum guru. Si guru ini diduga ngelecehin siswa dari berbagai angkatan, alumni sampe anak-anak kelas 10 yang masih aktif sekolah. Parahnya, meski udah dilaporin, pihak sekolah nggak ngasih tindakan tegas sama sekali. Bahkan siswa yang berani ngomong malah dibungkam dengan kata-kata, “Sudah ya, dimaafin aja, jangan bilang orang tua.”
Kedua, ekstrakurikuler di sana katanya dibiarkan mati tanpa dana. Ada yang aktif sih, tapi jalan seadanya, tanpa dana dan alat yang layak. Salah satu ekskul pernah ngajuin dana buat ikut lomba, dijawab: “Kalau miskin, jangan banyak gaya.” Ketiga, eksploitasi guru honorer. Mereka gak pernah didaftarkan sebagai calon ASN atau Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Para guru honorer ini dimanfaatin, tanpa kejelasan status sama sekali.
Keempat, dugaan pungli dan bisnis dalam sekolah. Siswa diwajibkan beli LKS, seragam, buku Ramadhan dengan harga selangit, tapi nggak dikasih kwitansi resmi. Harga seragam sama LKS bisa jutaan rupiah, sementara buku Ramadan dijual tiga kali lipat dari harga pasaran. Kelima, penekanan dan budaya takut. Siswa aktif di OSIS atau MPK sering ditekan kalau mau ngomongin masalah sekolah. Bahkan yang cuma repost konten kritik aja bisa langsung dipanggil sekolah dan diintimidasi.
Keenam, intoleransi agama. Pernah OSIS bikin postingan ucapan kenaikan Isa Al-Masih, tapi sekolah malah nyuruh hapus. Ketujuh, kelas over kapasitas dan panas. Satu kelas katanya isinya lebih dari 50 siswa, ventilasi minim, kipas angin pun nggak ada. Ruangan jadi pengap, bikin anak-anak nggak nyaman belajar. Ironisnya, kalau mereka protes, malah ditekan balik.
Mantan Kepala Sekolah, Ade Suparman, mengakui ada kasus pelecehan di 2023. Tapi penyelesaiannya cuma “damai” di tingkat RT, bukan lewat jalur hukum. Komite Sekolah, Tb M Hasan Fuad, bilang pelaku pelecehan masih aktif mengajar. Dia cuma dikasih peringatan kalau kejadian lagi akan dipecat.
Setelah kasus-kasus itu diungkap ke media sosial, Plt Kepala Dindikbud Banten, Lukman, angkat suara. Katanya pihaknya mau turun tangan menyelidiki kasus ini biar nggak jadi fitnah. SMAN 4 Serang juga udah ngeluarin klarifikasi lewat Instagram cuma isinya pembelaan versi sekolah. Tapi klarifikasi itu nggak bikin alumni, siswa, dan netizen berhenti speak up!
Kalau bener semua dugaan ini, pihak berwenang seharusnya segera bertindak. Sekolah tuh tempat belajar, bukan tempat anak-anak takut ngomong dan dipaksa diem. Kita harus kawal terus kasus ini, agar kejadian serupa nggak terjadi lagi. Buat siswa lain yang pernah ngalamin ini, yuk berani speak up. Yuk, bareng-bareng lindungi generasi muda kita!


