Masih inget sama orator Banser NU yang teriak “halal darah karyawan Trans7”? Nah, ternyata orator itu bukan orang sembarangan. Namanya Muhammad Ainul Yakin, dan jabatannya bikin publik kaget. Ainul dalam organisasi NU menjabat sebagai Ketua PW GP Ansor DKI Jakarta periode 2022–2026.
Tapi bukan cuma itu, ternyata dia juga menjabat sebagai Komisaris PT Transjakarta sejak Agustus 2025, BUMD milik Pemprov DKI Jakarta. Gak berhenti di situ lagi, dia juga Tenaga Ahli Kementerian Agama RI periode 2024–2029. Dua posisi yang strategis, tapi juga sensitif banget.
Dari segi politik, dia ini ternyata kader Partai Golkar yang sempat maju sebagai caleg DPR RI Dapil DKI 2 pada Pemilu 2024. Meskipun gagal lolos, kariernya terus naik lewat posisi di Kemenag dan Transjakarta. Gak cuma itu, publik makin tahu kalau Ainul dikenal sebagai figur aktif di dunia keagamaan dan sosial. Dia punya gelar doktor bidang Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dari Institut PTIQ Jakarta tahun 2024, sekaligus dikenal sebagai Al-Hafizh atau penghafal Al-Qur’an. Dengan rentetan latar belakang kayak gitu, ini jelas bikin publik heran: kok bisa figur publik dan berwawasan ngomong “halal darah” di depan umum? Soalnya, ucapannya udah gak bisa dianggap emosi pribadi lagi. Itu keluar dari figur publik yang punya power, simbol agama, dan akses ke lembaga negara.
Nah, buat yang belum ngikutin kronologinya: Ainul berorasi di depan kantor Trans7, Jakarta Selatan, bareng massa Banser dan Ansor. Mereka protes program “Xpose Uncensored” yang dianggap menyinggung pesantren dan kiai NU. Tapi dari kritik, orasinya berubah jadi ancaman. “Jangan sampai kader-kader Banser menggorok leher kalian”. “Halal darah kalian apabila mengolok-olok ulama Nahdlatul Ulama,” ujarnya lantang, disambut sorakan massa. Dia bahkan menambahkan, “Bayangkan seratus juta umat NU datang ke kantor kalian, kubakar ini. Tidak sampai 10 menit akan hangus.”
Ucapan itu langsung viral dan menuai reaksi keras. Banyak yang bilang Ainul menormalisasi kekerasan, dan justru merusak semangat moderasi yang selama ini dijaga NU dan GP Ansor. Yang makin bikin ramai, LSM Kabar Sejuk juga ikut buka suara. Di Instagram mereka nulis: “Bagaimana bisa Tenaga Ahli Menteri Agama yang mempromosikan ‘Kurikulum Cinta’, mengatakan darah manusia halal?” Soalnya, di berbagai forum resmi, Ainul memang dikenal sering bicara soal toleransi, kerukunan, dan cinta antarumat. Bahkan waktu pembukaan Festival Galatama di Ternate, dia menekankan pentingnya “Kurikulum Cinta”. Ironis banget kan?
Menurut Kabar Sejuk, ucapan “halal darah” itu termasuk ujaran kebencian karena berpotensi memicu kekerasan massal. Kalau dibiarkan, bisa berubah jadi hate crime. Dan yang bikin parah, dia bukan cuma aktivis ormas, tapi pejabat negara. Belakangan Ainul klarifikasi, katanya dia gak bermaksud ancam, tapi justru “menolak kekerasan”. Tapi publik udah terlanjur melihat rekamannya: jelas-jelas ada kata “menggorok”, “membakar”, dan “darah halal”.
Roy Murtadho, pengasuh Pesantren Ekologis Misykat Al-Anwar, juga ikut nyindir. “Ini namanya menormalisasi kekerasan. Parah sekali. Besok orang bisa ancam bunuh orang lain dengan alasan bela ulama”, katanya. Sementara itu, Transjakarta langsung klarifikasi. Komisaris Utama Transjakarta, Untung Budiharto, menegaskan bahwa ucapan Ainul adalah pandangan pribadi. “Pernyataan yang disampaikan Saudara Ainul Yakin Simatupang merupakan pandangan pribadi dan tidak mencerminkan sikap resmi perusahaan,” ujarnya. Dia juga memastikan ada langkah klarifikasi internal untuk menjaga prinsip tata kelola perusahaan dan marwah kelembagaan.
Sementara itu, dari pihak Kementerian Agama belum ada pernyataan langsung. Publik mulai bertanya-tanya akhirnya: gimana komitmen moderasi beragama kalau tenaga ahlinya sendiri ngomong begitu? Apalagi posisinya nyambung antara agama, politik, dan jabatan publik. Buat kami di Gerakan Indonesia untuk Semua (PIS), ini bukan soal jatuhin individu. Tapi pengingat penting: kalau seseorang punya posisi dan massa, setiap ucapannya bisa jadi pesan politik. Kritik terhadap media itu sah, tapi jangan sampai berubah jadi ancaman kekerasan. Karena di era digital, satu orasi bisa jadi cermin karakter — dan ujian buat kita semua, biar tetap waras di tengah panasnya iman. Yuk para pejabat dan aktivis, kalo dikasih tanggung jawab, jangan malah seenaknya ya!


