PELAJAR MALAYSIA INI DIDUGA TEWAS EFEK DIBULLY SENIORNYA

Published:

Diduga jadi korban bullying, seorang pelajar di Malaysia ini ditemukan meninggal dunia. Nama pelajar itu Zara Qairina Mahathir. Zara adalah siswi kelas satu dari Sekolah Menengah Kebangsaan Agama (SMKA) Tun Datu Mustapha di Papar, Sabah.

Dia ditemukan nggak sadarkan diri sekitar jam 3 pagi pada 16 Juli lalu di saluran pembuangan dekat asrama sekolahnya. Dia diduga jatuh dari lantai tiga asrama. Zara langsung dilarikan ke rumah sakit setempat. Sayangnya, dokter menyatakan Zara meninggal pada 17 Juli lalu karena udah nggak berfungsi lagi otaknya. Kasus ini langsung bikin heboh karena ada dugaan kuat unsur bullying sebelum kejadian.

Diduga Zara dibully oleh seniornya di sekolahnya. Publik rame nuntut keadilan dengan menyerukan tagar #JusticeForZara. Kasus ini makin geger setelah muncul video CCTV yang nunjukin Zara meninggal gegara dimasukin ke mesin cuci. Video itu viral dan bikin netizen berang. Salah satu yang nyebarin video adalah akun Instagram @henethee pada 14 Agustus. Di postingan itu, terlihat muka Zara, muka pelaku, plus potongan video mesin cuci lagi muter.

“Ya Allah ya Rabbi gak tega banget denger suara minta tolong nya,, hukum lah yg setimpal untuk para pelaku nya,” komen seorang netizen. “Hidup kamu Tidak akan pernah Tenang wahai Pelaku2nya,” komen yang lain. “Masuk kemesun cuci lagi, harus setimpal hukumannya biar merka merasakan,” komen lainnya.

Tapi, pengacara ibunya Zara membantah kabar itu. Menurut Hamid Ismail dan Shahlan Jufri, sang pengacara, info Zara dimasukin mesin cuci itu cuma spekulasi nggak berdasar. “Video yang menampilkan seorang perempuan yang menuduh Zara dimasukkan ke dalam mesin cuci hanyalah spekulasi belaka,” katanya. “Klien kami, ibu Zara, tidak pernah memberikan informasi semacam itu kepada siapa pun,” lanjutnya.

Polisi Malaysia sudah menangkap seorang perempuan, 39 tahun, karena nyebarin hoaks soal mesin cuci ini. Polisi juga klarifikasi video CCTV yang viral itu nggak ada hubungannya sama penyelidikan Zara. Autopsi yang dilakukan 10 Agustus lalu nunjukin Zara meninggal karena cedera otak traumatis akibat kekurangan oksigen pasca jatuh. Bukan karena di dalam mesin cuci. Sekarang kasus Zara udah masuk tahap inkues (inquest) buat memastikan penyebab pasti kematian dan kronologinya.

Direktur Departemen Investigasi Kriminal (CID) Bukit Aman, Datuk M Kumar, bilang tim penyidik udah dapet keterangan saksi yang menguatkan adanya perundungan sebelum Zara meninggal. Sampai sekarang, polisi udah ambil keterangan dari sekitar 60 sampai 82 orang saksi, plus kasih dukungan psikologis buat siswa-siswi yang kena dampak tragedi ini.

Kami di PIS berduka setiap mendengar kasus bullying. Apalagi kalau korbannya sampai meninggal dunia. Zara masih muda dan punya masa depan panjang. Tapi dia harus pergi dengan cara yang tragis. Kasus ini jadi pengingat penting bahwa bullying itu bukan kekerasan biasa. Bullying bisa merusak mental, fisik, bahkan merenggut nyawa korbannya.

Sekolah dan asrama harus lebih ketat ngawasin anak-anak karena bullying sering banget kejadian di tempat tertutup. Orangtua dan guru juga mesti peka kalau ada anak yang keliatan tertekan, takut, atau berubah sikap. Media dan netizen punya tanggung jawab untuk bersuara. Yuk, jangan toleransi sedikit pun tindakan bullying!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img