Kenapa ya kasus bunuh diri di Jepang tinggi? Padahal kan Jepang terkenal sama pendidikannya yang nekanin soal pembentukan karakter. Jadi, kasus bunuh diri di Jepang tahun 2024 itu paling tinggi dibanding tahun sebelumnya. Menurut Data Kementerian Kesehatan Jepang tahun 2024, tercatat ada 529 kasus bunuh diri. Kasus ini kebanyakan terjadi di kalangan murid SD, SMP, dan SMA, terutama anak perempuan.
Ada beberapa penyebab kenapa tingkat bunuh diri di Jepang tinggi. Di antaranya, buruknya prestasi akademik, konflik dengan teman sebaya, dan kecemasan soal masa depan. Persentasenya lebih dari 51 persen. Disusul masalah kesehatan, termasuk depresi, sebanyak 31 persen. Dan yang terakhir, masalah keluarga 20 persen.
Emang pendidikan di Jepang keren banget. Pendidikan di Jepang menekan pembentukan karakter anak sejak dini. Anak dilatih soal kedisiplinan, kerja keras, toleransi, kerjasama, dan rasa hormat kepada orang lain. Anak juga dilatih berkontribusi bagi komunitas dan menjaga keharmonisan dalam masyarakat. Masalahnya, nilai-nilai pribadi seperti kebebasan berekspresi, pengembangan diri individu, penanganan perasaan dan tekanan sosial nggak diperhatiin. Anak juga nggak diajarkan bagaimana merawat kesehatan mental atau menghadapi kegagalan pribadi. Dalam banyak kasus, anak di Jepang merasa tertekan oleh harapan tinggi dari keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk selalu berprestasi dan menjaga citra diri. Hal ini dipercaya jadi faktor besarnya lonjakan kasus bunuh diri, terutama di kalangan anak perempuan yang lebih rentan terhadap tekanan sosial.
Pertanyaannya, apakah tingginya kasus bunuh diri murid di Jepang ada hubungannya dengan Harakiri? FYI, Harakiri atau Seppuku adalah ritual bunuh diri yang dilakukan samurai (prajurit) di Jepang pada zaman feodal. Biasanya, ritual ini dilakukan karena mereka merasa sudah kehilangan kehormatan atau dalam situasi yang sangat memalukan. Harakiri dilakukan untuk mengembalikan kehormatan diri atau klan mereka yang ternoda. Seorang samurai yang melakukan harakiri akan menusukkan pedang pendek ke perutnya sendiri.
Emang zaman feodal di Jepang sudah berlalu. Jepang sekarang sudah modern. Tapi pada sisi tertentu, masih ada benang merah antara kasus bunuh diri di Jepang saat ini dengan Harakiri. Murid yang gagal memenuhi standar yang diharapkan sering merasa tidak ada jalan keluar selain menghilangkan nyawanya sendiri. Dengan kata lain, ada kesamaan dalam hal motif, yaitu keinginan melarikan diri dari rasa malu atau kegagalan yang nggak bisa diterima olehnya atau orang lain. Tapi bedanya, bunuh diri yang dilakukan murid sering dikaitkan dengan stres akibat tekanan sosial, akademik, dan emosional.
Dalam konteks murid, faktor sosial seperti bullying, kesulitan dalam berinteraksi sosial, atau perasaan kesepian mungkin lebih dominan. Tekanan yang dihadapi murid di Jepang semakin diperburuk oleh media sosial. Di zaman sekarang, citra diri anak-anak dan remaja sangat dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat di platform online. Tuntutan untuk selalu terlihat sempurna, baik dalam hal penampilan fisik, prestasi akademik, atau gaya hidup, dapat menciptakan rasa rendah diri yang akut. Jadi, motivasi kasus bunuh diri di Jepang saat ini nggak selalu terkait langsung dengan kehormatan yang harus dipulihkan.
Apa yang terjadi di Jepang ini penting jadi perhatian kita semua. Jangan sampai bunuh diri, terutama di kalangan murid, juga terjadi di Indonesia. Karena itu, kita harus aware kalo adik atau teman di sekitar kita bermasalah dengan kesehatan mentalnya. Kalo mereka mengalami rasa cemas, stres, dan depresi, jangan diabaikan! Kamu harus menemani dan menguatkannya. Kalo kamu merasa butuh bantuan, hubungi layanan konseling kesehatan mental di call center Kementerian Kesehatan di 119 ext 9. Yuk, peduli soal kesehatan mental!


