Aksi Pengusaha di Surabaya bernama Ivan Sugianto ini arogan banget. Dia suruh salah satu siswa SMA berlutut sambil menggonggong di pinggir jalan raya. Aksinya ini terekam kamera yang diunggah akun X @PaltiWest2024 pada Senin, 11 November lalu. Akun itu ngetweet “Tak terima anaknya diejek, pengusaha di Surabaya suruh murid menggongong..
“Ini orang tua anak tersebut kok membiarkan anaknya digituin?! Kalau gue mana bisa nahan emosi kalau anak gue digituin” tulis akun itu.
Diketahui si anak yang mengejek adalah murid di SMA Gloria 2 Surabaya. Cerita bermula ketika anak Ivan yang berinisial EMS diejek oleh salah satu siswa SMA Gloria 2 Surabaya. Btw, EMS ini adalah siswa SMA Cita Hati Surabaya. Karena nggak terima, Ivan mendatangi SMA Gloria 2 Surabaya. Di sanalah dia mengamuk dan memaksa siswa yang mengejek anaknya buat bersujud.
“Minta maaf! Sujud!” bentak Ivan. Nggak berhenti sampai disitu, Ivan bahkan menyuruh si anak menggonggong layaknya seekor anjing.
“Menggonggong…menggonggongg!” bentaknya lagi. Belum sempat siswa itu menuruti perintah, pria berbaju biru yang diduga ayahnya kasih isyarat untuk berdiri. Namun hal itu justru dicegat oleh Ivan hingga terjadi cekcok.
“Jangan lah pak, maaflah… Jangan..jangan, memang anak saya salah” ujar pria baju biru. Sayangnya aksi si pria berbaju biru dihalangi beberapa orang diduga itu preman suruhannya Ivan. Kabarnya sih kasus ini udah berakhir damai namun proses hukum masih terus berlanjut. Netizen di media sosial ramai-ramai mengecam aksi Ivan yang dinilai arogan dan udah masuk tindakan premanisme.
“Ini bisa kan ditindak pakai UU Tindak Pidana Anak?” komen salah satu netizen. “Netizen gerakkan jempolmu untuk memberi pelajaran orang ini,” ujar netizen lain. Tindakan ini bukan cuma nggak pantes, tapi juga melanggar norma dan etika dalam mendidik anak. Orang tua harusnya tunjukin sikap bijak dan kasih teladan yang baik untuk anak dan lingkungan sekitar.
Aksi semacam ini bisa merusak proses pendidikan secara menyeluruh. Anak-anak akan belajar bahwa kekerasan atau penghinaan dianggap solusi untuk konflik kecil atau perbedaan. Padahal mereka harusnya diajari sikap menghargai, berempati, dan selesain masalah dengan kepala dingin.
Yuk jadi orangtua yang bijak, bukan arogan!


