Sebuah video pernikahan anak kyai viral di medsos. Dalam video terlihat mempelai perempuan tidak mengenakan jilbab. Diduga, pernikahan tersebut terjadi di Madura. Mempelai laki-laki adalah Gus Kafin, sementara yang perempuan bernama Ning Robwah. Gus Kafin sendiri terlihat mengenakan peci dan berkacamata hitam. Sebutan Gus dan Ning itu lazim disematkan pada anak kyai.
Keputusan Ning Robwah menikah tanpa hijab itu heboh di medsos. Pasalnya, narasi yang beredar di Tik Tok menyebut itu adalah sikap protes Ning Robwah. Konon pernikahan itu adalah hasil perjodohan di antara sesama kerabat. Ning Robwah dikatakan tidak menyetujui pernikahan tersebut. Bapaknya Ning Robwah juga serba salah. Ada yang menyebut, “mundur taruhannya saudara, maju taruhannya anak”. Maksudnya, kalau pernikahan itu batal, hubungan keluarga bakal retak. Tapi kalau dilanjutkan, kabahagiaan anak akan musnah.
Akhirnya pernikahan itu tetap dilanjutkan. Sebagai bentuk protes, Ning Robwah melepaskan jilbabnya. Dalam tradisi keluarga kiai, pilihan itu hal yang tabu, karena jilbab dianggap wajib. Tapi aksi protes itu diterima oleh sang bapak, sebagai bentuk kompromi. Selain melepas jilbab, Ning Robwah juga terlihat sinis terhadap calon suaminya. Ia memilih berjalan mendahului sang calon suami dalam prosesi pernikahan.
Warganet banyak yang bersimpati pada Ning Robwah. Di zaman modern sekarang ini, ternyata masih ada nikah karena perjodohan. Banyak yang menilai perjodohan semacam ini perlu ditinjau ulang. Warganet banyak yang bilang setiap orang berhak menentukan pasangan hidupnya. Aksi Ning Robwah dianggap sebagai bentuk keberanian menolak pemaksaan untuk menikah.
Namun ada juga yang menilai tindakannya itu berlebihan dan tak pantas dilakukan saat akad. Ada pula yang mengatakan, publik terlalu cepat menarik kesimpulan. Bisa jadi ekspresinya adalah luapan emosi pribadi, bukan simbol perlawanan. Namun karena statusnya sebagai anak kiai membuat isu ini jadi sensitif. Lingkungan keluarga kiai biasanya sangat menjunjung tradisi dan kehormatan. Karena itu, tindakan melepas jilbab bisa memicu reaksi publik yang besar.
Viralitas video ini membuat berbagai opini bermunculan tanpa henti. Ada yang membela sang ayah sebagai sosok yang tersudut dalam dilema. Ia harus menjaga keharmonisan keluarga sekaligus menghormati keinginan anak. Keputusan untuk mengizinkan putrinya melepas jilbab dianggap sebagai jalan tengah. Namun keputusan tersebut juga menuai kritik dari kelompok konservatif. Mereka menilai tindakan itu menabrak norma pernikahan religius. Sementara kelompok lain memuji langkah itu sebagai bentuk pengertian orang tua.
Publik juga mempertanyakan bagaimana perasaan Gus Kafin dalam situasi ini. Sebab narasi yang beredar lebih banyak fokus pada Ning Robwah. Ada yang berspekulasi bahwa keduanya sama-sama terjebak dalam tekanan keluarga. Diskusi pun meluas pada isu ruang gerak perempuan dalam budaya tradisional. Banyak yang berharap kasus ini membuka jalan untuk dialog lebih sehat soal perjodohan.
Pada akhirnya, kita berharap pemaksaan pernikahan tidak dilakukan. Setiap anak memiliki hak untuk memilih pasangan hidupnya sendiri. Gimana menurut Anda? Tulis di kolom komentar ya!


