Romo yang Mempromosikan Toleransi dan Perdamaian itu Kini Sudah Berpulang

Published:

Rohaniwan Katolik sekaligus budayawan terkemuka Indonesia, Romo P Fransiscus Xaverius Mudji Sutrisno, SJ, atau biasa dipanggil Romo FX Mudji, meninggal dunia. Romo Mudji berpulang pada usia 71 tahun di RS Carolus, Jakarta, pada 28 Desember lalu. “Telah meninggal dunia saudara kita, P Franciscus Xaverius Mudji Sutrisno, SJ karena sakit…,” begitu bunyi pesan yang menyebar melalui Whats’ Apps.

Ungkapan duka atas kepulangan Romo Mudji disampaikan berbagai kalangan. Sumarsih menyampaikan semoga Romo Mudji beristirahat dalam damai Tuhan dan langgeng di Surga. Sumarsih adalah orangtua Wawan mahasiswa Atma Jaya yang tewas saat tragedi Semanggi I. “Kebersamaannya meneguhkan & menyemangati langkah perjuangan untuk menegakkan hukum & HAM di negeri ini,” kenang Sumarsih yang selalu hadir setiap aksi Kamisan.

Kenangan juga disampaikan Menteri Agama, Nasaruddin Umar. Menurutnya, dia sering tampil satu panggung dengan Romo Mudji dalam kegiatan dialog antaragama yang mengulas dan mempromosikan toleransi dan perdamaian. Romo Mudji, katanya, adalah figur yang sangat menghargai nilai-nilai kebudayaan dalam beragama. “Pesan-pesan Romo Mudji sejalan dengan keberagamaan yang inklusif dan moderat,” tuturnya. Beberapa kali Romo Mudji hadir di acara Kemenag, misalnya dalam Seminar Natal Nasional 2024 di Auditorium Kemenag pada 19 Desember 2024 yang dibuka Nasar. “Selamat jalan sahabat dialog lintas iman,” kata Nasar pada 29 Desember lalu.

Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Lesbumi PBNU), Zastrouw Al-Ngatawi, melihat Romo Mudji adalah seorang rohaniwan yang unik. Dia mampu mempraktikkan nilai-nilai keagamaan secara berkebudayaan. “Beliau ini seorang Romo, seorang Katolik, tapi ekspresi keagamaannya itu berpijak pada nilai-nilai keuniversal yang sangat melekat pada tradisi dan adat,” katanya. Menurutnya, Romo Mudji menunjukkan rasa hormat yang tinggi terhadap NU dan memandang NU sebagai jangkar Nusantara sekaligus pengayom bagi seluruh warga bangsa. “Dia juga menjadi tempat bagi anak-anak muda NU untuk berdiskusi, bertukar pikiran, dan menjadi narasumber yang ringan kaki untuk diajak di acara-acara NU,” terangnya.

Direktur Program Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan, mengatakan Romo Mudji selalu memberi teladan. Dia memanusiakan setiap orang secara sederhana namun bermakna. Romo Mudji, katanya, mengajarkan tidak ada sekat yang memisahkan manusia hanya karena perbedaan agama, suku, maupun pilihan politik. “Salah satu pesan beliau yang paling mendalam adalah bahwa mencintai negeri ini harus tercermin dalam sikap mencintai sesama,” ujar Hening.

Romo Mudji lahir di Solo, 12 Agustus 1954. Dia dikenal sebagai pemikir lintas disiplin. Seorang rohaniawan, akademisi, ahli filsafat, dan pemerhati masalah sosial dan budaya. Dia juga dikenal sebagai budayawan, penyair, bahkan pelukis. Pria bergelar Profesor itu merupakan lulusan magister bidang filsafat di Universitas Gregoriana, Italia. Hingga akhir hayatnya, dia tercatat masih menjadi pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta, di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, dan di UI.

Menurut Zastrouw, meski menempuh pendidikan teologi dan filsafat di Eropa, Romo Mudji tidak larut dalam tradisi dan budaya barat. Sebaliknya, pengalaman itu dijadikannya inspirasi untuk mengaktualisasikan spirit keagamaannya dengan menggunakan tradisi dan budaya Nusantara sebagai instrumen utama. “Beliau mampu mewujudkan kata Bung Karno, yaitu beragama yang berkebudayaan dan berkepribadian kenusantaraan,” jelasnya.

Romo Mudji juga dikenal sebagai intelektual dan akademisi yang kritis serta independen. Dia pernah menduduki sejumlah jabatan strategis, termasuk di Komisi Pemilihan Umum (KPU) 2001-2003. Belakangan dia memilih mengundurkan diri agar fokus mengajar di kampus. Sepanjang hidupnya, dia memberikan kontribusi besar bagi pengembangan pemikiran kebudayaan, filsafat, seni, serta refleksi kemanusiaan di Indonesia. Gagasan-gagasannya banyak dituangkan melalui karya tulis, esai budaya, puisi, lukisan. Juga refleksi spiritual yang memperkaya dialog antara iman, budaya, dan kehidupan sosial.

Romo Mudji juga dikenal sebagai sosok yang konsisten memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kebijaksanaan budaya dalam berbagai forum intelektual dan publik. Dia kerap terlihat hadir dalam aksi Kamisan, aksi yang dilakukan oleh para korban pelanggaran HAM di Indonesia setiap Kamis di depan Istana Presiden. Kepulangan Romo Mudji bukan hanya kehilangan besar bagi Gereja Katolik, tapi juga bagi dunia akademik dan komunitas lintas agama. Semoga warisan pemikiran dan karya-karyanya akan terus hidup dan menjadi inspirasi, khususnya dalam soal kemanusiaan, persaudaraan, dan dialog lintas iman. Selamat berpulang, Romo Mudji…

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img