Mantan pesepakbola Prancis, Eric Cantona, menyerukan agar Israel juga didepak dari FIFA. Sama halnya seperti yang menimpa Rusia. Ia menyampaikan hal ini dalam pidatonya di acara amal #Together4Palestine di London, 17 September lalu.
Cantona kecewa pada FIFA dan UEFA yang dianggap menerapkan standar ganda. Ia membandingkan dengan sanksi cepat FIFA dan UEFA terhadap Rusia. “Empat hari setelah Rusia memulai perang dengan Ukraina, FIFA dan UEFA langsung membekukan Rusia.” “Tapi sekarang, setelah ratusan hari serangan ke Palestina, Israel masih berpartisipasi di sepakbola,” kata Cantona. Ia menegaskan FIFA dan UEFA seharusnya tegas, bukan pilih kasih. “Kenapa ada standar ganda? FIFA dan UEFA harus membekukan Israel,” ujarnya. Cantona juga mendorong klub dan pemain menolak bertanding melawan tim Israel. Menurutnya, olahraga punya peran penting dalam menentang ketidakadilan.
Cantona sendiri memang dikenal vokal membela Palestina. Pada 2012, ia pernah mengirim surat ke Menteri Olahraga Inggris dan Presiden UEFA, Michel Platini. Ia menuntut agar Israel tunduk pada standar internasional.
Memang ada standar ganda antara sikap FIFA/UEFA terhadap Rusia dan Israel. Saat Rusia menginvasi Ukraina pada Februari 2022, hanya empat hari kemudian FIFA dan UEFA langsung bertindak. Semua tim nasional Rusia dilarang ikut turnamen internasional. Semua klub Rusia dilarang berkompetisi di ajang UEFA. Rusia juga dilarang menjadi tuan rumah event FIFA/UEFA. Hingga kini, tim dan klub Rusia masih dibekukan. Artinya, respon FIFA & UEFA sangat cepat dan keras.
Sementara untuk Israel, sanksi semacam itu tidak pernah ada. Timnas Israel tetap ikut kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa. Mereka masih berpeluang lolos dari Grup I. Klub Israel seperti Maccabi Tel Aviv juga berlaga di Europa League. Tidak ada tanda-tanda FIFA atau UEFA akan menjatuhkan sanksi tegas.
Alasan standar ganda ini terlihat dari politik, narasi konflik, dan kepentingan finansial. Rusia dianggap agresor yang menyerang negara berdaulat, sehingga mudah dihukum tanpa resiko besar. Sebaliknya, Israel mendapat perlindungan kuat dari sekutu Barat, terutama AS dan Uni Eropa. Upaya mendepak Israel hampir pasti menghadapi tekanan politik besar. Selain itu, konflik Israel–Palestina kerap diposisikan sebagai isu “regional” atau “internal”, bukan invasi antarnegara. Hal ini membuat FIFA dan UEFA lebih mudah berdalih untuk tidak memberi sanksi. Faktor finansial juga berperan: menghukum Rusia memperkuat citra moral FIFA/UEFA di mata publik Barat. Sementara menyasar Israel berisiko memicu benturan dengan sponsor besar dan opini publik negara berpengaruh.
Singkatnya, keputusan FIFA/UEFA tidak murni soal sportivitas. Tapi cerminan bagaimana geopolitik membentuk wajah sepakbola global. Sepakbola sering digadang-gadang sebagai arena netral dan universal. Namun kasus Rusia vs Israel membuktikan politik tetap jadi penentu utama. Jika musuh Barat, sanksi cepat dan keras. Jika sekutu Barat, aman meski ada pelanggaran serius.
Artinya, FIFA dan UEFA belum konsisten menjaga prinsip fair play di luar lapangan. Sepakbola masih jadi cermin dunia nyata: siapa punya kuasa politik dan dukungan global, dialah yang lebih kebal dari hukuman. FIFA dan UEFA seharusnya berani menegakkan aturan secara konsisten tanpa pandang bulu. Prinsip dasar sepakbola adalah kesetaraan dan keadilan. Kalau sanksi bisa dijatuhkan cepat kepada Rusia, mekanisme serupa seharusnya berlaku juga untuk kasus lain. Termasuk Israel, tanpa terkunci oleh tekanan politik negara besar. Dengan begitu, sepakbola benar-benar bisa berdiri di atas kemanusiaan. Bukan sekadar cermin kepentingan geopolitik. Selama standar ganda dibiarkan, kepercayaan publik pada netralitas sepakbola akan terus goyah. Yuk, dorong dunia olahraga jadi lebih adil dan bebas dari intervensi politik!


