Alhamdulillah, 1 dari 3 orang yang dinyatakan hilang pas demo rusuh di Jakarta akhir Agustus lalu ditemukan. Satu orang itu adalah Bima Permana Putra. Bima dihadirkan langsung dalam konferensi pers Polda Metro Jaya pada 18 September lalu. Bima datang bareng kakaknya, Dian.
Menurut Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Wira Satya, Bima meninggalkan rumah karena ingin hidup mandiri. Bima ditemukan tim Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya di bawah pimpinan AKBP Resa Fiardi Marasabessy. Bima ditemukan pas lagi jualan mainan barongsai di Klenteng Eng Ang Kiong, Malang, Jawa Timur, pada 17 September lalu.
FYI, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menyatakan ada 3 orang hilang pas demo rusuh di Jakarta akhir Agustus lalu itu lewat akun media sosialnya pada 7 September. Menurut KontraS, 3 orang itu terakhir terlihat di Jakarta pada akhir Agustus. Selain Bima, 2 orang lainnya adalah Reno Syachputra Dewo dan Muhammad Farhan Hamid. KontraS juga nyebutin ada 3 ribuan orang ditangkap, seribu-an luka-luka, dan 10 orang meninggal dunia.
Data ini, terutama 3 orang yang hilang, di share para influencer yang mendukung demo. Salah satunya akun Instagram @malakaproject.id pada 15 September lalu. Postingan itu nampilin foto 3 orang yang dinyatakan hilang oleh KontraS. Ngeliat informasi itu, netizen pun rame komen penuh emosi. “Sedih jadi rakyat, bersuara buat keadilan malah dihilangin,” komen seorang netizen. “RIP keadilan Indonesia,” tulis netizen lain. “Bebaskan pejuang demokrasi!” tulis yang lain.
Polda Metro Jaya bekerja keras mencari 3 orang yang dinyatakan hilang itu. Hasilnya, 1 dari 3 orang sudah ketemu. Tinggal Reno dan Farhan yang diharapkan segera menyusul ditemukan. Banyak netizen yang menuduh hilangnya 3 orang itu masuk kategori “penghilangan paksa”. Alias, orang ditahan atau dibawa aparat negara tanpa prosedur hukum yang jelas dan keberadaannya nggak dikasih tahu.
Wajar kalau netizen bereaksi soal hilangnya 3 orang itu. Sejarah reformasi 1998 masih membekas banget di benak sebagian netizen. Ketika itu ada 23 aktivis yang diculik. Sebagian dibebasin, tapi 13 orang masih hilang sampai sekarang. Kasus itu terkenal banget dengan istilah “penghilangan paksa aktivis 1997/1998”. Banyak korban penculikan yang kembali mengaku ditahan, diinterogasi, bahkan disiksa.
Tapi, penting dicatat: itu peristiwa ketika Reformasi 1998. Situasi demo akhir Agustus kemarin jelas beda banget sama ketika reformasi. Demokrasi Indonesia sekarang emang nggak sempurna. Tapi, aparat negara cukup responsif pada isu-isu yang menyita perhatian publik secara umum. Buktinya, begitu ada laporan orang hilang, polisi langsung bertindak. Polisi mencari, melacak, dan menelusuri 3 orang yang disebut hilang. Memang yang ditemukan baru 1 orang. Tapi, negara nggak menutup mata dan telinga dari tuntutan publik.
Ingatan soal penghilangan paksa ketika Reformasi 1998 tetap harus kita rawat. Kita nggak boleh lupakan sejarah hitam kita itu. Kita harus belajar dari tragedi itu. Tapi, jangan sampai ingatan itu membuat kita kehilangan harapan. Indonesia hari ini jauh lebih baik dibanding kondisi pada tahun 1998. Demokrasi kita terus berproses, meski jalannya nggak selalu mulus. Yuk, sama-sama kita rawat demokrasi di Indonesia!


