Pembenci Pak Jokowi tuh cocokloginya makin kelewat batas aja ya. Kali ini yang jadi sasaran mereka bukan politisi, tapi akademisi: Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Ova Emilia. Minggu lalu, akun X @kang___L unggah foto berisi daftar riwayat hidup Ibu Ova.
Isinya nyebutin nama keluarga, riwayat pendidikan, sampai jabatan yang pernah dia emban. Tapi masalahnya ada di caption yang nyelip: “oh pantes”, yang bikin netizen lain penasaran. Ada yang nanya, “pantes apa?” dan dibalas komentar lain: “pantes chindo”.
Dari situ kebaca jelas: unggahan itu dipakai buat sindiran rasis. Yang jadi sasaran adalah suami Ibu Ova. Netizen mengira suaminya, Jang Keun Won, adalah pria keturunan Tionghoa. Bahkan anak-anak mereka pun dicap sebagai “keturunan Tionghoa”. Padahal faktanya: suami Ibu Ova itu orang Korea, udah masuk Islam sejak tahun 1990, dan ganti nama jadi Abdul Nasir. Jadi jelas, tuduhan ini salah alamat banget.
Tapi masalahnya bukan cuma soal salah paham etnis. Komentar-komentar kayak gitu nunjukin gimana sebagian orang masih gampang banget jatuh ke stereotip ke mereka yang beretnis Tionghoa. Ada stigma kalau ada kaitannya dengan Tionghoa pasti problematik. Padahal, pertanyaan balik yang harusnya muncul: kalau pun Tionghoa, emangnya kenapa? Indonesia ini negara majemuk dan semua etnis punya kontribusi.
Tapi entah kenapa, stereotype terhadap etnis Tionghoa sering muncul lagi, terutama saat suhu politik lagi panas. Diskriminasi ini bukan cuma nyakitin individu kayak Ibu Ova, tapi juga nunjukin betapa gampangnya narasi kebencian menyebar di ruang digital.
Belum berhenti di situ, netizen juga tarik-tarik kasus hukum yang pernah melibatkan Ibu Ova. Jadi, dulu Ibu Ova pernah jadi Komisaris Utama di Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Tripilar Arthajaya. Bank itu kolaps, akhirnya Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) gugat direksi dan komisaris, termasuk Ibu Ova, buat ganti rugi sekitar Rp29 miliar. Putusan Mahkamah Agung udah final: Ibu Ova diwajibkan ikut tanggung jawab.
Tapi yang penting digarisbawahi: ini kasus perdata murni, bukan pidana. Artinya, ini soal tanggung jawab bisnis, bukan kriminal. Ibu Ova udah ngaku pernah menjabat di sana dan beliau bilang siap tanggung jawab sesuai hukum. Bahkan ditegaskan, masalah ini terjadi sebelum beliau menjabat rektor UGM. Jadi gak ada kaitannya dengan posisinya sekarang.
Tapi di media sosial semua ini malah dipelintir ke arah politik. Ada yang bikin narasi: karena Ibu Ova punya masalah hukum, dia dianggap “loyal ke Pak Jokowi” demi cari perlindungan. Cocoklogi makin liar karena UGM sempat diseret-seret dalam isu ijazah Pak Jokowi. Waktu itu Ibu Ova tegas bilang, “Ijazah Pak Jokowi asli, bisa diverifikasi”. Pernyataan ini kemudian dipelintir jadi seolah dia membela Pak Jokowi karena punya kepentingan pribadi.
Padahal, yang sebenarnya terjadi: Ibu Ova hanya menjalankan kewajiban institusi akademik. UGM udah berulang kali tegaskan, arsip resmi menunjukkan ijazah Pak Jokowi memang sah. Jadi nggak ada hubungannya dengan kasus perdata Ibu Ova atau loyalitas politik.
Heran banget ya sama haters kayak gini. Begitu ada kasus, orang gampang banget bikin benang merah yang sebenarnya nggak nyambung. Rasisme terhadap etnis Tionghoa ditambah isu politik jadinya campuran beracun yang bikin gaduh.
Dan yang paling bahaya: masih ada pola blaming terhadap etnis Tionghoa. Seolah-olah kalau ada masalah, etnis ini lagi yang diseret. Padahal itu narasi lama yang harusnya udah kita tinggalkan.
Kita harus hati-hati ya dan jangan kehasut sama cocoklogi ngawur, apalagi yang berbau rasisme. Identitas pribadi Ibu Ova, suami, atau anak-anaknya gak ada kaitannya sama integritas akademik. Kalau pun benar ada unsur Tionghoa, itu bukan alasan buat melecehkan. Indonesia udah cukup sering terbakar gara-gara isu SARA. Sekarang waktunya kita lebih dewasa, gak perlu tarik-tarik etnis buat nyerang orang. Yang kita butuhin itu literasi, sikap adil, dan keberanian buat bilang tegas: diskriminasi etnis harus dihentikan!


