Pak Jokowi dan Dewi Perssik Bagi-Bagi THR, Bukannya Bersyukur Warga Malah Ngeluh Dikit

Published:

Buat yang dapet THR lebaran ini, please diterima dan disyukuri ya. Jangan kayak sekelompok masyarakat ini, dapet THR bukannya bahagia, malah jadi bahan debat. Ini soal bagi-bagi THR dari dua tokoh publik, yakni Presiden ke-7 RI Pak Joko Widodo dan penyanyi dangdut Dewi Perssik. Semua berawal dari aksi yang niatnya sederhana: berbagi di momen Lebaran.

Yang pertama dilakuin Pak Jokowi, pada tanggal 14-19 Maret 2026. Di Pasar Gede, Pasar Legi sampai Nusukan di Solo, dia bagiin THR berupa uang tunai dan sembako ke warga. Antusiasmenya tinggi banget, warga sampai antre panjang demi bisa dapat bantuan. Tapi di tengah antrean itu, muncul satu momen yang langsung viral. Seorang ibu-ibu yang ikut antre justru mengeluh setelah menerima Rp50 ribu. Dalam video yang beredar, dia bilang: “Lima puluh ribu direwangi pingsan,” yang artinya lima puluh ribu dibela-belain pingsan. Kalimat itu langsung meledak di media sosial; ada yang nyinyir balik, ada juga yang justru menganggap itu suara jujur dari realitas. “Orang yang tidak bersyukur”, ucap salah satu netizen. “Cara Jokowi menormalisasi kemiskinan rakyat, agar mudah diternak, dipelihara seperti binatang wujud manusia,” tulis netizen lain.

Lanjut ke kasus kedua, yang nggak kalah panas dialami Dewi Perssik, yang juga melakukan hal serupa di Jember. Dia membagikan THR sekitar Rp10 ribu sampai Rp15 ribu per orang. Sekilas, angka ini langsung memicu kritik, apalagi mengingat statusnya sebagai artis besar. Tapi ternyata, ceritanya nggak sesederhana itu. Dalam klarifikasinya, Dewi menjelaskan bahwa bantuan yang diberikan bukan cuma uang. “Jadi jangan dipotong-potong videonya, karena ini bukan cuma Rp15.000 saja, ada beras juga,” tegasnya. Bahkan lebih detail lagi, dia menyebut, “Satu orang bisa membawa tiga sampai empat karung beras premium ukuran lima kilo, harganya sekitar Rp85.000,” ungkapnya. Jumlah penerimanya pun bukan sedikit, sekitar 8.000 sampai 8.400 orang. Artinya, kalau dikalkulasi, nilai bantuan per orang bisa mendekati Rp100 ribu. Total yang dikeluarkan bahkan mencapai ratusan juta rupiah. Masalahnya yang viral duluan cuma potongan video bagi uang Rp15 ribu. Konteksnya hilang, narasi buruk keburu terbentuk dan alhasil opini publik langsung terpolarisasi.

Kalau ditarik garis besar, dua kasus ini punya pola yang sama. Pertama, ekspektasi publik tinggi banget; Jokowi adalah mantan presiden dan Dewi Perssik adalah selebritas besar. Jadi ketika nominalnya terlihat “kecil”, langsung dianggap nggak sebanding dengan status mereka. Kedua, era media sosial bikin informasi gampang terpotong. Jadi apa yang viral belum tentu utuh. Dan ketiga, ini yang paling penting: isu THR itu sensitif. Karena dia bukan sekadar uang, tapi simbol kesejahteraan.

Buat kami di Gerakan PIS, tindakan berbagi seperti ini harus diapresiasi. Nggak semua orang, bahkan yang punya kemampuan, mau turun langsung dan membagikan rezekinya ke masyarakat. Penting juga buat kita untuk menekankan; bantuan sekecil apa pun, secara nominal per orang, tetap punya nilai. Apalagi kalau dikalikan dengan jumlah penerima yang ribuan. Dalam konteks ini, rasa syukur jadi hal yang relevan untuk diangkat. Bukan berarti kita menutup mata dari kondisi ekonomi. Tapi ada batas antara memahami situasi dan merespons dengan cara yang kurang bijak. Ketika seseorang sudah mengeluarkan ratusan juta rupiah untuk membantu ribuan orang, lalu yang muncul justru keluhan, di situlah publik wajar mempertanyakan sikap tersebut.

Pada akhirnya, isu ini bukan sekadar soal angka. Tapi soal bagaimana kita memandang bantuan, bagaimana kita merespons kebaikan, dan bagaimana kita membangun budaya sosial yang lebih sehat. Karena kalau setiap aksi berbagi selalu dibalas dengan standar yang makin tinggi tanpa apresiasi, bukan nggak mungkin ke depan orang jadi enggan untuk berbagi. Dan itu justru jadi kerugian kita bersama. Yuk proporsional dalam bersikap!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img