Apa benar yang bisa masuk surga itu cuma umat Islam? Kalau itu ditanya ke Ustadz Khalid Basalamah, pasti dia bakal iya. Tapi apa benar begitu?
Jadi, beredar lagi video potongan ceramah Khalid yang diposting akun @yatialfaris2 pada Agustus lalu. Dalam video itu, Khalid cerita tentang pengalamannya berdialog dengan seorang dosen dari UIN. “Di tengah-tengah khutbahnya dia bilang, tapi kita tidak boleh mengaku masuk surga sendiri, karena siapa saja berbuat baik bisa masuk surga”, ucapnya mengutip khutbah itu. Khalid mengaku nggak terima dengan khutbah itu dan langsung mendatangi dosen itu setelah khutbah Jumat. “Saya mau tanya pendapat anda pribadi. Anda seorang dokter dalam Islam, kan? Ngajar di UIN. Bagaimana pendapat anda pribadi?” ucapnya. Tapi, kata Khalid, dosen itu nggak menjawab.
Khalid lalu mengutip Surah Al-Bayyinah dan bilang: “sesungguhnya telah kafir orang-orang Yahudi dan Nasrani”. Dari situ Khalid menegaskan, non-Muslim termasuk Kristen akan kekal di neraka kalau meninggal tanpa beriman kepada Allah. “Lalu bagaimana perasaan mereka kalau kita ucapkan itu?” ucapnya mengutip pertanyaan dosen UIN itu. “Saya bilang ini bukan masalah perasaan, saudaraku. Ini masalah keyakinan. Anda menyebarkan keyakinan yang salah”, katanya. Khalid pun nyeletuk: “Kalau semua agama sama, saya pindah Nasrani aja. Enak nyanyi seminggu sekali masuk surga. Ngapain jadi Muslim, banyak haramnya,” ucapnya.
Video potongan ceramah Khalid itu langsung menuai gelombang kritik. Salah satunya datang dari alumnus UIN Yogyakarta, Sarjoko S., dalam tulisannya di portal islam.co. “Jika benar ada dosen yang berpendapat begitu, sebut saja namanya”, tulis Sarjoko. Sarjoko juga ngingetin, menghormati agama lain bukan berarti menyamakan agama. Dia bahkan ngutip QS Al-An’am:108 yang melarang umat Islam memaki sesembahan agama lain. “Justru ceramah ustad yang menyinggung ibadah agama lain katanya enak nyanyi seminggu sekali, itu bukan ajaran Kanjeng Nabi Muhammad SAW,” tulisnya. Menurutnya, pernyataan publik Khalid itu bisa menciptakan fitnah dan kebencian berjamaah, termasuk lembaga UIN.
Pernyataan Khalid soal surga-neraka sebenarnya bukan hal baru. Dalam berbagai ceramah yang diunggah ke TikTok dan YouTube, dia berulang kali menyebut orang kafir akan masuk neraka tanpa hisab. Dalam satu video yang dikutip GenMuslim.id, Khalid bilang non-muslim bakal kekal di sana. Dia juga tegasin, amal baik non-Muslim tidak akan berguna di akhirat karena “pahala mereka sudah dibayar tuntas di dunia”. Bagi Khalid, kriteria keselamatan mutlak ditentukan oleh iman kepada Allah dan Nabi Muhammad SAW.
Kembali ke pertanyaan awal, apa benar yang bisa masuk surga itu cuma umat Islam? Setiap agama pasti punya doktrin keselamatan masing-masing. Siapa yang akan masuk surga dan siapa yang tidak akan masuk surga. Dalam Islam, sebagian pihak percaya bahwa iman dan tauhid adalah ‘golden ticket’ masuk surga. Tapi sebagian pihak dalam Islam percaya rahmat Allah itu luas dan universal. Ini, misalnya, bisa dibaca dalam Surah Al-A’raf ayat 156 yang artinya, “Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” Juga Al-Baqarah 62 yang artinya, “Siapa pun yang beriman kepada Allah, berbuat baik, dan percaya hari akhir akan mendapat pahala”. Artinya, rahmat Tuhan nggak terbatas pada label agama. Nabi pun pernah bersabda: “Allah tidak melihat rupa dan hartamu, tapi hati dan amalmu” (HR Muslim).
Kami di Gerakan PIS, menghormati doktrin keselamatan masing-masing. Tapi kami menganggap keyakinan teologis ini jangan dijadikan klaim dalam kehidupan sosial, terutama dalam interaksi dengan non-Muslim. Bahwa non-Muslim pasti masuk neraka, sebaik apapun mereka. Ini jelas bentuk kesombongan beragama yang harusnya ditanggalkan. Padahal dalam Islam dipercaya bahwa seseorang masuk surga atau neraka adalah hak prerogatif Allah. Apalagi di Indonesia, kita hidup berdampingan dengan saudara kita yang non-Muslim. Iman sejati nggak perlu dibuktikan dengan merendahkan iman orang lain. Yang dinilai Tuhan bukan semata label agama, tapi ketulusan hati dan kebaikan terhadap sesama. Yuk, jadikan agama sebagai sumber kedamaian, bukan sumber untuk menghakimi kelompok yang berbeda!


