Bayangin udah nabung bertahun-tahun buat nikah, eh pas resepsi… kateringnya nggak muncul. Kedengarannya absurd, tapi ini beneran dialami ratusan pasangan setelah menggunakan jasa Wedding Organizer milik Ayu Puspita Dinanti, pemilik brand By Ayu Puspita. Kasus ini jadi viral karena kerugiannya bukan cuma materi, tapi juga psikologis ke keluarga. Ini semua berawal dari satu pelaku, yakni Ayu Puspita, pemilik jasa Wedding Organizer bernama By Ayu Puspita.
Layanannya mencakup venue, dekor, MUA, dokumentasi, katering, sampai bonus-bonus kayak food stall, free venue, hingga perabot rumah tangga. Kebayang kan, harganya murah, fasilitas ‘wah’, promo gila-gilaan, akhirnya banyak calon pengantin merasa “wah ini WO impian”.
Tapi semuanya berubah ketika Sabtu 6 Desember 2025, sejumlah resepsi berlangsung kacau. Gedung udah dipasang dekor, kursi rapi, musik ada… tapi pas jam makan? Meja prasmanan kosong. Banyak tamu bengong, keluarga panik, dan ada yang cuma nemu minuman jus doang—itu pun katanya bukan dari WO tapi disediain dadakan sama pihak gedung.
Seorang keluarga korban, Nana, cerita “Acaranya udah dimulai, tapi kateringnya nggak ada sama sekali,” ujarnya. Karena nggak ada kejelasan posisi vendor, keluarga akhirnya GoFood dadakan. “Dateng makanan kebab, pizza begitu. Tetapi nggak cukup, tamunya banyak,” tambahnya. Korban lain, Samuel, yang resepsinya di Gedung Pelindo, juga bilang acaranya berantakan dan bikin tamu pulang lebih cepat. Padahal dia udah bayar lunas: “Aku lunas kak sekitar Rp 82 juta plus-plus,” katanya. Bahkan honeymoon yang udah direncanain harus ditunda.
Yang bikin shock, di hari yang sama ada delapan resepsi gagal sekaligus, dan ini membuat para korban saling menghubungi, membentuk grup, dan mendata kerugian. Pada tahap awal saja, sudah terkumpul data 230 pasangan dengan estimasi kerugian Rp15–16 miliar, dan minimal 87 laporan polisi masuk.
Banyak pihak menilai pola ini mirip skema ponzi, di mana uang klien baru dipakai untuk menutup biaya klien sebelumnya. Ketika pemasukan berhenti, sistem langsung kolaps. Nah, pola ini mirip dengan yang dituduhkan ke Ayu: korban bayar, uang dipakai buat acara sebelumnya, vendor belum dibayar, dan ketika klien baru habis, semuanya runtuh. Ayu sendiri sempat ada pengakuan kalau uang korban diputar dari pembayaran klien baru. “Kalau untuk uang saya mengumpulkan dananya lagi untuk penjualan ke depannya,” katanya. Bahkan mengaku mau jual rumah untuk refund, tapi nyatanya nilainya nggak sebanding sama total kerugian.
Kemarahan memuncak Minggu, 7 Desember lalu, pas ratusan korban mendatangi rumah Ayu di Ceger, Jakarta Timur. Beberapa video memperlihatkan korban berteriak dan menangis, karena pernikahan yang mereka impikan literally jadi mimpi buruk. Polisi akhirnya menangkap Ayu, suami, dan rekannya, dan proses hukum sekarang ditangani lintas wilayah oleh Polda Metro Jaya.
Dari keterangan awal penyidikan media, dana klien dipakai Ayu buat beli rumah mewah dan liburan luar negeri. Nggak heran kasus ini jadi viral masif, karena sifatnya bukan sekadar “salah vendor”. Tapi dugaan penipuan dengan korban besar dan melibatkan momen krusial dalam hidup seseorang.
Anehnya, ada aja netizen yang bilang “Ini salah korban, masa mau murah-murah?” Tapi jujur narasi victim blaming kayak gitu malah menutup masalah struktural. Banyak orang menikah dengan tabungan lama, berharap dapat layanan yang wajar, dan tertarik promo itu normal. Yang salah bukan harapan mereka, tapi praktik bisnis dan pengawasan yang lemah.
Dari sudut pandang Gerakan PIS, kasus ini adalah alarm besar tentang lemahnya perlindungan konsumen dan keadilan sosial. Banyak pasangan kehilangan tabungan hidup, kehilangan momen sakral, bahkan merasa malu di depan keluarga besar. Negara harus hadir untuk memastikan penyelidikan transparan dan menindak dugaan penipuan tanpa pandang bulu. Karena pada akhirnya, ini bukan sekadar “acara gagal”, tapi bentuk trauma kolektif yang nggak boleh terulang. Yuk kita kawal proses hukum kasus ini!


