RISMON SIANIPAR TOBAT, AKUI IJAZAH JOKOWI ASLI DAN MINTA MAAF

Published:

Penggugat keaslian ijazah Jokowi, Rismon Sianipar, tiba-tiba meminta maaf. Dia mengakui kesalahan analisis dan mengajukan restorative justice. Padahal di kelompok penggugat, Rismon adalah pihak yang dianggap paling otoritatif. Buku *Jokowi’s White Paper* setebal 700 halaman itu sebagian besar adalah tulisannya, sementara Roy Suryo dan Tifauzia Tyassuma hanya bisa dianggap sebagai penggembira karena tulisan keduanya jumlah halamannya sedikit dan tidak relevan dengan tema gugatan.

Perubahan sikap Rismon ini memperlihatkan bahwa tuduhan yang mereka ajukan memang lemah. Ketika menghadapi fakta hukum, semua asumsi mereka ternyata berantakan. Dalam polemik ijazah ini, Jokowi adalah korban yang sangat dirugikan. Ia dan keluarganya tiba-tiba menjadi sasaran serangan opini tanpa dasar yang kuat. Orang-orang itu bahkan secara tidak bermoral mendatangi pemakan orang tua Jokowi untuk menunjukkan bahwa identitas Jokowi itu palsu sepenuhnya. Cacian dan makian di media sosial menghantam reputasi Jokowi secara terus-menerus, bahkan menyasar martabat keluarga yang tidak terlibat dalam polemik. Tuduhan tanpa dasar itu menunjukkan bagaimana media sosial bisa berubah menjadi jahat, di mana karakter seseorang bisa diserang seenaknya tanpa bukti yang kuat.

Jokowi telah menerima tuduhan semacam itu bertahun-tahun lamanya. Ia akhirnya menempuh jalur hukum karena para penuduh telah melewati batas. Padahal keaslian ijazah Jokowi sebenarnya telah ditegaskan oleh Universitas Gadjah Mada sebagai lembaga resmi penerbitnya. Pernyataan dari UGM seharusnya menjadi rujukan utama karena mereka memiliki arsip akademik asli. Selain itu, tim Laboratorium Forensik Kepolisian Negara Republik Indonesia juga telah menyatakan dokumen tersebut autentik. Hasil pemeriksaan forensik tersebut seharusnya cukup menghentikan spekulasi liar di medsos. Namun ironisnya, kedua lembaga tersebut justru dituduh macam-macam oleh pihak penggugat. Kondisi ini berbahaya karena bisa merusak kepercayaan publik terhadap institusi negara.

Jokowi sendiri terlihat tetap tenang saat menghadapi tuduhan tersebut. Sikap tenang ini menunjukkan kepercayaan dirinya terhadap kebenaran. Ia bahkan mempersilakan tuduhan itu diuji melalui jalur hukum. Setelah proses hukum berjalan, satu per satu penuduh menyadari bahwa mereka ternyata salah. Permintaan maaf Rismon menjadi pengakuan bahwa tuduhan sebelumnya memang cacat, dan mengonfirmasi bahwa kegaduhan yang mereka buat adalah murni fitnah tak berdasar. Sebelumnya, Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis juga telah lebih dahulu meminta maaf kepada Jokowi. Keduanya bahkan datang langsung untuk mengakui bahwa ijazah Jokowi asli setelah melihat ijazah asli Jokowi dalam gelar perkara. Jokowi akhirnya memaafkan Eggi dan Damai, apalagi ketika mengetahui Eggi sedang menderita sakit. Pemberian maaf kepada keduanya menunjukkan kebesaran sikap Jokowi, dan tuntutan pada keduanya diselesaikan lewat restorative justice hingga berujung penghentian perkara.

Ketika Eggi dan Damai meminta maaf pada Jokowi, Rismon sempat meledeknya dan bahkan menyebut itu sebagai tindakan pengkhianatan. Tapi sekarang, Rismon sampai pada titik yang sama. Ia sadar telah melakukan kesalahan dan berupaya melakukan pertaubatan. Tuduhan, makian, dan cacian pada Jokowi yang dia lakukan dulu minta dimaafkan. Kita tentu menghargai upaya Rismon untuk mengakui kesalahan dan minta maaf. Sayangnya dia terlambat melakukan itu saat semua langkah hukumnya menemui jalan buntu. Bisa disimpulkan, pertaubatan Rismon terjadi karena dia kepepet, bukan karena dia mengalami kesadaran. Berbeda dengan Eggi dan Damai yang setelah melihat ijazah asli Jokowi langsung sadar kalau mereka telah salah. Kerusakan nama baik Jokowi dan keluarganya telah terlanjur terjadi. Sampai sekarang pun orang-orang seperti Roy Suryo dan yang lain masih terus menyebarkan tuduhannya. Kita memang berharap masalah ini dapat diselesaikan dengan cara baik dan beradab. Pak Roy dan Bu Tifa mau ikut juga?

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img