Cerita Miris Mahasiswa yang Terpaksa Mengeluarkan Biaya Ekstra untuk Dosen Penguji Skripsi

Published:

Apa yang dialami sejumlah mahasiswa ini layak mengetuk hati kita. Bayangkan, mereka harus mengeluarkan biaya yang nggak kecil untuk menyediakan snack dan makan siang para dosen penguji skripsi. Bahkan ada orangtua mahasiswa yang terpaksa menjual cincinnya untuk keperluan anaknya itu. Cerita ini diangkat akun @modjokdotco yang diunggah ulang akun instagram @zonamahasiswa.id pada 9 Maret lalu.

Cerita pertama datang dari seorang perawat, kita sebut aja namanya Priyantika. Cerita bermula waktu masih kuliah keperawatan, sebelum sidang skripsi ibunya Priyantika sampe harus jual cincin biar anaknya bisa kasih suguhan ke dosen penguji. Priyantika ngaku biaya yang dikeluarin cukup besar. Mulai dari bayar ujian sidang skripsi sampe sediain snack dan makanan buat para penguji. Priyantika juga ngaku dirinya harus siapin banyak makanan untuk 4 dosen penguji. Jadinya dia harus siapin 4 nasi plus bebek goreng yang satunya seharga Rp25 ribu, 4 snack berisi 3 macam kudapan, 4 botol air mineral dan 4 botol minuman pulpy. ”Udah bayar untuk bisa daftar sidang, saya masih harus menyediakan konsumsi untuk dosen pembimbing,” ujarnya. Makanya karena duitnya kurang, Priyantika sampe harus jual cincin ibunya biar bisa ngasih ”Ubo Rampe” buat para dosennya. Ubo Rampe itu istilah dalam budaya Jawa yang berarti perlengkapan atau rangkaian benda yang digunakan dalam suatu ritual, upacara, atau tradisi.

Ada Salsabila yang membawa macaroni schotel buatan ibunya sebagai suguhan kepada dosen penguji. Ada juga Nabilah yang mengaku membawa snack dan makanan saat sidang skripsi. “Iya, Mas. Waktu sidang saya juga bawa snack sama air mineral, terus nasi kotak juga,” ungkap Nabilah. Ada juga Yati yang diminta pihak kampus untuk membawa buah tangan. Oleh-oleh itu nantinya akan diberikan kepada dosen penguji yang datang dari luar kota. Selain menyediakan snack dan air mineral, Yati membawa telur asin sebagai buah tangan.

Sebenarnya budaya membawa makanan saat sidang skripsi bukan hal yang aneh di banyak kampus di Indonesia. Dalam banyak kasus, makanan dianggap sebagai bentuk sopan santun atau ucapan terima kasih ke dosen pembimbing dan penguji. Jadi niat awalnya sebenarnya sederhana, yaitu menghormati dosen yang sudah membimbing mahasiswa sampai tahap akhir kuliah. Masalahnya, kebiasaan yang awalnya sekadar bentuk penghormatan lama-lama jadi kayak kewajiban nggak tertulis. Beberapa mahasiswa merasa tidak enak kalau datang ke sidang tanpa membawa apa-apa. Padahal tidak semua mahasiswa memiliki kondisi ekonomi yang sama. Ada yang mungkin mampu menyediakan makanan, tapi ada juga yang harus berpikir dua kali.

Apalagi mahasiswa sebelumnya sudah mengeluarkan cukup banyak biaya selama kuliah. Mulai dari uang kuliah, biaya penelitian, biaya cetak skripsi, sampai biaya administrasi sidang. Jadi ketika masih harus menyediakan konsumsi tambahan, sebagian mahasiswa merasa bebannya makin bertambah. Kalau melihat sistem pendidikan di Indonesia, sebenarnya tidak ada aturan resmi nasional yang mewajibkan mahasiswa memberi makanan kepada dosen saat sidang. Kebiasaan itu lebih sering muncul sebagai tradisi informal di tingkat kampus atau jurusan. Bahkan di beberapa universitas, praktik seperti ini sudah mulai dikurangi atau dilarang. Tujuannya supaya proses akademik tetap berjalan adil dan tidak membebani mahasiswa.

Kalau dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asia Tenggara, praktik seperti ini juga tidak selalu ditemukan. Di Malaysia, misalnya, sidang skripsi biasanya berlangsung lebih formal di ruang ujian tanpa kewajiban menyediakan konsumsi untuk dosen. Mahasiswa fokus pada presentasi penelitian dan sesi tanya jawab dari para penguji. Hal yang hampir sama juga bisa ditemukan di beberapa kampus di Thailand. Sidang skripsi dilakukan seperti seminar akademik biasa. Kalaupun ada makanan, biasanya disediakan oleh pihak kampus atau hanya sekadar minuman ringan. Artinya, inti dari sidang skripsi di banyak negara sebenarnya adalah proses evaluasi ilmiah, bukan soal suguhan atau jamuan. Yang dinilai tetap kualitas penelitian, cara berpikir mahasiswa, dan kemampuan menjelaskan hasil risetnya.

Kisah seperti Priyantika jadi pengingat bahwa sistem pendidikan seharusnya tidak menambah beban yang tidak perlu bagi mahasiswa. Apalagi bagi mereka yang datang dari keluarga sederhana dan harus berjuang keras untuk bisa lulus kuliah. Harapannya, ke depan kampus bisa membuat aturan yang lebih jelas supaya proses sidang tetap berjalan adil, sederhana, dan fokus pada akademik. Budaya saling menghargai tentu penting, tapi sebaiknya tidak sampai berubah menjadi tekanan bagi mahasiswa. Pada akhirnya, kelulusan seorang mahasiswa seharusnya ditentukan oleh kerja keras, penelitian, dan kemampuan akademiknya. Bukan oleh seberapa banyak makanan yang dibawa ke ruang sidang. Maju terus pendidikan Indonesia!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img