Walikota New York Mamdani, Boikot Parade Hari Israel

Published:

Zohran Mamdani, Wali Kota New York, bikin kejutan besar. Dia menolak hadir di Israel Day Parade pada 31 Mei 2026 kemarin. Dan ini bukan hal sepele, karena Mamdani adalah wali kota New York pertama yang memboikot acara tersebut. Sejak parade ini pertama kali digelar pada 1965, belum pernah ada wali kota yang absen dengan sengaja. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?

Israel Day Parade adalah acara tahunan pro-Israel yang digelar di Fifth Avenue, Manhattan. Acara ini sudah berlangsung selama 61 tahun dan menjadi simbol solidaritas komunitas Yahudi di New York. Tahun ini, parade dihadiri lebih dari 50.000 orang, salah satu yang terbesar dalam sejarahnya. Hadir berbagai tokoh besar: Gubernur New York Kathy Hochul, Senator Chuck Schumer, hingga Jaksa Agung New York Letitia James. Dari pihak Israel, delegasi yang datang antara lain Ketua Knesset Amir Ohana dan Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich. Tapi satu kursi kosong, yaitu kursi Wali Kota New York.

Mamdani sudah terang-terangan bilang dari masa kampanye bahwa dia tidak akan menghadiri parade itu. Alasannya jelas karena dia menolak kebijakan pemerintah Israel, bukan memusuhi komunitas Yahudi. Mamdani adalah wali kota Muslim pertama dalam sejarah New York City. Dia sudah lama dikenal sebagai sosok yang pro-Palestina dan konsisten dengan sikapnya itu. Dua pekan sebelum parade, kantor Mamdani bahkan merilis video memperingati Nakba. Nakba adalah istilah Arab yang berarti “malapetaka”, merujuk pada pengusiran sekitar 700.000 warga Palestina dari tanah mereka saat perang Arab-Israel 1948. Video itu menampilkan kesaksian seorang perempuan Palestina bernama Inea Bushnaq yang terusir dari rumahnya saat berusia 9 tahun. Video peringatan Nakba itu menjadi sorotan karena disampaikan oleh seorang Wali Kota New York yang masih menjabat.

Tapi langkah Mamdani ini tidak disambut semua pihak dengan tangan terbuka. Rabi Marc Schneier, pendiri The Hampton Synagogue, menyebut keputusan Mamdani sebagai “tamparan bagi seluruh warga Yahudi New York.” Schneier juga mengecam video Nakba tersebut sebagai propaganda yang dianggap tidak menyertakan konteks pengusiran warga Yahudi di periode yang sama. Para pendukung Israel marah karena video itu dinilai mengabaikan peran Holocaust dalam lahirnya negara Israel.

Kehadiran Smotrich di parade juga memantik kritik dari Gubernur Hochul sendiri. Hochul menyebut Smotrich sebagai ekstremis sayap kanan yang retorikanya bertentangan dengan nilai-nilai New York. Uniknya, Komisaris Kepolisian New York Jessica Tisch yang beragama Yahudi tetap hadir di parade, berbeda dari bosnya. Dia bilang, memang itu pilihan Mamdani untuk tidak ikut berbaris, dan itu pilihannya sendiri untuk ikut dengan bangga. Meski tidak hadir, Mamdani tetap menjamin pengamanan penuh dari kepolisian agar parade berjalan aman dan damai. Dan memang, acara berlangsung meriah tanpa insiden berarti.

Di sisi lain, ada konteks yang lebih besar, yaitu dukungan warga Amerika terhadap Israel terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Tren ini juga menguat di tengah kemarahan global atas perang di Gaza, yang oleh sebagian pihak dan organisasi hak asasi manusia disebut sebagai genosida. New York sendiri adalah kota dengan populasi Yahudi terbesar di Amerika Serikat, dan ini menjadikan sikap Mamdani semakin sensitif dan berani sekaligus.

Mamdani menyatakan dia percaya Israel memiliki hak untuk berdiri sebagai negara, tapi tidak sebagai sistem yang mendiskriminasi warga non-Yahudi. Dia juga berjanji akan terus melindungi komunitas Yahudi di New York dan aktif memerangi antisemitisme. Sikap Mamdani ini membuktikan ada pergeseran nyata dalam peta politik Amerika soal isu Palestina-Israel. Dulu, hampir mustahil seorang pejabat tinggi AS secara terbuka berpihak ke Palestina. Sekarang, wali kota kota terbesar di AS berani melakukannya, dan tidak mundur meski dikritik keras.

Yang menarik, Mamdani tidak memilih jalan tengah yang aman. Dia memilih berdiri di posisinya, konsisten dari kampanye hingga menjabat. Apakah ini keberanian moral atau kalkulasi politik? Mungkin kita yang bisa menilainya sendiri. Intinya, apapun motivasinya, langkah Zohran Mamdani ini jadi penanda zaman baru di politik Amerika. Salut untuk Mamdani!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img