Di Jepang anak-anak diajarkan rasa hormat kepada orang lain sejak dini, ehhh di Indonesia sejumlah sekolah Islam ngajarin anak-anaknya boikot. Ini misalnya dilakukan oleh SDIT Insan Kamil Depok, SDIT Nurul Ilmi Jambi dan beberapa sekolah Islam lainnya. Nggak heran sih kalau Jepang dikenal sebagai bangsa yang paling bijaksana. Terkait bagaimana di Jepang menerapkan sistem pendidikannya, sehingga Jepang menjadi negara maju disampaikan akun Tiktok @zenwill_official pada 17 April lalu.
Video itu jelasin bahwa ternyata di Jepang itu para siswa nggak ada ujian akademik sampai mereka kelas 4. Orang Jepang percaya bahwa ada 5 pelajaran yang lebih penting diajarkan ke anak daripada sekedar ilmu akademik dalam ujian semata. Pertama, anak-anak diajarkan untuk berperilaku baik dan memiliki rasa hormat kepada semua orang, terlepas status finansial mereka. Kedua, anak-anak Jepang diajarkan rasa kemandirian dan bekerja dalam tim. Misalnya nih, nggak ada petugas kebersihan di sekolah-sekolah Jepang ya karena anak diajarkan untuk berbagi tanggung jawab dan peran.
Ketiga, Siswa belajar untuk menghargai, bahkan melestarikan lingkungan. Keempat, pendidikan benar-benar dikejar untuk ilmu pengetahuan, bukan sekedar nilai. Di kelas rendah dan menengah (setara SD dan SMP), nggak ada sistem nilai di setiap mata pelajaran. Terakhir, kesopanan dan ketepatan waktu sangat ditekankan. Hal ini yang bikin minat anak Jepang terhadap pelajaran menjadi tinggi, dan itu berpengaruh terhadap tingkat kehadiran mereka di kelas sebesar 100 persen.
Apa yang disampein video ini bener banget. Di Jepang, pendidikan bukan tentang mencetak siswa yang pandai menghafal atau pintar secara akademis sejak dini. Tapi bagaimana anak-anak di sana mempunyai karakter. Mereka lebih percaya bahwa karakter harus dibentuk dulu sebelum ilmu ditanamkan. Anak diajarkan sopan santun, seperti bagaimana menyapa, menghormati guru, dan berinteraksi dengan teman. Mereka juga dikenalkan pada pentingnya kerja sama melalui aktivitas kelompok, bukan kompetisi individu.
Semua itu dilakukan Jepang karena mereka punya 2 filosofi pendidikan yang penting banget, namanya Hansei dan Ganbarimasu. Hansei itu refleksi diri dimana setelah kegiatan, anak diminta merefleksikan apa yang dilakukan dengan baik dan apa yang bisa diperbaiki. Sementara Ganbarimasu semangat pantang menyerah, anak diajari untuk tidak mudah menyerah, bahkan ketika sulit. Sementara Indonesia? Dari usia dini, anak-anak sudah dikenalkan pada ujian, try out, dan les tambahan. Nilai jadi tolok ukur utama, bukan sikap atau karakter.
Pendidikan karakter lebih banyak bersifat teoritis di atas kertas. Hasilnya, disiplin dan tanggung jawab sosial tidak terbangun kuat dari usia dini. Guru di Jepang juga menjaga netralitas mereka di kelas. Dan memastikan setiap siswa merasa aman, didengar, dan dihargai. Indonesia perlu belajar dari Jepang, tapi nggak perlu copy-paste semuanya.
Kita bisa mulai dari hal yang paling mendasar: memperlakukan anak-anak sebagai manusia seutuhnya. Bukan objek uji coba kurikulum dan target propaganda. Karena pendidikan bukan soal mencetak manusia cerdas, tapi mencetak manusia beradab. Maju terus pendidikan Indonesia!


