Aneh! Juri Lomba Ini Bilang Anak TK Mustahil Bisa Mewarnai Pakai Teknik Gradasi?!

Published:

Juri lomba mewarnai tingkat PAUD/TK di Batang, Jawa Tengah ini ngada-ngada banget deh. Masa para juri itu gak percaya dengan hasil karya anak hanya karena hasilnya terlalu bagus? Mereka curiga hasil karya itu dibantu orang tuanya dan dibilang ‘mustahil dilakukan anak TK’. Kalo bahasa anak Gen Z sekarang, ini juri ‘crab mentality’ banget!

Btw, lomba ini diadakan dalam rangka memperingati ulang tahun PAUD Terpadu Mutiara ke-15. Lomba itu harusnya terselenggara dengan vibes-nya happy, penuh warna, tempat anak-anak nunjukin kreativitas. Tapi naasnya berujung ricuh cuma karena… gambar beberapa anak terlalu bagus.

Konfliknya berawal ketika juri menilai ada karya peserta bernama Nia yang terlalu bagus, terutama di bagian gradasi warna. Menurut mereka, teknik itu “mustahil dilakukan anak TK”. Dari situ, juri kasih opsi: Nia diminta mengulang mewarnai. “Kalau misalnya bisa mencapai seperti ini, ini bisa dibatalkan. Monggo, monggo”. Yang artinya: kalau si anak bisa ngerjain ulang sebagus itu, baru penilaian dibuka lagi. Kalau tidak, ya dianggap dibantu orang tua.

Masalahnya, semua tuduhan itu cuma berdasarkan feeling juri—tanpa bukti, tanpa cek ulang proses sebelumnya. Dan solusi yang dikeluarkan nggak mempertimbangkan kondisi anak yang mungkin sudah capek atau badmood. Orang tua Nia pun gak terima dan lontarin protesnya di media sosial. Lewat akun TikToknya @nailabitania, dia bilang, “Dengan penilaian asumsi seperti itu dirasa tidak sportif sama sekali”. Naila juga menegaskan anaknya mewarnai sendiri dan sudah sering ikut lomba sebelumnya. “Mereka itu mengkerdilkan kemampuan anak dan penilainnya berdasarkan pemikiran juri sendiri bahwa anak TK itu gak bisa, gak bakal bisa gradasi”, lanjutnya. Bahkan, ia menyebut panitia sempat “nantangin” kalau mau viralkan, silakan viralkan. Di kolom komentar, dia juga jelasin bahwa dia nggak menuntut anaknya jadi juara, dia cuma mau ada sistem penilaian yang benar.

Netizen yang mantau kasus ini pun ikut ngamuk. “brarti jurinya ga mengikuti perkembangan anak Tk jaman skg. padahal sekelas anak TK aja skg cara gambarnya udah bagus kalo sering dilatih”, tulis salah satu netizen. Ada juga yang nyeletuk, “Les gambar di mana-mana, YouTube banyak tutorial, masa masih dianggap mustahil?” Bahkan banyak netizen yang lempar balik boomerang ke panitia, kalau terbukti dibantu orang tua ya berarti mereka yang lalai. “Pas mewarnai panitia nya ngk ngawasi apa?” timpal yang lain.

Setelah kasusnya makin viral, pihak PAUD Terpadu Mutiara akhirnya mengeluarkan permintaan maaf resmi. “Tidak pernah ada niat sedikit pun dari pihak sekolah untuk meragukan kemampuan anak, karena kami percaya setiap anak itu luar biasa”, tulis mereka. Mereka mengakui ada miskom, perbedaan sudut pandang juri, dan berjanji bakal evaluasi. Mereka juga klarifikasi bahwa juri berasal dari pihak luar dan bekerja secara independen. Mediasi antara sekolah dan orang tua sudah dilakukan, dan Naila sebagai orang tua menyampaikan bahwa ia sudah memaafkan.

Tapi inti masalahnya tetap sama: kenapa kemampuan anak justru dianggap mencurigakan? Ini bukan cuma soal lomba mewarnai, tapi soal bagaimana orang dewasa memandang perkembangan anak. Saat ada karya di luar dugaan, kita punya dua respons: kagum, atau curiga. Sayangnya, panitia kemarin memilih curiga duluan. Padahal anak sekarang tumbuh di era teknologi, akses internet, tutorial digital, dan banyak stimulasi kreatif. Banyak anak usia empat sampai lima tahun sudah bisa shading karakter animasi atau blending warna dengan rapi.

Jadi kalau hasilnya bagus, respons pertama seharusnya bukan “ini dibantu orang tua”, tapi memastikan proses penilaiannya adil dan transparan. Di sinilah pentingnya standar pengawasan yang jelas. Panitia harus tahu cara memantau lomba, bukan asal nuduh tanpa bukti. Tuduhan semacam itu bisa melukai kepercayaan diri anak, yang seharusnya lagi bangga-bangganya nunjukin hasil karyanya. Lomba anak itu harusnya jadi ruang aman buat berekspresi, bukan tempat kemampuan mereka dipersempit oleh asumsi orang dewasa. Yang perlu dibenahi bukan anaknya, tapi sistem dan mindset penilaiannya. Kalau mau membangun budaya yang menghargai bakat sejak dini, mulai dulu dari percaya pada kemampuan mereka. Stop meremehkan kemampuan anak, lebih adaptif lagi ya bapak ibu juri dan panitia!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img