Sebagian pejabat pemerintah Indonesia emang suka banget ngomong tanpa mikir dulu. Kadang omongannya nggak di filter, nggak dipikirin dulu bakal nyakitin rakyat atau enggak. Contoh paling barunya, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi. Saat dia komentar soal program Makan Bergizi Gratis (MBG), dia bilang anak-anak yang keracunan itu “perutnya cuma kaget.”
Nggak cuma itu, dia juga bilang kejadian keracunan massal itu “nggak usah dibesar-besarkan.” Lah kok kesannya kayak nggak ada empatinya sama sekali ya? Ribuan anak keracunan loh, bukan hal kecil. Jadi ceritanya, Pak Luthfi ngasih informasi kalau sekitar 2.700 anak di 15 kabupaten/kota di Jawa Tengah terkontaminasi makanan dari program MBG. Dari total 35 kabupaten/kota di Jateng, 15 diantaranya melaporkan kasus yang “nggak baik-baik aja.” Dia bilang sih, informasi itu akan jadi bahan evaluasi besar biar nggak terulang lagi. Dia juga ngejelasin kalau program MBG itu program nasional, jadi daerah wajib jalanin dan harus lebih ketat mengawasi.
Nah, menurut analisisnya, masalahnya ada di higienitas dan pelatihan tenaga pengolah makanan yang kurang. “Ada kelemahan di sanitasi, ada SDM yang belum profesional dalam menjamah makanan. Ucek-ucek, demek (menyentuh), akhire jadi penyakit. Omprenge ora resik (omprengnya tidak bersih), jadi penyakit,” kata dia. “Karena buru-buru, yang menerima belum siap, disimpan kelamaan, jadi penyakit. Sing biasane (yang biasanya) makan indomie dikasih spaghetti ora (tidak) cocok, wetenge (perutnya) jadi penyakit,” lanjutnya. Terus dikutip dari Radar Jogja, Luthfi juga ngomong, “Evaluasinya macam-macam. Kadang ada yang perutnya kaget, diare, itu hal biasa. Jadi jangan dibesar-besarkan, nanti malah bikin orang takut,”
Dan ya udah, warganet langsung ramai di kolom komentar. “Pak,,,, dikaji ulang, ada kesalahan dimana. Bukan nyalahin anak,,, si anak hanya konsumen, pemakan… jgn berdalih menyalahkan rakyat terus” tulis seorang netizen. “Para pejabat sering ngomong tanpa mikirin perasaan rakyat” tulis netizen lain. “Tidak mendidik bicaranya. Ini masalah nyawa anak sekolah Pa Gubernur yg terhormat” tulis yang lain. Jujur aja, pernyataan kayak gini tuh nyesek banget didengar. Sebagai pemimpin daerah, seharusnya dia lebih hati-hati ngomong dan nunjukin empati, bukan malah nyalahin kondisi perut anak-anak. Kalau makanan yang dikasih nggak higienis, ya jelas aja tubuh bereaksi.
Itu bukan karena “perutnya kaget,” tapi karena makanannya bermasalah! Dan perbandingan “anak-anak biasa makan mie dikasih spaghetti jadi kaget” tuh kayak ngerendahin rakyat sendiri. Masalahnya kan bukan di lidah atau perut, tapi di cara mengolah dan kebersihan makanan. Harusnya Pak Gubernur fokus ke evaluasi — perbaiki dapur, perketat higienitas, awasi distribusi makanan, dan pastikan nggak ada anak yang jadi korban lagi. Bukan malah nyari pembenaran atau kasih pernyatan yang menyinggung rakyat.
Ingat, 2.700 anak itu bukan angka kecil. Itu ribuan nyawa dan keluarga yang cemas. Yang dibutuhkan rakyat itu bukan kata-kata yang nyakitin, tapi sikap simpatik dan solusi nyata. Semoga ke depan, Pak Luthfi bisa lebih hati-hati ngomong di depan publik. Yuk jadi pejabat yang memberikan solusi bagi rakyatnya !


