Bakal calon presiden, Anies Baswedan, lagi jadi sorotan nih. Dia baru saja dinobatin sebagai bagian dari Komunitas Masyarakat Indonesia Tionghoa (Komit). Penobatan itu berlangsung dalam acara bertema “Silaturahmi Kebangsaan Komit dengan Anies Baswedan”. Anies dipakaikan jaket simbolis berwarna putih yang bertuliskan ‘Komit’ di bagian kiri. Di bagian kanannya ada siluet foto bertuliskan ABW, akronim dari Anies Baswedan.
Yang lebih mengejutkan, perempuan yang mengenakan jaket simbolis itu ke Anies adalah Veronica Tan. Veronica itu mantan istrinya Ahok. Ahok dan Anies pernah bersaing di Pilkada DKI Jakarta tahun 2017. Kata Veronica, penerimaan Anies di Komit bukan untuk mendukung Anies di Pilpres 2024 nanti. Dukungan darinya dan dari masyarakat, kata Veronica, sangat bergantung dengan program yang dibawa Anies dalam visi dan misinya sebagai capres. Penobatan Anies ini jelas bikin heboh. Itu karena Anies selama ini dianggap menggunakan politik identitas untuk meraih kemenangan di Pilkada Jakarta. Anies diframe ‘pribumi’ dan muslim, sedangkan Ahok diframe ‘non-pribumi’ dan Kristen.
Anies bahkan menggunakan diksi pribumi dan non-pribumi dalam pidato kemenangannya. Pribumi digambarkan Anies sebagai pihak yang tertindas dan dikalahkan. Kemudian Anies menyerukan agar pribumi menjadi tuan di negara kita sendiri. Pidato kemenangan Anies itu dianggap mengompori ketegangan laten antara pribumi dengan non-pribumi, terutama dengan kaum Tionghoa. Apalagi diksi pribumi dan non-pribumi sudah dihapus berdasarkan Undang-undang tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis tahun 2008.
Asal tahu aja, ini bukan kali pertama Anies dapat penobatan dari komunitas yang berbeda dengannya. Anies pernah diberi nama baptis Yohanes oleh seorang pendeta di Jayapura, Papua, tahun 2022. Ketika itu, banyak pihak yang berpandangan manuever itu dilakukan Anies untuk membersihkan citranya sebagai bapak politik identitas. Juga untuk mendulang suara dari kalangan non-muslim untuk Pilpres 2024. Apapun itu, mudah-mudahan kita sebagai pemilih selalu kritis dengan manuever politik yang dilakukan para capres. Apakah manuever itu benar-benar untuk merajut tenun kebangsaan atau cuma sekedar mengemis dukungan suara? Yuk, jadi pemilih kritis!



