Serius nih, menu di program Makan Bergizi Gratis (MBG) ada burger, spaghetti sama mie gacoan? Lah, ini mah jauh banget dari Pedoman Gizi Seimbang. Nggak heran kalau Dokter sekaligus Ahli Gizi, dr Tan Shot Yen, langsung angkat suara. Dia bener-bener nggak habis pikir kenapa ada daerah yang malah nyediain menu kayak gitu buat anak-anak.
Kritik pedasnya itu disampaikan langsung dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bareng Komisi IX DPR RI, 22 September lalu. Menurut Tan, seharusnya 80 persen isi MBG itu makanan lokal, bukan makanan impor gaya Barat. “Alokasikan menu lokal 80% isi MBG di seluruh wilayah ya, saya pengen anak Papua bisa makan ikan kuah asam, saya pengen anak Sulawesi bisa makan kapurung,” katanya. Dia juga nyentil keras soal burger yang tiba-tiba masuk list makanan bergizi. “Yang dibagi adalah, adalah burger. Di mana tepung terigu tidak pernah tumbuh di bumi Indonesia, nggak ada anak muda yang tahu bahwa gandum tidak tumbuh di bumi Indonesia,” katanya. Bukan cuma burger, dia juga kaget liat menu spaghetti dan bakmi Gacoan nongol di program ini.
“Dibagi spageti, dibagi bakmi Gacoan, oh my god. Dan maaf, ya, itu isi burgernya itu kastanisasi juga, kalau yang dekat dengan pusat supaya kelihatan bagus dikasih chicken katsu,” lanjutnya. Lebih parah lagi, Tan bongkar ada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) nakal yang main asal-asalan. Daging burger di beberapa daerah katanya cuma berupa lapisan tipis warna pink yang bahkan dia nggak yakin itu daging beneran atau bukan. “Itu rasanya kayak karton, warnanya pink dan buat lucu-lucuan nih. Lalu anak-anak disuruh, oke, do it your own, DIY. Susun, ada sayurnya. Astaga, kan bukan itu tujuan MBG, punten,” kritiknya. Dia pun nanya dengan nada kesal: sampai kapan burger bakal terus nongol di MBG? Menurutnya, dapur MBG nggak boleh asal nurutin request anak-anak. “… bukan berarti lalu request anak-anak lalu dijawab oleh dapur, ya wislah…. Kalau request-nya cilok? Mati kita,” sindirnya.
Nah, kritik ini sebenernya nyambung sama masalah besar MBG belakangan ini. Program yang niat awalnya bagus banget, biar anak-anak Indonesia sehat, nggak kekurangan gizi. Tapi sayangnya, pas dijalanin malah banyak banget masalah yang bikin orang jadi geleng-geleng kepala. Pertama, sempet ada kasus keracunan massal di beberapa daerah. Bayangin, program yang niatnya bikin sehat malah bikin anak-anak sakit.
Kedua, menu yang disajikan juga bikin orang heran. Kok bisa fast food kayak burger, spaghetti, dan mie olahan malah masuk list menu? Padahal makanan kayak gitu jelas masuk kategori ultra processed food (UPF). UPF itu kan makanan olahan berat: gizinya minim, tapi garam, gula, lemaknya tinggi. Udah jelas nggak sehat kalau dikonsumsi terus-terusan, apalagi buat anak-anak. Ini jauh banget dari prinsip gizi seimbang atau 4 sehat 5 sempurna yang selalu digembar-gemborkan.
Jadinya program ini kayak salah arah. Alih-alih ngenalin anak-anak ke makanan lokal kaya gizi kayak ikan, sayur, buah, tempe, jagung, atau ubi, malah ngenalin mereka ke selera junk food. Lama-lama anak-anak makin terbiasa sama fast food, bukan sama makanan sehat khas Indonesia. Wajar aja kalau banyak orang kecewa berat. Kritik dari dr Tan ini jadi wake up call penting buat pengurus program ini. Panitia, dapur penyedia, dan semua yang terlibat harusnya serius evaluasi. Jangan sampai program sebesar MBG cuma jadi formalitas, tapi gagal nyentuh tujuan utamanya. MBG seharusnya jadi solusi, bukan sumber masalah baru. Yuk jaga anak-anak kita!


