UEFA akhirnya buka suara soal kekerasan di Gaza. Pernyataannya disampaikan lewat spanduk di Piala Super Eropa 2025 yang mempertemukan PSG dan Tottenham Hotspur. Pertandingan ini digelar di Stadion Dacia Arena, Udine, Italia, Kamis (14/8/2025) dini hari WIB. Isi pesan di spanduknya: “Hentikan pembunuhan anak-anak. Hentikan pembunuhan warga sipil,” nyi spanduk. Momen ini pun langsung nyita perhatian, soalnya UEFA jarang banget ngasih sikap tegas soal Gaza.
Pernyataan itu dikeluarkan UEFA setelah nggak lama Mohamed Salah, bintang Mesir yang main di Liverpool, protes ke UEFA. Salah marah setelah dengar kabar meninggalnya Suleiman Al-Obeid, legenda bola Palestina. Al-Obeid ditembak pasukan Israel waktu lagi antre bantuan kemanusiaan di Gaza. UEFA awalnya sih ngasih penghormatan buat Al-Obeid. Tapi nggak nyebut sama sekali penyebab kematiannya. Buat Salah dan banyak fans, ini kayak nutupin fakta penting.
Akhirnya Salah ngomong blak-blakan di X (Twitter). Dia bilang UEFA harus jujur aja soal kenapa Al-Obeid meninggal. Komentarnya langsung dapet banyak dukungan. UEFA pun pasang spanduk kemanusiaan di laga besar ini, tapi bahasanya aman banget. Mereka gak nyebut “Israel” sama sekali dalam pernyataannya.
Selain spanduk, Presiden UEFA Aleksandar Ceferin juga bawa dua anak pengungsi Palestina—Tala (12) dan Mohamed (9)—ke panggung utama. Mereka berdiri bareng Ceferin dan ikut ngasih medali ke para finalis dan juara. Pertandingannya sendiri dramatis: PSG menang adu penalti 4-3 setelah imbang 2-2 di waktu normal dan extra time.
Soal spanduk ini, reaksi publik beda-beda. Ada yang dukung dan muji UEFA karena akhirnya berani ngomong soal Palestina. Tapi ada juga yang bilang ini setengah hati. Bahkan ada yang nyebut UEFA munafik. Karena mereka tak tegas ke Israel kayak ke Rusia. Mereka bilang, kalau Rusia bisa dilarang ikut kompetisi gara-gara nyerang Ukraina, kenapa Israel nggak? Logikanya kan simpel—negara yang bunuh warga sipil nggak pantas tampil di panggung olahraga.
Tapi di sisi lain, Israel malah nuduh UEFA bias dan bawa-bawa politik. UEFA langsung klarifikasi, katanya spanduk itu cuma pesan kemanusiaan, bukan politik. UEFA dan FIFA sebenarnya punya aturan ketat soal larangan pesan politik di stadion. Meskipun dulu mereka pernah boikot Afrika Selatan pas apartheid. Bahkan, saat Rusia invasi Ukraina 2022, semua tim Rusia langsung dibekukan dari kompetisi Eropa. Artinya, kalau mau tegas, mereka bisa banget.
Spanduk UEFA di final Piala Super Eropa ini lumayan patut diapresiasi karena berani angkat isu Gaza. Karena selama agresi Israel ke Gaza sejak 7 Oktober 2023, UEFA biasanya cuma keluarin statement aman soal perdamaian. Padahal sampai pertengahan 2025, korban tewas di Gaza udah lebih dari 60 ribu orang—mayoritas anak-anak dan warga sipil. Ribuan orang masih hilang di bawah reruntuhan, ratusan mati kelaparan, jutaan jadi pengungsi. Rumah sakit, sekolah, perumahan—hancur semua.
Jadi wajar banget kalau publik minta UEFA dan FIFA tegas ke Israel. Solidaritas kita untuk Palestina!


