Perempuan simpanan atau ani-ani sekarang udah nggak nongkrong di club malam, tapi di tempat olahraga. Salah satu tempat yang disebut-sebut jadi “markas” mereka sekarang adalah lapangan padel. Jadi bukan lagi vibes gelap, musik keras, dan minuman beralkohol. Sekarang settingannya cerah, sporty, outfit sportmahal, dan vibesnya sehat. Info ini disampein sama Meida Eviriyani lewat akun instagram @rumahtanggasamara.id, 20 November lalu. Dalam video itu, Meida bilang udah nggak jaman ani-ani nongkrong di club malam, sekarang mereka pindah ke tempat yang kelihatan sehat dan classy.
Soalnya menurut The Business Times 2024, industri hiburan malam di kota-kota besar Indonesia kayak Jakarta dan Bali turun drastis dalam lima tahun terakhir. Kenapa bisa turun? Salah satunya karena ada perubahan gaya hidup. Soalnya orang-orang sekarang lebih milih aktivitas yang sehat, produktif, bebas alkohol. Dampaknya? Banyak bar dan klub malam di Jakarta kabarnya mengalami penurunan omset 30–40% dibanding sebelum pandemi.
Anak muda usia 25–40 tahun sekarang lebih memilih nongkrong sehat di brunch café, gym, komunitas yoga, padel, pilates, atau running club. Tren padel sendiri lagi meledak banget akhir-akhir ini. Dalam dua tahun terakhir, jumlah lapangan padel di Jakarta bahkan naik lebih dari 200%. Karena makin hype, komunitas olahraga padel juga berkembang pesat dan sekarang dianggap punya kelas sosial tertentu. Dari situ muncul simbol baru: olahraga bukan cuma buat sehat, tapi ada “gengsi” di sana.
Soalnya padel bukan olahraga murah. Biaya sewa lapangan + membership + pelatih bisa jauh lebih mahal dibanding olahraga lain. Belum lagi raket padel (yang harganya bisa jutaan), outfit sporty branded, dan akses ke klub premium. Jadi otomatis, orang yang rutin main padel ini sering dicap sebagai “orang kaya” atau minimal kelas menengah atas yang financially stable. Karena cuma orang yang bisa maintain lifestyle ini yang dianggap mampu secara finansial.
Nah, sampe sini paham kan kenapa ani-ani modern pada mejeng di sana? Karena padel bukan cuma tempat olahraga, tapi tempat networking, social climbing, dan branding gaya hidup. Di tempat kayak gini, interaksi biasanya smooth tapi terarah, ngobrol kecil, networking halus, ikut komunitas, sampai akhirnya kenal lebih dekat. Dari fase ini lah kadang muncul “target” satu atau dua pria mapan yang bisa dijadikan sponsor alias gadun. Netizen pun ramai-ramai berkomentar. “Ani-ani sekarang banyak di golf, padel, pilates dan klinik kecantikan” tulis seorang netizen.
“Bener bangettttt… Ani Ani modern sekarang pinter, hati-hati para nyonya, kalau suaminya ada kegiatan olah raga atau semacam itu, harus bareng ikut yaaa” tulis netizen lain. “Di padel dan gym ani-ani rame berkedok jadi anggota gym dan padel” tulis yang lain. Buat yang belum ngerti, ani-ani itu istilah buat perempuan yang tampilannya high class, menarik, wangi, gaya hidup mewah, tapi punya tujuan tersembunyi: cari pria berduit. Mereka bukan tipe agresif kayak stereotype pelakor zaman dulu. Mereka strategis, selektif, terorganisir, dan branding-nya classy. Mereka nggak bilang “butuh uang”, tapi jual mimpi lifestyle mewah.
Masalahnya, fenomena ini bikin banyak pasangan—khususnya istri—jadi was-was. Soalnya tipe laki-laki yang mereka incar biasanya pria mapan yang udah berkeluarga. Pendekatan mereka bukan frontal, tapi emosional dan persuasif. Ngobrol, DM storian, workout bareng, bahas bisnis, lama-lama muncul chemistry. Dan kalau ada skandal? Narasinya: “Kita cuma temenan.” “Aku nggak maksa kok.” “Dia yang suka ngasih.” Ujung-ujungnya? Konflik rumah tangga, emotional cheating, selingkuh beneran, sampai perceraian. Yang sekarang menjalani gaya hidup sehat, ayo apa motifnya? Kalau mau sharing soal fenomena ini, komen di bawah ya.


