Pernah denger “Skandal Smanse” yang lagi ramai di X? Itu loh, konten pornografi hasil Deepfake yang korbannya siswi, alumni, dan guru perempuan SMAN 11 Semarang alias Smanse. Pelakunya Chiko Radityatama Agung Putra, mahasiswa baru Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip) angkatan 2025. Chiko sendiri alumni SMAN 11 Semarang. Saat masih berstatus siswa, Chiko diam-diam mengambil foto teman-teman perempuannya, alumni bahkan guru. Tapi kemudian ia mengedit foto-foto itu dengan deepfake hingga tampak seperti gambar dan video porno.
Deepfake sendiri adalah teknologi kecerdasan buatan yang bisa memanipulasi wajah seseorang ke tubuh orang lain secara realistis. Chiko memanipulasi foto mereka dengan deepfake seolah-olah mereka sedang melakukan aksi pornografi. Tindakan ini dilakukan sejak 2023, ketika Chiko masih duduk di bangku SMA. Awalnya hanya iseng, tapi lama-lama menjadi kebiasaan dan dilakukan secara sistematis. Chiko menyimpan hasil editannya di Google Drive, bahkan punya lebih dari 10 akun email untuk menyimpan dan membagikan file. Dari hasil penelusuran, ditemukan lebih dari 300 unggahan foto vulgar dan sekitar 1.000 video deepfake. Beberapa foto korban diambil diam-diam, termasuk saat Sebagian korban sedang tidur di kelas.
Kasus ini terbongkar pada pertengahan Oktober 2025, ketika akun anonim di X memviralkan thread soal “oknum mahasiswa FH Undip” pembuat video porno palsu. Postingan itu viral dan memicu kemarahan publik, terutama warga Semarang dan alumni SMAN 11 Semarang. Setelah diselidiki, beberapa teman korban mendatangi rumah Chiko dan memeriksa ponselnya. Mereka menemukan banyak file hasil Deepfake tersimpan di akun Google Drive. Pada 13 Oktober lalu, Chiko datang ke sekolah dan membuat video permintaan maaf. Video permintaan maaf itu diunggah di akun resmi @sman11semarang.official. Dia juga mengaku semua konten itu hasil editan Deepfake.
Pihak sekolah menyatakan kasus ini di luar tanggung jawab mereka karena Chiko sudah alumni, tapi tetap membantu korban. Dinas Pendidikan Jawa Tengah meminta laporan resmi dan ikut memantau perkembangan kasus. Universitas Diponegoro sedang melakukan penyelidikan internal dengan mengacu Permendikbudristek tahun 2024 tentang pencegahan kekerasan seksual di kampus. Jika terbukti, Chiko bisa dikeluarkan dari kampus dan dijerat pidana. Per 20 Oktober lalu, siswa dan alumni SMAN 11 Semarang menggelar aksi damai di sekolah menuntut keadilan dan perlindungan psikologis bagi korban. Total ada enam korban, terdiri dari siswi, alumni, dan guru perempuan. Mereka mengalami trauma berat karena wajah mereka dipakai untuk konten porno. Banyak korban malu, takut membuka media sosial, dan kehilangan rasa aman. Polisi kini menelusuri dugaan pelanggaran UU ITE terkait penyebaran konten kesusilaan dan pelecehan digital.
Kasus ini menunjukkan betapa bahayanya Deepfake ketika digunakan tanpa rasa kemanusiaan. Pihak yang dirugikan dari konten hasil manipulasi Deepfake dalam Skandal Smanse mengalami trauma dan malu untuk keluar rumah. Dalam kasus yang lain, korban konten hasil manipulasi Deepfake menjadi sasaran kebencian. Ini seperti yang dialami mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Videonya dimanipulasi sehingga seolah dia mengatakan ”Guru itu beban negara”. Padahal dia sama sekali tidak pernah mengatakan itu. Tapi sebagian orang sudah tersulut emosinya karena video hasil deepfake itu. Mereka marah dan bahkan menjarah rumah pribadinya.
Banyak orang tahu cara menggunakan teknologi, terutama Deepfake. Tapi mereka tidak memahami konsekuensi etik dan hukum ketika menggunakannya . Seolah membuat dan menyebarkan konten yang sudah dimanipulasi dengan deepfake hanya untuk tujuan seru-seruan atau lucu. Padahal pihak yang dirugikan karena konten itu bisa hancur mentalnya, dijarah propertinya, dan keselamatannya terancam. Kemajuan teknologi emang penting dan nggak bisa dihindari. Kemajuan teknologi juga dibutuhkan untuk mempermudah aktivitas kita. Tapi menggunakan teknologi, terutama Deepfake, harus disertai dengan tanggung jawab moral dan rasa kemanusiaan. Yuk bijak menggunakan Deepfake!


