Guru Gembul kembali ingatkan para pemuka agama yang suka asal bicara. Guru memang bukan ustaz, tapi bukan juga politisi. Ia dikenal dikenal sebagai pengamat sosial yang berani mengkritik secara terbuka praktek-praktek keagamaan yang menurutnya merugikan.
Sekarang ini, video lamanya yang bahas soal ulama su’u alias ulama jahat, kembali viral. Video itu awalnya tayang di kanal YouTube Deddy Corbuzier sekitar tiga tahun lalu dan sudah ditonton lebih dari 9 juta kali. Dalam video itu, Guru Gembul tegas mengkritik para ulama su’u atau ulama buruk alias jahat.
Katanya, tipe ulama seperti inilah yang bikin umat Islam jalan di tempat dan susah maju. Ia menuding sebagian tokoh agama telah “membajak Islam” demi kepentingan pribadi dan duniawi. Guru Gembul juga menyebut bahwa Nabi Muhammad pernah mengingatkan tentang kehancuran Islam di akhir zaman. Tapi penyebabnya bukan dari musuh luar, melainkan dari pemuka agamanya sendiri.
Menurutnya, para “ulama jahat” ini adalah orang-orang yang menjual agama demi harta, jabatan, atau popularitas. Ironisnya, mereka justru punya banyak pengikut yang selalu membela apapun yang mereka ucapkan. Setiap ucapan ulama su’u ini dianggap benar, meski kadang menyesatkan. Guru Gembul bilang, pengikut-pengikutnya ini bisa dibilang sedang “sakit.” Karena mereka lebih memilih percaya mentah-mentah tanpa mau mencari tahu kebenarannya.
Dalam salah satu ucapannya, Guru Gembul bahkan menyebut ulama jahat ini seperti “anjing-anjing neraka.” Istilah itu memang keras, tapi punya dasar dalam literatur Islam yang dulu digunakan untuk menggambarkan kaum Khawarij. Kaum Khawarij ini adalah kaum yang dulu dikenal suka menggunakan agama untuk membenarkan kebencian dan kekerasan. Karena keterusterangannya ini, Guru Gembul dianggap sebagai salah satu opinion leader paling berani di Indonesia.
Kritiknya tentang dunia pendidikan, sosial-budaya, dan gaya hidup mewah sebagian tokoh agama selalu ditunggu banyak orang. Ada banyak contoh yang bisa dibicarakan. Salah satu yang paling viral dulu adalah saat dia menyinggung Bahar bin Smith yang suka pamer kekayaan. Waktu itu Guru Gembul bilang kalau Bahar adalah “ulama gadungan”, bahkan ga bisa baca kitab kuning, alias kitab-kitab klasik Islam berbahasa Arab yang menjadi rujukan utama dalam pengajaran di pesantren tradisional Indonesia.
Tentu saja, ucapannya sering menuai pro dan kontra. Tapi, suka atau tidak, banyak yang merasa Guru Gembul menyuarakan hal yang selama ini dipendam umat. Ia datang bukan untuk menista agama, tapi untuk menyadarkan umat agar tidak dibodohi atas nama agama. Baru-baru ini, ia juga mengkritik sistem pendidikan di pesantren. Guru Gembul berharap pesantren bisa lebih terbuka terhadap kritik dan pembaruan.
Meski begitu, ia sendiri tak luput dari kritik. Ada yang menilai gaya bicaranya terlalu kasar dan menyerang individu ketimbang sistem. Ada juga yang merasa ia kurang memberi solusi konkret selain kritik pedas. Tapi bisa jadi, justru gaya keras itulah yang dibutuhkan biar umat tidak terus hidup dalam kepalsuan.
Fenomena Guru Gembul menunjukkan kalau umat Islam sebenarnya rindu sosok yang berani bicara jujur. Di tengah maraknya dakwah yang dijadikan komoditas, suara seperti Guru Gembul menjadi semacam oase. Ia mengingatkan bahwa agama bisa kehilangan makna kalau hanya dijadikan alat mencari uang dan pengaruh. Guru Gembul menjadi pembeda dari ulama yang sibuk tampil rapi, punya jutaan pengikut, tapi tujuannya cuma satu: menjadikan agama sebagai komoditas. Semoga makin banyak sosok seperti Guru Gembul yang berani mengingatkan kita untuk beragama dengan akal sehat. Yuk, belajar beragama pakai akal sehat!


