Hebat! Para Nakes Rela Seberangi Sungai Deras Demi Melayani Masyarakat

Published:

Salut banget sama para tenaga kesehatan (nakes) di Desa Kilmury, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku. Mereka rela seberangin sungai berarus deras tanpa jembatan demi melayani pasien-pasiennya. Peristiwa luar biasa ini terekam dalam sebuah video yang diposting akun Instagram @alberth_101113. Saat itu nakes tersebut habis kerja melayani masyarakat di Posyandu Kilmury. Nah, setelah selesai mereka mau balik ke tempat tinggalnya melalui sungai itu. Itu adalah satu-satunya akses yang ada untuk datang atau keluar dari dusun Kilmury. Terlihat dalam video, mereka menyebrang sambil bawa perlengkapan medis di atas kepala mereka. Masalahnya, udahlah dalam, sungai yang diseberangin juga berarus deras. Saking derasnya aliran sungai itu, beberapa nakes nyaris hampir terseret arus. Untungnya ada 3 laki-laki yang sigap membantu para nakes menyeberangi sungai.

Perjuangan berat para nakes juga ada di daerah lainnya. Dewi Yanti, seorang bidan yang bertugas di sebuah kepulauan di Sulawesi Utara harus berhadapan dengan ombak besar saat melayani pasiennya. Di postingan tiktoknya pada 7 April 2025 lalu dia merekam suasana dia lagi naik kapal bersama pasiennya. Di tengah perjalanan tiba-tiba kapal yang ditumpanginya bersama beberapa nakes dan si pasien dihadang ombak besar disertai hujan deras dan angin kencang. Untungnya para nakes dan pasien berhasil melewatinya.

Pada Februari 2024 lalu 11 nakes Puskesmas Yembun rutin menyeberangi sungai selebar 70 m setiap bulan. Mereka nyebrang pake tali pegangan bersama sambil membawa peralatan posyandu. Hal itu dilakukan demi menjangkau warga Kampung Baun di Distrik Yembun. Arus sungainya sendiri bisa setinggi dada orang dewasa. Juni 2025, Dua nakes Puskesmas Liukang Tangaya berlayar selama 24 jam penuh dari Pulau Sapuka (Sulawesi Selatan) ke Lombok Timur. Hal ini dilakukan untuk merujuk pasien ibu hamil karena jalur alternatif ke Makassar bahkan lebih jauh dan tidak tersedia kapal. Risiko hujan dan ombak deras mereka abaikan demi keselamatan pasien.

Nggak sedikit nakes kehilangan nyawa akibat kecelakaan saat tugas. Mirisnya, sebagian besar nakes gak dapet asuransi risiko tinggi, apalagi tunjangan daerah terpencil yang layak. Mereka digaji sama seperti nakes di kota yang hanya jalan kaki ke puskesmas. Ditambah lagi gak ada logistik pendukung seperti perahu motor, kendaraan 4WD, atau drone medis. Laporan Kemenkes RI (2023) nunjukin 30 ribu lebih desa di Indonesia belom punya puskesmas yang layak secara geografis. Sekitar 12 ribu desa di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) kekurangan tenaga medis tetap. Dari data BPJS (2022), klaim pelayanan kesehatan primer di wilayah terpencil sangat minim. Bukan karena masyarakat sehat, tapi karena aksesnya tidak mungkin dijangkau rutin.

Kok bisa ya? Infrastruktur kesehatan masih didominasi wilayah perkotaan dan pulau Jawa. Sistem distribusi nakes nggak mempertimbangkan medan tugas secara menyeluruh. Beberapa daerah bahkan belum ada jembatan selama puluhan tahun, meskipun kepala daerah silih berganti. Pemerintah pusat mungkin saatnya untuk turun tangan menyelesaikan masalah ini. Membantu membangunkan jembatan, dermaga atau alat transportasi lainnya. Pemerintah pusat dan daerah perlu memasukkannya sebagai bagian dari pembangunan strategis non-komersial. Harus dipikirkan juga fasilitas asuransi untuk para nakes. Sudah saatnya pemerintah pusat dan daerah bertanggung jawab penuh atas nasib para nakes di Indonesia.

Para nakes, kalian hebat!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img