Beredar hoax baru yang mengaitkan Jokowi dengan kasus penyelewengan program Makan Bergizi Gratis. Akun TikTok bernama Dani menyebarkan narasi yang diklaim bersumber dari mantan Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana. Dalam unggahan Dani itu, mengunggah beberapa foto rekayasa yang menyesatkan publik. Di foto utama, ditambahkan teks berbunyi, “DADAN HINDAYANA SEBUT NAMA JOKO WIDODO MENERIMA UANG SUAP MBG SEBESAR 2 TRILIUN.” Kalimat selanjutnya berbunyi, “SAYA PUNYA CEK NOTA TRANSFERNNYA.” Di bawahnya ada tulisan kecil yang menyebutkan bahwa pernyataan tersebut disampaikan Dadan dalam sidang di pengadilan. Kemudian ada foto lain yang menampilkan Jokowi seolah menerima sekoper uang.
Narasi tersebut seluruhnya tidak benar. Apalagi disebutkan sumber narasi berasal dari pernyataan Dadan dalam sidang di pengadilan. Padahal proses hukumnya saat ini masih di Kejaksaan, belum sampai ke pengadilan. Gambar yang menampilkan Jokowi itu terlihat jelas hasil manipulasi AI. Konten tersebut sengaja dibuat untuk menyesatkan publik, tujuannya menciptakan sensasi dan kemarahan masyarakat terhadap Jokowi. Pola ini umum digunakan dalam hoaks politik berbasis clickbait.
Isu penyelewengan MBG yang sebenarnya terkait pengawasan anggaran dan potensi mark-up pengadaan. Jadi tidak ada kaitannya dengan cek dan nota transferan, seperti yang disebutkan dalam unggahan tersebut. Dalam penegakan hukum, dugaan penyimpangan ditelusuri lewat audit, dokumen kontrak, dan data elektronik. Bukti utama biasanya berupa rekening koran dan jejak digital perangkat. Oleh karena itu, HP dan laptop tersangka disita untuk diperiksa dalam proses penyidikan. Semua transaksi tercatat dalam sistem perbankan digital. Hingga saat ini tidak ada pernyataan resmi dari aparat hukum soal suap MBG dua triliun. Tidak ada juga informasi keterkaitan Jokowi seperti yang diklaim unggahan tersebut. Jadi narasi tersebut seluruhnya adalah hoaks.
Reaksi netizen di medsos beragam, sebagian langsung percaya dan menyebarkan ulang postingan tersebut. “Awalnya saya kira benar, karena fotonya meyakinkan,” tulis salah satu pengguna X. Pengguna lain merespons, “Tidak ada sumber resmi, ini jelas editan AI.” Ada pula komunitas cek fakta yang menyebut konten tersebut adalah pola hoaks lama dengan kemasan baru. “Ini klasik, pakai tokoh besar, angka besar, dan bukti palsu,” tulisnya. Ada juga komentar, “AI sekarang bikin hoaks makin susah dibedakan kalau tidak teliti.”
Beredarnya hoax dengan menggunakan rekayasa AI semakin memperkeruh situasi politik. Akibatnya, publik mudah terpecah-belah karena informasi yang tidak terverifikasi. Manipulasi visual membuat informasi tampak meyakinkan secara sekilas. Tanpa literasi digital, publik mudah terjebak disinformasi. Akhirnya, mereka jadi agen penyebar informasi bohong tersebut tanpa sadar.
Karena itu netizen perlu berhenti menyebarkan konten tersebut. Netizen juga perlu melakukan langkah mitigasi hoaks secara mandiri. Saring sebelum sharing, jangan langsung membagikan konten yang belum jelas kebenarannya. Jangan ikut menyebarkan meski hanya untuk bertanya atau konfirmasi. Lakukan verifikasi dengan mengecek langsung ke situs media yang dicatut. Gunakan fitur pencarian untuk memastikan artikel benar-benar ada atau tidak. Periksa juga elemen visual seperti font dan tata letak gambar. Hoaks hasil editan biasanya memiliki ketidaksesuaian desain.
Laporkan konten tersebut melalui fitur report di media sosial. Pilih kategori informasi palsu atau misinformation. Kalau perlu, adukan juga ke Kominfo melalui kanal resmi aduankonten@kominfo.go.id atau WhatsApp 0811-9224-545. Langkah-langkah tersebut memang agak melelahkan. Tapi itu penting, jangan sampai kebohongan mengotori dunia medsos kita. Ayo bijak dalam bermedsos!


