Kami, Gerakan PIS, dituduh memprovokasi aksi demo di depan Gedung DPR RI pada akhir Agustus lalu. Kami, Gerakan PIS, dituduh nyebarin hoaks dan fitnah sehingga terjadi aksi demo di depan Gedung. Ini jelas tuduhan yang ngadi-ngadi. Please, jangan dipercaya ya.
Yang menuduh kami adalah seorang perempuan kader PDI Perjuangan, bernama Noviana Kurniati alias Novie Bule. Tuduhan itu dia sampein di salah satu video yang diposting di akun TikToknya @novie_bule9 pada 6 September lalu. Di video itu, Novie bahas soal kerusuhan saat aksi demo beberapa hari lalu. Katanya, kerusuhan terjadi bukan cuma di Jakarta, tapi hampir merata di kota-kota besar seluruh Indonesia. Target utamanya, menurut dia, adalah DPR RI.
Novie mengklaim semua kerusuhan ini dilakuin secara terorganisir. “Ini adalah sebuah orderan, adanya pesanan dari seseorang yang pastinya memiliki motif dan tujuan sangat urgensi,” katanya dalam video. “Bahkan gua pun melihat ini dilakukan secara TSM: terstruktur, sistematis, dan masif,” lanjutnya. Novie nyebut beberapa nama yang diduga jadi dalang. Antara lain Del Pedro Marhaen dari Lokataru Foundation, Riza Chalid, pihak asing, bahkan PDIP sendiri.
Dia lalu mempersoalkan Del Pedro ditangkap, sementara kader-kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) nggak ditangkap. Menurutnya, banyak kader-kader PSI yang sudah nyebarin hoaks, fitnah, dan provokasi. Salah satu kader PSI yang dia sebut adalah bang Ade Armando. Dia bilang, bang Ade dan gengnya lewat channel YouTube dan media sosial ikut sebar hoaks, fitnah, dan provokasi terkait DPR RI. Dengan jelas, dia nyebut nama Cokro TV dan Kami, Gerakan PIS.
Yang lebih absurd lagi, dia nuduh dalang utama aksi demo di depan Gedung DPR adalah “Si Mulyono”. Maksudnya jelas, yaitu Pak Jokowi. Aksi demo itu, katanya, bukan Del Pedro, Riza Chalid, atau pihak asing. Kata dia, motif Pak Jokowi mendalangi aksi demo itu adalah, pertama, untuk melindungi anaknya, Mas Gibran, dari serangan isu pemakzulan. Kedua, untuk mendesak Presiden Prabowo mundur sehingga Mas Gibran jadi RI 1.
Apa yang dikatakan kader PDIP ini ngawur sengawur-ngawurnya. Dia asal menuduh tanpa menunjukkan secara jelas poin mana dari kami, Gerakan PIS, yang dianggap nyebarin hoaks, fitnah, dan provokasi sehingga berujung pada aksi demo di depan Gedung DPR RI. Memang dalam videonya dia menamplikan potongan video beberapa host Gerakan PIS yang tampil dalam program Kupas Berita di Cokro TV. Tapi dia sama sekali nggak menunjukkan atau mengutip pernyataan dalam program itu seperti yang dia maksud.
Kader PDIP itu asbun alias asal bunyi untuk menyudutkan dan menuduh pihak lain yang nggak disukainya. Mungkin buat dia, yang penting pihak yang nggak disukainya dibunuh dulu karakternya. Soal argumentasi kenapa kami, Gerakan PIS, dituduh, mungkin dia nggak punya. Lalu, kenapa juga dia menuduh Pak Jokowi ada di belakang aksi demo kemarin?
Narasi Pak Jokowi ada di belakang aksi demo kemarin memang cukup banyak ditemui di media sosial. Narasi itu diduga disebar untuk membuat retak hubungan antara Presiden Prabowo dan Pak Jokowi. Lagi pula, tuduhan aksi demo kemarin didalangi Pak Jokowi sama saja menganggap mahasiswa dan elemen sipil lainnya sebagai pionnya Pak Jokowi. Sungguh, itu tuduhan yang sangat menghina.
Sebenarnya Kader PDIP itu juga menyerang influencer Salsa Erwina. Katanya, Salsa baru speak up ketika mengkritik pernyataan Anggota DPR RI dari Nasdem, Ahmad Sahroni. Salsa, katanya, kemudian mengkritik DPR dan PDIP. Kader PDIP itu mempertanyakan kenapa Salsa nggak bahas isu Keputusan MK, ijazah Pak Jokowi, Ade Armando, dan tuntutan pencopotan Kapolri. Soal ini, Salsa sendiri yang menjawab.
Tapi yang jelas, tuduhan Kader PDIP yang membabi-buta itu bahaya banget. Itu bisa berpotensi menciptakan rasa saling curiga di antara sesama warga. Cara kayak gini bukan bikin keadaan tenang, justru makin memperkeruh suasana. Kader PDIP ini nampaknya sengaja mau geser isu aksi demo kemarin ke isu lain dengan narasi absurd.
Tuntutan aksi demo kemarin itu soal kinerja dan transparansi pemasukan anggota DPR RI. Kalau dia memang peduli rakyat, ya bahas isu itu. Bukan lempar tuduhan ngawur dan fitnah. Yuk, fokus soal tuntutan ke DPR dan abaikan pengalihan isu!


