Anda mungkin dengar kasus selebgram Agnes Jennifer? Dia itu sekarang sedang aktif mencecar seorang perempuan lain, bernama Natasha. Natasha ini disebut sebagai perempuan yang berusaha merebut suami Jennifer. Sang suami dan Natasha bahkan dituduh pernah berselingkuh di New Zealand saat Jennifer dan anak-anak sedang berwisata ke sana. Jennifer menyebut Natasha sebagai ‘si gayung lope pink’. Netizen pun rame-rame ikut menyerang Natasha yang ternyata adalah ibu dari teman sekelas putri Jennifer. Lucunya, suami Jennifer sendiri sepi dari hujatan. Nggak adil banget.
Tapi sebetulnya hal semacam ini memang biasa terjadi. Kalau ada perselingkuhan, si perempuan dituduh pelakor, si pria baik-baik saja. Ingat saja kasus Ahmad Dhani dengan Mulan Jameela. Atau juga kasus video seks Cut Tari dan Ariel Noah. Sampai sekarang Dhani dan Ariel tetap dikagumi sebagai seniman papan atas. Sementara Mulan dan Cut Tari sampai sekarang tetap disebut pelakor.
Dalam perselingkuhan, biasanya yang ramai dihujat cuma perempuannya. Ceweknya langsung dicap “pelakor”, “ani-ani”, terus dibully seumur hidup di media sosial. Sementara cowoknya? Paling banter dibilang “khilaf”, atau malah tetap dipuja seolah nggak ada salah apa-apa. Nggak jarang, istri sah juga ikut disalahkan. Dibilang nggak bisa jaga suami, nggak cantik, kurang feminine, atau nggak nurut. Mirisnya, gak jarang ini dilakukan oleh sesama perempuan. Ini kayak lingkaran setan banget yang gak ada habisnya, toksik.
Padahal, logikanya sederhana; perselingkuhan itu butuh dua orang. Tapi yang dihukum sosial biasanya cuma satu, dan hampir selalu perempuannya. Fenomena ini nunjukin kalau masyarakat kita masih menganut standar ganda. Perempuan dikasih beban moral lebih besar, sedangkan laki-laki lebih sering “dimaklumi”. Kalau ada kasus selingkuh, langsung dicap: “ceweknya yang mulai duluan.” Lihat saja kasus Ayu Ting-Ting dan Raffi Ahmad. Ayu pernah dirumorkan dekat, liburan bareng, dan tampil di banyak acara sama Raffi, yang saat itu udah nikah sama Nagita Slavina. Tapi semua tuduhan itu nggak pernah ada bukti kuatnya, cuma cocoklogi netizen.
Mirisnya, hampir 10 tahun berlalu, Ayu masih sering dibully dan dilabeli “pelakor”. Bahkan saat dia punya prestasi pun, netizen tetap nyangkutinnya ke isu itu. Sementara Raffi, karirnya tetap bersinar, jarang banget dapet hujatan yang sama. Ini jelas bahaya, karena kesetiaan itu tanggung jawab dua arah. Cowok dan cewek, sama-sama wajib jaga komitmen. Sayangnya, kesadaran ini belum merata di masyarakat kita.
Padahal, Indonesia udah meratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) sejak 1984. Konvensi itu mengatur kalau negara dan masyarakat harus aktif menghapus praktik sosial yang merendahkan perempuan, termasuk label-label kasar itu. Jadi, daripada jadi polisi moral di medsos, mending belajar literasi emosional. Jangan asal sebar aib, jangan asal ngejudge dari satu sisi.
Kalau kita beneran peduli sama nilai kesetiaan, hubungan yang sehat, dan tanggung jawab, semua pihak harus diperlakukan adil. Hukum sosial nggak bisa cuma dijatuhkan ke perempuan, apalagi cuma karena gender. Kita butuh pemahaman, empati, dan ruang untuk semua orang tumbuh jadi lebih baik. Stop standar ganda pada perempuan!


