Kata Felix Siauw, Dewa Umat Hindu Nggak Layak Disebut Tuhan

Published:

Ustadz Felix Siauw, kalau mau bandingin konsep ketuhanan dalam Islam dengan konsep ketuhanan agama lain, plis lakukan dengan penuh respect. Jangan merendahkan konsep ketuhanan agama lain buat mengunggulkan konsep ketuhanan yang anda percayai.

Jadi, beredar potongan video ceramah Ustadz Felix yang belakangan ini viral setelah diunggah akun Tiktok @awt_channel_yt pada 25 Juni lalu. Dalam potongan video itu, Ustadz Felix membahas konsep ketuhanan dan menyinggung dewa-dewi dalam agama Hindu. Dia bilang sesuatu yang punya bentuk seperti makhluk nggak layak disebut Tuhan karena dianggap terbatas. “Tanamkan baik-baik. Setiap yang punya bentuk seperti makhluk, dia tidak layak jadi Tuhan”, kata Ustadz Felix. “Kalau dia punya tangan kayak manusia, tangannya 4, kalau ada barangnya 8, gimana?” lanjutnya.

Dalam video itu, Ustadz Felix tampilin slide 3 gambar dewa dalam agama Hindu. Dari konteks video itu, tampaknya Ustadz Felix lagi menjelaskan konsep ketuhanan menurut ajaran Islam. Tapi masalahnya, penjelasannya itu berujung menyebut wujud ketuhanan dalam agama Hindu yang “tidak layak sebagai Tuhan”.

Umat Hindu langsung bereaksi menanggapi ceramah Ustadz Felix itu. Cuplikan video itu sebenarnya udah pernah dibahas channel YouTube Hindu Channel pada 13 Januari 2024. Mereka jelasin, konsep Tuhan dalam Hindu memang sangat berbeda dengan agama lain. “Jangan samakanlah kemudian konsep ketuhanan dalam Hindu dengan konsep ketuhanan dari agama lain”, ucap salah satu Host.

Hindu Channel tegasin umat Hindu menyembah satu Tuhan, yaitu Brahman. Realitas mutlak yang nggak bisa dibayangkan, nggak berbentuk, dan nggak terbatas. Tapi untuk bisa mendekatkan diri secara spiritual dan emosional, umat Hindu mengenal apa yang disebut manifestasi ilahi dalam bentuk para dewa dan dewi. “Hindu itu agama simbol. Semua disimbolkan karena memahami bahwa sebagai manusia sangat terbatas kemampuannya,” ucapnya lagi.

Jadi, manifestasi ini nggak dianggap sebagai “makhluk”, tapi buat memudahkan umat Hindu memahami dan berinteraksi dengan Tuhan. Apa yang dibahas Hindu Channel ini sejalan dengan pengetahuan agama Hindu yang umumnya. Misalnya, Dewa Brahma digambarkan berkepala empat bukan karena literal punya empat kepala. Itu adalah simbol bahwa Dia bisa melihat ke segala arah. Atau Dewa Ganesha yang bertangan banyak bukan berarti literal punya 18 tangan. Tapi itu melambangkan kekuasaan dan kemampuan ilahiah-Nya yang melampaui manusia.

Ucapan Ustadz Felix soal Dewa Hindu nggak layak jadi Tuhan bukan sekadar simplifikasi. Tapi itu bisa dianggap merendahkan simbol suci umat Hindu. Dia menilai agama lain dari kacamata agamanya sendiri. Padahal setiap agama punya keunikannya masing-masing, termasuk dalam konsep ketuhanan. Dalam agama Hindu, dewa-dewi adalah simbol untuk mendekati yang ilahi. Dan para dewa-dewi nggak pantas untuk direndahkan.

Dalam al-Quran ada tuntunan yang diajarkan buat umat Islam soal bagaimana bersikap tentang Tuhan yang diyakini pemeluk agama lain. “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah …” Surah Al-An’am ayat 108. Prof Quraish Shihab dalam karyanya, Tafsir Al-Misbah, bilang ayat ini melarang umat Islam memaki kepercayaan agama lain karena nggak menghasilkan kemaslahatan. “Agama Islam datang membuktikan kebenaran, sedang makian biasanya ditempuh mereka yang lemah,” katanya.

Menurut ahli tafsir itu, suara keras si pemaki dan kekotoran lidahnya nggak pantas dilakukan seorang Muslim. “Makian dapat menimbulkan antipati terhadap yang mencaci, sehingga jika hal itu dilakukan seorang Muslim, yang dimaki akan semakin menjauh,” katanya.

Menjelaskan konsep ketuhanan ajaran sendiri ya sah saja. Tapi nggak usahlah sampai merendahkan konsep ketuhanan agama lain. Sebagai pendakwah, Ustadz Felix harus sadar diri bahwa dakwahnya nggak cuma didengar pengikutnya, tapi juga di luar pengikutnya. Karena itu, dakwahnya harus dilandasi dengan sikap empati dan niat nggak menyakiti.

Apalagi Indonesia adalah negara yang dihuni penganut banyak agama dan kepercayaan, sekalipun umat Hindu minoritas di Indonesia. Melakukan perbandingan agama, termasuk konsep ketuhanan, sebaiknya dilakukan secara akademik dan penuh rasa hormat. Stop merendahkan kepercayaan agama lain!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img