Lagi-lagi Amerika Serikat Veto Deklarasi New York Untuk Palestina, Padahal Didukung 142 Negara!

Published:

**Lagi-lagi Amerika Serikat Veto Deklarasi New York Untuk Palestina, Padahal Didukung 142 Negara!**

142 negara di Majelis Umum PBB udah sepakat: Palestina harus merdeka lewat solusi dua negara. Tapi, lagi-lagi, langkah besar ini kandas cuma gara-gara veto Amerika Serikat di Dewan Keamanan. Deklarasi New York yang disahkan 12 September 2025 seharusnya bisa jadi momentum bersejarah. Dokumen ini menegaskan mayoritas dunia mendukung jalan damai. Alias Israel dan Palestina bisa berdampingan sebagai dua negara berdaulat, dengan keamanan dan martabat yang sama.

Voting di Majelis Umum jelas banget hasilnya: 142 negara mendukung, cuma 10 menolak. Dari angka ini aja udah kelihatan, dunia sebenarnya berdiri di belakang Palestina. Masalahnya, keputusan itu nggak otomatis jalan. Harus dibawa dulu ke Dewan Keamanan PBB, dan di sinilah veto AS langsung memblokir. Padahal isi deklarasi ini bukan sekadar basa-basi. Ada peta jalan lengkap, mulai dari gencatan senjata di Gaza, pembebasan semua sandera, dan pembentukan negara Palestina yang berdaulat. Gak cuma itu, ada juga pelucutan senjata Hamas dan normalisasi hubungan Israel dengan negara Arab.

Prancis dan Arab Saudi jadi motor konferensi ini. Menteri Luar Negeri Prancis Jean Noel Barrot bahkan ngomong, “di saat solusi dua negara semakin terancam, Prancis siap mengakui sepenuhnya Negara Palestina”. Pernyataan itu langsung diperkuat Presiden Emmanuel Macron di forum PBB, kalau Prancis resmi mendukung pengakuan penuh terhadap Negara Palestina. Sementara Arab Saudi menyoroti penderitaan warga Gaza yang dibom habis-habisan dan pemukiman Israel yang makin ngawur.

Tapi dari kubu Israel, reaksinya 180 derajat beda. Delegasi Danny Danon nyeplos sinis, “Hamas adalah pemenang terbesar dari setiap dukungan yang diberikan hari ini”. Dari Amerika Serikat, nadanya sama aja. Mereka nyebut deklarasi ini “hadiah buat Hamas”. Dan akhirnya, veto AS bikin resolusi resmi mandek di Dewan Keamanan. Yang bikin miris, fenomena ini sebenernya bukan hal baru. Data nunjukin sejak 1972, Amerika udah lebih dari 40 kali pakai veto buat lindungi Israel. Jadi meski 142 negara sepakat, satu jempol veto Washington bisa bikin semuanya berantakan.

Akademisi hukum internasional, Hadi Purnama, ikut komentar. Menurut dia, walaupun deklarasi ini nggak mengikat secara hukum, bobot politiknya tetap besar banget. “Palestina punya hak merdeka sebagaimana bangsa lain,” ujarnya. Padahal, Deklarasi New York juga jelas-jelas mengecam dua pihak, gak berat sebelah ke Palestina. Hamas dikecam karena serangan 7 Oktober, sementara Israel dikutuk atas bombardir brutal, pengepungan, sampai bikin warga Gaza kelaparan. Intinya: nggak ada pembenaran buat pelanggaran hukum humaniter internasional.

Bagi kami di Gerakan PIS, veto ini bukti betapa rapuhnya keadilan global kalau masih digantungin ke kepentingan negara adidaya. Bayangin aja, lebih dari 140 negara udah teriak kompak, tapi satu veto bisa bikin semuanya sia-sia. Karena itu, kemerdekaan Palestina bukan hadiah, itu hak. Solusi dua negara harus dilihat sebagai jalan realistis. Kalau mayoritas dunia udah mendukung, kenapa kemanusiaan masih kalah sama veto politik?

Kita nggak boleh capek ngingetin. Selama bom masih jatuh di Gaza, perjuangan belum selesai. Buat kita, ini bukan sekadar isu politik luar negeri, ini soal kemanusiaan. Resolusi boleh diveto, tapi suara mayoritas dunia jelas: Palestina berhak merdeka. Solidaritas kita untuk rakyat Palestina!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img