Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia lagi dihujat sama netizen. Dia disebut menyarankan agar mematikan kompor ketika masakan sudah matang. Tapi, apa bener Bahlil ngomong gitu?
Jadi, Bahlil dihujat netizen karena pernyataannya pas lagi melakukan pemantauan langsung kondisi pasokan energi pada 26 Maret. Dalam kesempatan itu, Bahlil menyarankan masyarakat menghemat energi. ”Kalo pake gas LPG, kalo masakannya udah masak jangan kompornya boros,” begitu salah satu cuplikan omongannya Bahlil. Menurutnya, LPG masih impor sekitar 70% dari total kebutuhan energi negara. Bahlil juga menyampaikan bahwa pasokannya sampai beberapa hari ke depan masih dalam kondisi baik.
”Masalah ini tidak hanya masalah pemerintah, tapi masalah kita semua. Saya menyarankan kita harus memakai energi dengan bijak,” kata Bahlil. ”Yang tidak perlu, saya sarankan jangan. Contoh, katakanlah kalo masak pakai LPG, kalo masakannya sudah masak kompornya jangan boros,” tambahnya lagi.
Masalahnya, media Liputan 6 memelintir pernyataan Bahlil dan membuat judul yang sensasional. Judulnya adalah: ”Bahlil Ajak Masyarakat Hemat Gas: Matikan Kompor Kalau Masakan Sudah Matang”. Gara-gara judul inilah netizen ngomel-ngomel ke Bahlil. ”Kocak ni orang. Masa abis masak kompor gak dimatiin?! Nasehat macam apa ini. Rasanya gak yakin ini orang pengambil kebijakan negara,” komen salah satu netizen. ”Nasehat ini ma buat anak tk ya pak menteri. Kalau emak2 mah gak usah di nasehatin pak uda pasti tau lah habis masak kompor dimatiin pak masa di balikin tu kompor,” ujar netizen lainnya.
Sayangnya, judul berita yang dimuat Liputan 6 ditulis ulang oleh banyak media besar, di antaranya Kompas.com. Belakangan, Liputan 6 mengakui ada kesalahan dalam penulisan judul berita tersebut. Menurut Liputan 6, interpretasi jurnalis mereka yang meliput dalam menafsirkan ucapan Bahlil terlalu jauh. Kemudian Liputan 6 mengubah judul berita tersebut menjadi ”Imbauan Menteri ESDM agar Masyarakat Gunakan Energi Secara Bijak.”
Netizen pun mengkritik Liputan 6 dan media lain yang mengutip isi berita itu. Salah satunya @ongkyhojanto. Dia mengkritik Kompas yang seolah ”membunuh karakter Bahlil”. ”Ada penafsiran atau interpretasi dari pernyataan sang narasumber yang dipakai untuk menggiring terbentuknya sebuah opini,” ujar Ongky.
Andai media dan netizen mau membahas lebih substantif soal ketersediaan energi di Indonesia. Just info, Indonesia itu masih sangat bergantung pada impor energi loh. Ketersediaan LPG kita masih mengandalkan impor sebesar ±70%. Dan ini juga sebetulnya sudah disampaikan oleh Bahlil. Itu karena produksi gas dalam negeri nggak cukup untuk kebutuhan rumah tangga, infrastruktur distribusi gas (jaringan pipa) masih terbatas, dan program konversi energi belum masif. Akibatnya negara harus keluarin biaya besar untuk subsidi yang bikin tekanan APBN meningkat karena ketergantungan pada harga global.
Jadi kalo media dan netizen mau membahas soal ketahanan energi kita, ini yang lebih substantif. Apalagi data menunjukkan konsumsi LPG rumah tangga itu mencapai jutaan tabung per hari. Kalau ada efisiensi kecil, katakanlah 5–10%, dampaknya ke impor bisa besar banget secara nasional. Analoginya: satu orang hemat sedikit mungkin nggak kerasa. Tapi kalo yang berhemat itu jumlahnya 270 juta orang, dampaknya gede banget. Jadi saran Bahlil itu: micro action bisa berdampak macro impact.
Dan disinilah pentingnya peran media. Media harus lebih bertanggung jawab untuk mengedukasi publik soal isu ketahanan energi nasional. Bukan menyederhanakan pernyataan pejabat publik yang menimbulkan kesan sensasional. Efeknya bisa bikin persepsi publik melenceng jauh dari maksud aslinya. Sehingga publik jadi cenderung emosional ketimbang rasional dalam memahami pernyataan pejabat publik, dan membuat pejabat itu seolah-olah tidak kompeten. Media memang harus kritis terhadap kebijakan dan pernyataan pejabat publik. Tapi sikap kritis media itu jangan sampai menggiring menjadi opini yang tidak berbasis data dan konteks. Yuk jadi media yang nggak kejar clickbait!


