Pentolan FPI Rizieq Shihab kayaknya lagi cari panggung nehhh. Tiba-tiba dia ikut-ikutan mengkritik Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Kritiknyapun mengada-ngada banget, menyebut Kang Dedi islamophobia, hanya gara-gara Kang Dedi mengganti nama RS Al Ihsan jadi RS Welas Asih.
Ini Rizieq sampaikan saat dia ngisi kajian di Megamendung pada Sabtu, 6 Juli 2025. “Kita tidak katakan Welas Asih itu jelek, tapi ada urusan apa Al Ihsan diganti dengan Welas Asih. Padahal Ihsan itu sudah menjadi bahasa Indonesia,” katanya. Rizieq juga menganggap pergantian nama ini sebagai bentuk pemborosan. Menurutnya, hal itu bertentangan dengan efisiensi yang digalakkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Ia menjelaskan bahwa konsekuensi dari penggantian nama itu di antaranya adalah harus mengganti data di semua urusan administrasi. Belum lagi katanya harus mengubah semua atribut dan plang yang menurut dia membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Makanya FPI sendiri bakal mendesak agar Gubernur Jawa Barat membatalkan keputusan penggantian nama tersebut.
Kuasa hukum FPI Aziz Yanuar juga bilang penggantian nama sangat serampangan dan konyol. “Kami akan kawal dengan surat dahulu ke berbagai instansi. Jika tidak digubris maka kita sangat pertimbangkan untuk aksi,” ujarnya. Aziz bilang, kalo emang alasan Kang Dedi mengganti nama itu bentuk kearifan lokal, maka Dedi juga harus mengganti setiap nama yang mengandung unsur selain Sunda. Dia mencontohkan nama jalan Pasteur, RSUP Immanuel Pasirkaliki, atau bahkan penyebutan Gubernur yang juga diambil dari bahasa Inggris. “Kalau seperti itu, berarti hal itu justru yang merusak tatanan kearifan lokal,” ujar dia.
Kang Dedi mengganti nama RSUD Al Ihsan di Bandung, Jawa Barat, jadi RSUD Welas Asih pada 19 Juni lalu. Ini dilakukannya agar ada citra baru RSUD jadi lebih kedaerahan. “Lebih dekat dengan kalimat-kalimat dan lebih bisa dipahami oleh masyarakat,” ujarnya. KDM juga mastiin perubahan ini akan dibarengi dengan peningkatan kualitas pelayanan dan penambahan fasilitas medis setaraf dengan RS Hasan Sadikin Bandung. Menurut Dedi, nama Welas Asih dipilih karena lebih mencerminkan karakter masyarakat Jawa Barat.
Dengan penggunaan nama yang lebih dekat dengan bahasa masyarakat setempat, Kang Dedi berharap identitas rumah sakit menjadi lebih mudah diingat. Kritik Rizieq ini berlebihan banget. Islamfobia itu merujuk pada kondisi di mana Muslim secara sistematis diserang, didiskriminasi, atau dijauhkan dari ruang publik. Nah, yang dilakukan Kang Dedi hanya perubahan nama rumah sakit, bukan penghapusan masjid, pelarangan jilbab, apalagi kriminalisasi syariat. Lagian, Kang Dedi sendiri pastiin perubahan nama tidak memiliki implikasi anggaran. Menurutnya, penamaan hanya sebatas kebijakan administratif yang tidak berkaitan dengan pengeluaran biaya daerah.
Nah soal kenapa tidak sekalian mengganti istilah Gubernur, Jalan Pasteur, dan RS Immanuel. Ini jelas logical fallacy alias kecacatan logika. Pasteur adalah nama ilmuwan, bukan simbol agama dan dipakai secara historis untuk menghormati kontribusi sains, bukan buat nyebarin ideologi asing. RS Immanuel itu swasta dengan akar sejarah Kristen, bukan fasilitas publik milik pemerintah yang tiba-tiba diganti dari lokal ke agama tertentu. “Gubernur” itu istilah administrasi universal, asalnya dari governor, dan digunakan di seluruh dunia. Bukan simbol budaya asing yang ditanam di tanah Sunda.
Kayaknya emang Rizieq lagi cari panggung aja. Karena itu gak usahlah disikapi dengan serius. Kang Dedi, terus fokuslah bekerja, perbaiki terus Jawa Barat!


