Sedih banget deh nasib jenazah aktivis transgender di New York satu ini. Pemakamannya dikecam pihak gereja dan beberapa komunitas katolik. Cuma lantaran dia seorang atheis dan LGBT. Aktivis transgender itu bernama Cecilia Gentili. Dia juga aktif memberdayakan pekerja seks dan orang dengan HIV.
Gentili mendirikan Klinik Cecilia’s Occupational Inclusion Network. Klinik itu menyediakan pelayanan kesehatan gratis bagi pekerja seks di New York. Selain aktivis, Gentili seorang atheis. Tapi dia mengaku selalu melantunkan doa dan pengharapan kepada Tuhan. Pada 6 Februari lalu, keluarganya mengumumkan kematian aktivis itu lewat akun Instagram Gentili.
Ketenarannya sebagai ikon transgender di New York, membuat keluarga menginginkan pemakaman Gentili dilaksanakan di Katedral St. Patrick. Katedral itu memang dikenal menjadi tempat pemakaman banyak warga New York terkemuka. Tapi karena Gentili seorang atheis dan transgender, keluarga menutupi identitas aslinya. Pemakaman itu berhasil diadakan dan dihadiri lebih dari seribu orang.
Pidato dalam pemakaman itu Gentili dikenang sebagai ‘Santo Cecilia, ibu dari semua pelacur’. Mengetahui hal ini, Pendeta St Patrick, Enrique Salvo marah dan merasa tertipu.
“Katedral hanya mengetahui bahwa keluarga dan teman-teman meminta diadakannya misa pemakaman bagi seorang Katolik,” ucapnya.
“Dan tidak menyangka sambutan dan doa kami akan direndahkan dengan cara yang tidak senonoh dan menipu,” lanjutnya.
Penolakan ini juga datang dari beberapa kelompok konservatif, salah satunya Catholic Vote. Mereka menilai penampilan Billy Porter di pemakaman Gentili dianggap sebagai ejekan terhadap doa ‘Bapa Kami’. Mereka juga mengecam pernyataan pendeta Katolik di pemakaman itu yang menyebut Gentili sebagai perempuan. Di lain sisi, banyak umat paroki katedral itu yang menilai hal ini adalah suatu kebaikan. Itu karena Katedral St. Patrick jadi tuan rumah pemakaman seorang transgender untuk pertama kalinya.
Duh sedih banget ya. Diskriminasi terhadap kaum LGBT masih terjadi secara nyata di lingkungan sekitar kita. Bahkan di New York yang dikenal sebagai kota maju dan kosmopolit. Kita nggak harus setuju dengan pandangan dan gaya hidup kaum LGBT. Tapi kita nggak dibenarkan jika menghalang-halangi mereka untuk mendapatkan hak-hak dasar mereka.
Semoga diskriminasi terhadap kaum LGBT nggak terulang lagi ya. Yuk, lawan diskriminasi terhadap LGBT!


