Pendakwah Ini Klaim Jasa 4 Habib dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia

Published:

Lagi-lagi overclaim jasa habib dalam sejarah kemerdekaan Indonesia digaungkan lagi nih. Yang melakukannya seorang penceramah bernama Habib Ali Bin Zindan. Ini terlihat dalam sebuah potongan video yang diposting akun Tiktok @kawika.id. Di video tersebut Zindan menyampaikan berbagai peran habib dalam lahirnya simbol-simbol penting negara. Antara lain keputusan wajib pasang bendera Merah Putih, pemilihan warna Merah Putih, perancang lambang Garuda, sampai pencipta lagu 17 Agustus dan Syukur.

“Setiap tanggal 17 Agustus wajib pasang bendera merah putih di rumah-rumah kalian. Siapa yang nyuruh? Itu fatwa Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi Kwitang”, ucap pendakwah itu. “Bendera merah putih, siapa yang memberikan instruksi kepada Bung Karno untuk membuat bendera merah putih sebagai bendera Indonesia?” tanyanya. “Itu adalah fatwa al-Habib Idrus bin Salim Al-Jufri, Palu”, jawabnya. “Lambang negara Garuda. Siapa yang buat? Al-Habib al-Syarif Hamid Alqadrie dari Pontianak. Keluarga Baginda Nabi Muhammad”, lanjutnya lagi. “Lagu 17 Agustus. Pramuka. Lagu Syukur. Siapa yang buat? Al-Habib Hussein al-Mutohar dari Semarang. Duriat Baginda Nabi Muhammad.” Di akhir videonya dia lalu bilang, “Jangan berpikir habaib di Indonesia jasanya apa? Banyak. Itu yang baru tercatat, yang baru ketahuan”.

Nah, masalahnya, kalau klaim-klaim itu dicek satu per satu, ternyata nggak semuanya punya dasar sejarah yang sama kuat. Ada yang memang sudah menjadi fakta yang diakui luas. Tapi ada juga yang sampai hari ini masih berupa narasi yang diperdebatkan dan belum didukung bukti sejarah yang memadai.

Contohnya, peran Sultan Syarif Hamid II dalam perancangan Garuda Pancasila memang merupakan fakta sejarah yang banyak diterima. Husein Mutahar juga memang dikenal sebagai pencipta lagu Hari Merdeka dan Syukur serta tokoh penting Paskibraka. Nah, penyebutan ‘habib’ untuk dua tokoh ini juga perlu dilihat lebih hati-hati. Dalam historiografi Indonesia, Sultan Syarif Hamid II misalnya, lebih dikenal sebagai tokoh Kesultanan Pontianak dan perancang Garuda Pancasila, bukan sebagai habib. Husein Mutahar juga selama ini dikenal sebagai pencipta lagu Hari Merdeka dan Syukur serta tokoh penting Paskibraka, bukan dengan sebutan habib.

Ini penting, karena dalam tradisi Indonesia, kata ‘habib’ umumnya merujuk pada keturunan Nabi Muhammad. Tetapi dalam sebagian konteks sosial, penyebutan itu juga bisa menjadi bentuk penghormatan. Karena itu, perlu dibedakan mana yang memang didukung riwayat nasab yang jelas dan mana yang sekadar penyebutan yang berkembang di masyarakat.

Berbeda dengan dua nama sebelumnya, klaim tentang fatwa Habib Ali soal wajib pasang bendera Merah Putih dan bisikan Habib Idrus untuk Bung Karno buat Merah Putih justru masih diperdebatkan. Dua jasa tokoh itu sampai sekarang belum ada konsensus kuat dalam historiografi Indonesia. Bukti yang beredar lebih banyak berasal dari tradisi lisan dan narasi komunitas, bukan dokumen sejarah primer yang sudah mapan. Karena itu, sejumlah tokoh juga memberikan bantahan. Di waktu yang berbeda, Mahfud MD juga pernah membantah narasi bahwa ada habib yang membisikkan Bung Karno dalam proses kemerdekaan. “Enggak pernah ada di dalam sejarah”, ujar Mahfud. Menurutnya, perjuangan kemerdekaan adalah perjuangan bangsa Indonesia secara kolektif. Dia juga mengatakan, “Bahwa ada habib membantu, ya bisa saja. Kan bukan hanya habib yang membantu”.

Pandangan serupa juga disampaikan Rhoma Irama dalam salah satu episode Bisikan Rhoma. Bersama sejarawan Anhar Gonggong, dia membahas berbagai klaim habib dalam sejarah Indonesia. Anhar Gonggong bahkan menegaskan bahwa penilaian sejarah harus didasarkan pada sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Baginya, kalau sebuah klaim tidak memiliki dasar dokumentasi yang jelas, maka masyarakat berhak bersikap kritis dan tidak langsung menerimanya sebagai fakta.

Kami di Gerakan PIS jelas menghormati kontribusi para habib dan komunitas Arab-Hadrami dalam perjalanan bangsa Indonesia. Tidak bisa dipungkiri banyak tokoh keturunan Arab yang berjasa di bidang pendidikan, dakwah, perjuangan kemerdekaan, kebudayaan, hingga pemerintahan. Menghapus atau menafikan jasa mereka tentu juga tidak adil. Tapi di sisi lain, jasa sejarah juga tidak boleh di-overclaim. Indonesia tidak dibangun oleh satu suku, satu agama, satu organisasi, atau satu garis keturunan. Kemerdekaan adalah hasil gotong royong ribuan orang dari berbagai latar belakang. Mulai dari ulama, nasionalis, santri, kaum adat, perempuan, pemuda, masyarakat Tionghoa, Arab, India, dan berbagai etnis Nusantara lainnya.

Karena itu, setiap klaim sejarah seharusnya bisa diverifikasi. Tradisi lisan dan cerita turun-temurun tentu layak dihormati sebagai bagian dari warisan budaya tapi jangan langsung dianggap sebagai fakta sejarah yang pasti. Apalagi kalau tidak disertai bukti yang memadai. Pada akhirnya, yang perlu dijaga bukan hanya kebanggaan terhadap satu kelompok, tetapi kebanggaan terhadap Indonesia itu sendiri. Karena bangsa ini menjadi besar bukan karena peran oleh satu kelompok, tapi karena peran banyak orang yang ikut membangunnya. Yukk tetap kritis saat menerima informasi!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img