Politisi PDIP Ini Sebel Megawati Jadi Serangan di Ruang Digital, Apa Kabar Prabowo?

Published:

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri lagi baper soal serangan hoaks yang katanya nyerang dia secara masif. Pernyataan ini disampaikan politisi PDIP, Muhammad Guntur Romli. Hal ini diangkat lagi sama kreator konten Silvia Tan di video TikTok-nya tanggal 6 November kemarin.

Silvia ngerespons pernyataan Guntur yang bilang serangan ke Bu Mega itu Terstruktur, Sistematis, dan Masif alias TSM. Silvia nulis caption di videonya lumayan nyentil: “MENYALA JENDERAL BUZZER PDIP 🔥🔥🔥🔥”. “Katanya 3 ribuan buzzer nyerang mamaknya per minggu,” ujar Silvia.

Ia juga ngutip omongan Guntur yang bilang serangan itu udah masuk level pembunuhan karakter terhadap Bu Mega dan PDIP. Tapi Silvia bandingin sama serangan yang diterima Prabowo Subianto. “Kalau katanya 3 ribu per minggu tuh udah TSM, terus gimana sama Presiden kita?” ujarnya.

Silvia nampilin data dari Reportica Media Group soal mention negatif terhadap Prabowo. Katanya, selama Agustus aja Pak Prabowo dapet lebih dari 190 ribu mention negatif per bulan. Kalau dibagi harian, artinya sekitar 6 ribuan serangan per hari. Jadi kalau seminggu ya sekitar 42 ribu sepekan—jauh banget dibanding angka 3 ribu tadi.

Di Kompas TV (4 November), Guntur bilang serangan ke Bu Mega ini terorganisir dan profesional. Ia nyebut ada upaya sistematis buat “membunuh karakter” Megawati dan PDIP. Termasuk hoaks di TikTok yang katanya nyerang nama Presiden Soekarno. Karena itu, Bu Mega sempat minta Pak Prabowo menertibkan buzzer yang nyebar kebohongan.

Tapi lucunya, kalau liat data dari beberapa lembaga analisis media justru serangan ke Pak Prabowo jauh lebih masif. Lembaga itu di antaranya Drone Emprit, Katadata Insight, dan PoliticaWave. Di masa kampanye 2024 (Oktober 2023–Februari 2024), akun yang bahas Prabowo di X dan TikTok bisa tembus 200–300 ribu mention per hari. Dari angka itu, sekitar 15–25% isinya negatif.

Artinya tiap hari ada 30–60 ribu konten negatif soal Pak Prabowo. Kalau dikali 5 bulan masa kampanye, bisa lebih dari 5 juta postingan negatif. Bentuknya macam-macam—mulai dari kritik pedas, meme nyinyir, sampai hoaks dan fitnah. Riset beberapa jurnal juga nemuin komentar kebencian di postingan Pak Prabowo rata-rata 15–25% dari total komentar.

Di Instagram misalnya, ribuan komentar per post yang masuk, jumlah komentar negatifnya bisa ratusan ribu selama setahun. Jadi kalau ditotal, selama masa politik aktif, serangan ke Pak Prabowo bisa tembus 5–6 juta konten negatif. Sedangkan Bu Mega diperkirakan sekitar 500 ribuan konten negatif. Jadi, kalau mau ngomong siapa yang paling banyak diserang, ya datanya cukup jelas Pak Prabowo jauh lebih banyak.

Belum lagi komentar negatif yang menyerang Pak Jokowi ketika dia masih berkuasa selama 10 tahun maupun setahun setelah dia tidak menjabat lagi sebagai presiden. Memang belum ada empirik yang menghitung berapa jumlah komentar negatif terhadap Pak Jokowi selama masa itu. Tapi hampir bisa dipastikan komentar negatif itu melebihi komentar negatif yang diterima Bu Mega seperti yang diklaim Guntur.

Ini sebetulnya bukan soal siapa pemimpin negara ini yang paling banyak diserang. Tapi soal betapa kacaunya ruang digital kita yang udah penuh disinformasi. Kritik dalam negara demokrasi tentu dibolehkan. Kritik juga akan terus menyehatkan demokrasi.

Tapi kritik berbeda dengan hoaks dan disinformasi yang memang merusak demokrasi dan kepercayaan publik terhadap kebenaran. Sebagian pihak sekarang menganggap dunia digital udah jadi medan penyebaran hoax dan disinformasi. Pada satu sisi kami di PIS mengamini anggapan itu. Tapi kita harus tetap mengembalikan dunia digital kita menjadi ruang diskusi yang sehat. Yuk jaga ruang digital kita agar tetap sehat dan edukatif!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img