Masih inget sama aksi 212 yang dimotori Rizieq Shihab di tahun 2016? Itu adalah salah satu demo terbesar di sejarah Indonesia modern. Massa waktu itu nutup jalan dari Monas sampai Sudirman–Thamrin. Tuntutannya satu: penindakan dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI saat itu, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
Nah, tahun ini rencananya bakal ada lagi Reuni Akbar 212 di kawasan Monas, Jakarta Pusat, tanggal 2 Desember 2025. Temanya, “Revolusi Akhlak untuk Selamatkan NKRI dari Penjahat dan Merdekakan Palestina dari Penjajah”. Ketua Steering Committee, Ahmad Shobri Lubis, bilang reuni ini tujuannya buat nguatin persatuan umat, sama kayak semangat Aksi Bela Islam 2016 dulu.
Acaranya bakal dimulai dengan salat Magrib berjamaah, lanjut dzikir, doa bareng, sampai tausiyah dari para ulama. Panitia juga kabarnya mengundang Presiden Prabowo Subianto, para menteri, dan pejabat negara lainnya. Dan tentu aja, Rizieq Shihab dijadwalkan hadir sebagai tokoh sentral. Panitia berharap acara ini jadi ajang “kebersamaan” antara pemerintah (umaro) dan umat.
Netizen pun ramai-ramai berkomentar negatif. “Kalo mau reuni di gedung aja, ngapain di jalan, udah macet malah nambah macet” tulis seorang netizen. “Biar apa reuni reuni? Lulus aja kagak maen reuni-reunian” tulis netizen lain. “Sudah kehilangan momentum, udah jauh banget” tulis yang lain.
Buat ngerti ini semua, kita harus balik ke titik awal, aksi 2 Desember 2016 yang dipimpin FPI dan Rizieq Shihab. Aksi itu ngubah arah Pilkada Jakarta 2017. Ahok kalah, Anies Baswedan menang dengan dukungan kelompok pemobilisasi aksi. Artinya? 212 bukan sekadar gerakan keagamaan. Itu mesin politik yang terbukti ampuh secara elektoral.
Sejak itu, reuni 212 digelar hampir tiap tahun. Tujuannya bukan cuma nostalgia, tapi merawat ingatan kolektif soal kekuatan politik yang pernah mereka tunjukkan. Tiap Reuni 212 digelar, publik kayak dilempar balik ke era 2016–2017. Era ketika politik dijalankan bukan pakai ide atau program, tapi pakai rasa marah, takut, dan sentimen agama. Mereka percaya “spirit 212” masih bisa hidup dan dimanfaatkan lagi.
Dan dalam aksi ini, Rizieq kembali jadi tokoh sentral. Rizieq dikenal dengan gagasan “NKRI Bersyariah.” Tapi namanya juga nggak lepas dari berbagai kasus. Mulai dari kerumunan pandemi sampai kasus chat “mesum” yang viral. Jadi ketika dia nantinya akan ngomong soal moral dan “revolusi akhlak,” wajar publik mikir: “Hmm.. Yakin nih?”
Yang paling menarik (atau ironis), tahun ini isu Palestina diangkat lagi jadi bagian tema. Kedengeran heroik, tapi ini sebenarnya bukan hal baru. Isu Palestina sudah lama dipakai buat mobilisasi emosi massa di Indonesia. Masalahnya, dukungan ini gak pernah berupa langkah konkret. Yang ada cuma slogan, bendera, dan retorika. Palestina keliatan kayak hiasan moral biar gerakan keliatan suci dan besar.
Padahal kalau mau bantu beneran, caranya jelas: diplomasi, bantuan kemanusiaan, pendidikan, dan advokasi—bukan cuma orasi tahunan. Isu kemanusiaan sebesar itu seharusnya tidak diseret dalam panggung politik identitas. Jadi kesannya kayak, mereka pake isu palestina cuma buat raih dukungan aja.
Kritik terhadap Reuni 212 bukan berarti anti Islam, anti ulama, atau apapun. Kritik ini lebih ke penggunaan agama sebagai alat politik dan pemeliharaan sentimen SARA demi membangun kekuatan politik. Menurut anda gimana? Coba komen di bawah ya!


