Pernah dengan nama Channel Edis TV? Channel ini sering banget merendahkan ajaran Islam. Itu kan bisa mengganggu rasa kebersamaan di antara umat beragama. Sosok di balik Edis TV bernama Edis Sidabutar. Dia sering tampil live di YouTube, mendebat orang Islam, bahkan merendahkan ajaran Islam. Salah satu videonya berjudul: “Islam satu-satunya agama yang nggak jelas identitasnya”. Dalam video itu tampak dia ngobrol dengan laki-laki berpeci yang menjelaskan lambang Islam. Edis mendengarkan penjelasan itu sambil tertawa-tawa. Dia juga memposting konten-kontennya lain yang judulnya nggak kalah kontroversial. Di antaranya, “Ajaran-ajaran Lucu Muhammad”, “Yesus Naik ke Sorga, Muhammad di mana”.
Konten-konten Edis TV yang menyerang Islam itu dikritik Pendeta Deky Nggadas. Menurut Pendeta Deky, sebagian orang Kristen yang mendukung Edis bukan karena konten-kontennya sesuai dengan iman Kristen. Tapi karena mereka senang melihat Edis menyerang agama lain, terutama Islam. Fenomena ini disebut Pendeta Deky sebagai “mentalitas algoritma”. Zaman sekarang, katanya, siapa saja bisa cepat terkenal kalau pandai memanfaatkan media sosial. Asal pintar bicara, jago memainkan isu, dan tahu apa yang disukai algoritma, popularitas bisa datang dengan mudah, katanya. Sayangnya, banyak orang akhirnya lebih percaya pada yang viral daripada kebenaran firman.
Ternyata, bukan ajaran Islam yang diserang Edis TV. Ajaran Kristen juga diserangnya. Channel itu pernah bilang orang Kristen yang percaya Yesus Kristus disalib bakal masuk neraka. Dia juga bilang penyaliban Yesus bukan karya keselamatan Allah, tapi rencana Iblis. Kalau Allah merancang penyaliban, menurutnya, berarti Allah sengaja membuat skenario pembunuhan Putra-Nya. Baginya, hal itu tidak masuk akal dan bertentangan dengan sifat Allah yang penuh kasih. Dia menyimpulkan penyaliban adalah pekerjaan Iblis yang “menggerakkan” manusia. Menurutnya, salib bukan sebagai simbol kemenangan iman, tapi tanda keberhasilan Iblis.
Pandangan Edis soal penyaliban Yesus ini perlu diluruskan. Benar Allah mengizinkan Yesus disalibkan. Tapi itu bukan karena Allah kejam pada Anak-Nya. Justru di situlah kasih Allah nyata: rela mengorbankan Anak-Nya demi menebus manusia (Yohanes 3:16). Penyaliban memang terlihat sebagai tragedi besar. Tapi dalam iman Kristen, salib justru menjadi tanda kemenangan. Dosa dihapus, maut dipatahkan, dan jalan keselamatan terbuka.
Kembali ke soal Edis TV. Bagi kami, Edis TV itu sebelas-duabelas dengan Zakir Naik. Edis TV merendahkan ajaran Islam, sedangkan Zakir merendahkan ajaran Kristen. Ceramah atau konten dua orang itu jelas merusak kebersamaan antarumat beragama. Masalahnya, dua orang itu nggak sedikit penggemarnya. Zakir dianggap sebagai figur yang lantang menunjukkan keunggulan Islam dibanding agama-agama lainnya. Sebaliknya, Edis dianggap sosok yang berani merendahkan ajaran Islam di negara mayoritas Muslim.
Kita nggak perlu laporin Edis ke polisi pakai tuduhan penistaan agama. Nggak perlu. Cukup bagi kita jangan beri ruang buat dua orang ini. Ajak siapapun yang kita kenal untuk menyikapi dengan kritis apa yang disampaikan Edis dan Zakir. Ceramah atau konten dua orang itu jangan ditelan mentah-mentah. Kita pernah melihat bagaimana konflik berdarah pernah terjadi di beberapa wilayah di Indonesia karena provokasi agama. Kita nggak mau itu terulang lagi. Yang kita butuhkan adalah kerjasama antar umat beragama. Demi Indonesia yang sejahtera dan untuk semua umat agama. Yuk, jangan beri ruang provokasi agama!


